A Sudden Pop-up
Bella sangat terkejut saat melihat orang yang berada di dalam photocard tersebut muncul di hadapannya. Eric yang sangat diidolakan oleh Bella berdiri di depan lemari yang berada di kamar Bella.
“Hah! Kok.. Eric….ini beneran Eric?” tanya Bella kebingungan sekaligus kaget dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Eh ini saya di mana ya? Kamu siapa?” tanya Eric.
“Saya beli photocard kamu.. saya bingung kok kamu bisa keluar dari kertas saya. Saya fans kamu.” jawab Bella.
“Yaudah lah lupain aja. Nama kamu siapa?” tanya Eric.
“Hah lupain gimana? Namaku Bella.”
“Anggep aja gue lagi nyasar. Ini boleh kan ngomong pake informal?” Eric duduk di sofa yang berada di kamar Bella.
“Boleh.. by the way lo gak dicariin? Coba hubungin keluarga lo atau member yang lain mungkin?” ucap Bella.
Eric tak memedulikan omongan Bella. Besok adalah hari libur bagi Eric dan member lainnya, jadi ia bebas untuk pergi kemana saja.
“Lo umur berapa? Eh.. sorry gak sopan ya gue.. eh.. saya nanya umur.” ucap Eric.
“Aku umur 21”
“Wah! Seumur dong kita..yaudah ngomongnya informal aja ya. Mulai sekarang kita berteman yaa! Mau gak?”
“Mauuu!” jawab Bella.
Bella berinisiatif mengambil camilan untuk Eric, siapa tahu Eric sedang lapar pikirnya.
“Nih ada snacks, mau gak?” Bella menyodorkan snacks ke Eric.
“Mau, makasih yaa!”
“Lo kok bisa keluar dari photocard gue sih?” Bella masih terheran.
“Gue juga gak tau. Emangnya tadi kertasnya lo apain?”
“Gue elus-elus. Abisnya kertasnya ganteng banget.” jawab Bella.
“Pas lo liat gue secara langsung sekarang, ganteng gak? Pasti lah ya gak sih?” Eric dengan percaya diri berkata seperti itu.
“Ih kepedean deh lo. Hahahaha bercanda.. Iya ganteng kok.. ganteng banget malah.” jawab Bella.
“Coba lo elus-elus lagi kertasnya.” suruh Eric.
Bella mengikuti perintah Eric untuk mengelus kertas gambar muka Eric tersebut.
“Lah ilang dia.” ucap Bella. Eric benar-benar menghilang saat Bella mengelus kertasnya.
“Aneh banget.” batin Bella.
Bella mencoba mengelus-elus photocard tersebut kembali. Tiba-tiba ia mendengar kembali suara Eric.
“Hey Bella.. berarti gua bisa main kesini setiap hari dong? Kan cara gue pulang tinggal dielus-elus aja kertasnya.” ucap Eric.
“Hahahaha seriusan mau main kesini setiap hari?”
“Iyaa.. kan lumayan gue punya temen baru. Cantik lagi temen baru gue.” ucap Eric.
“Hehe apaan sih lo, biasa aja kali. Lo tuh yang ganteng.” ucap Bella.
“Bel, elus-elus kertasnya jangan setiap saat ya. Nanti kalo gua lagi kumpul bareng member lain terus gua tiba-tiba ilang kan gak lucu.”
“Iyaaa Eric.”
Eric sebenarnya masih terheran mengapa hal ini bisa terjadi, Bella pun juga. Tetapi mereka pikir, hal ini bukan hal yang buruk. Bella terus menerus berbicara dalam hatinya. Ia merasa sangat amat senang karena ia bisa berteman dengan idolanya sendiri. Eric pun juga merasa senang karena ia bisa mendapatkan teman baru yang ramah dan seru seperti Bella.
Hari demi hari berlalu, Eric dan Bella terus berteman dan bermain bersama layaknya sahabat yang selalu ada untuk satu sama lain. Hingga sudah sekian lama mereka berteman, Bella masih belum mempercayai bahwa hal tersebut benar-benar terjadi. Pikir Bella, ia tak akan pernah jatuh hati kepada Eric, namun ternyata dugaan Bella salah. Ia sebenarnya berharap bahwa hubungannya dengan Eric bisa lebih dari hanya sebatas sahabat.
-chae