Daren dan Keira baru saja sampai di Play4Music Studio, tempat yang biasa digunakan oleh Daren, Nathan, dan Jetro untuk ngeband.
“Eh Ren udah sampe lo… halo, Keira?” ucap Jetro sambil menyapa Daren dan Keira yang baru saja sampai dengan nada bertanya.
“Halo juga Kak Jetro, Hai Nathan.” ucap Keira.
“Halo, Kei.” sapa Nathan.
“Kei, lo duduk di situ aja sambil liat kita ngeband. Lo mau request lagu gak?” ucap Daren.
“Lagu ballad mau?” tanya Jetro.
“Ih jangan ballad, nanti gue makin sedih. Yang ceria gitu kek lagunya.” ucap Keira.
“Oke oke.”
Alunan musik yang ceria yang dibawakan oleh Daren dan juga teman-temannya membuat mood Keira kembali bagus. Keira ikut bernyanyi dan tersenyum ceria seperti sedang menonton konser. Tak sadar, 2 jam sudah terlewati. Suara Daren terdengar sudah serak. Tangan Nathan dan Jetro yang seharusnya sudah pegal karena memainkan piano dan juga gitar pun tak pegal. Mereka sudah sering sekali berlatih bersama. Sedangkan Daren, ia jarang untuk latihan bernyanyi di rumah. Tetapi sungguh heran, suara Daren masih saja merdu.
“Guys, gua cabut duluan ya. Ada urusan.” ucap Jetro.
“Okee byee.”
“Kalian juga pulang?” tanya Nathan kepada Daren dan Keira.
“Engga. Ini mau ajak Keira jalan-jalan dulu.” jawab Daren.
“Ohh..”
“Mau ikut?” Daren menawarkan.
“Emang boleh?” tanya Nathan.
“Tanya Keira aja.”
“Boleh aja kok, kalau mau.”
“Yaudah gue ikut.”
Daren, Keira, dan Nathan pergi ke taman dekat studio untuk mencari udara segar. Keira dan Daren berangkat naik mobil, sedangkan Nathan mengendarai motor sport miliknya. Di taman tersebut juga ada gerai minuman seperti jus, teh, kopi, milkshake, dan lain-lain.
“Mau pesen apa, Kei?” Daren menawarkan.
“Jus mangga aja.”
“Traktir gua juga napa, Ren hehehehe.” ucap Nathan.
“Hahaha dasar.. yaudah mau apa?”
“Chocolate milkshake aja.”
“Nih minumannya.”
“Thanks, Ren.”
“Makasihh kak.”
Keira meminum jus mangganya sambil menikmati angin berhembus yang membuat udaranya sejuk.
“Gimana, Kei? Udah mendingan?” tanya Daren.
“Udah banget kak. Makasih ya udah ngajak gue ikut kalian ngeband sama jalan-jalan juga.” ucap Keira.
Tiba-tiba ada suara telepon berdering. Ternyata Papanya Oliv menelpon Daren. “Tunggu guys, ada telpon dari bokap.”
Nathan dan Keira yang ditinggal berdua oleh Daren yang sedang menerima telepon hanya diam saja tanpa saling mengobrol. “Kei.” panggil Nathan. Keira menoleh ke arah Nathan. Sebelum Keira merespon panggilan dari Nathan, Daren sudah keburu datang.
“Eh guys, kayaknya gue harus pergi deh. Papa nyuruh gue bantuin kerjaannya.” ucap Daren.
“Terus gue gimana?” tanya Keira.
“Lo masih mau di sini atau mau ikut pulang aja?” tanya Daren.
“Masih mau di sini sebenernya.” ucap Keira.
“Gue aja yang nungguin Keira.” ucap Nathan.
“Oh ya udah. Kei, lo sama Nathan ya nanti baliknya.” ucap Daren.
“Oke oke. Hati-hati di jalan ya, Kak.”
————————————————————
“Tadi kenapa, Than?” tanya Keira.
“Mau nanya sih sebenernya, tapi gak enak.”
“Kata Kak Daren lo orangnya to the point, jadi tanya aja ke gue.”
“Ya gue to the point juga tetep punya manners kali.” ucap Nathan.
“Iya-iya.. yaudah mau nanya apa?”
“Lo kenapa sedih? Karna Farrel? Lo berantem sama dia?” tanya Nathan.
“Bukan gara gara itu. Gue sedih karena nyokap gue. Dokter bilang hidup nyokap gue gak lama lagi. Nyokap gue sakit kanker, Than.” ucap Keira.
“Sorry ya, gue gak tahu.”
“Gak papa.. gue gak punya siapa-siapa lagi selain nyokap gue. Bokap gue udah gak ada dan gue juga gak punya Kakak atau Adik. Sekarang, emang bener gue seakan-akan punya banyak orang yang selalu ada buat gue kayak Kak Daren, Oliv, Papanya Oliv, dan Farrel. Tapi, semuanya cuma sementara. Apalagi, lo tau sendiri gue udah ngebohongin semua orang. Eh, sorry. Too much information banget gak sih hehe.”
“Gak papa, Kei. Seneng kok dengerin lo cerita. Kalo lo gak punya tempat cerita, bisa cerita ke gue kok. Gue gak masalah.” ucap Nathan.
“Makasih yaa.”
“By the way mau tukeran nomor hp gak?” tanya Nathan.
“Boleh aja. Sini mana hp lo.” Keira menambahkan nomor teleponnya di Hp Nathan.
“Udah gue save ya nomor gue di Hp lo. Coba missed call buat ngetes doang. Biar gue bisa save nomor lo juga.” ucap Keira.
“Udah tuh.”
“Sip.”
“Mau pulang sekarang gak?” tanya Nathan.
“Yaudah deh yuk, matahari udah mau terbenam juga.”
Nathan mengantar Keira pulang menggunakan motor sport miliknya. Mereka pun sampai dengan selamat di rumah Oliv pas saat matahari baru saja terbenam.