Di Rumah Farrel
“Halo Om Wira, saya Oliv.”
“Halo Oliv, apa kabar kamu?”
“Sehat Om.. Om sendiri gimana kabarnya? Sehat?” jawab Keira
“Sehat nak..”
“Wira! Apa kabar lu, udah lama gak ketemu kita.” ucap Jerry, Papanya Oliv.
“Baik, Jer. Ini pempeknya. 10 bungkus kan?”
“Iyaaa.”
“Nih nak, nanti kita goreng pempeknya di rumah.” ucap Jerry kepada Keira.
“Hah digoreng semua pah? 10 bungkus?” Keira bertanya balik.
“Ya engga dong, nak. 7 bungkus mau Papa kasih ke karyawan Papa.”
“Rel, Oliv, Jer sini duduk.” panggil Wira menyuruh Farrel, Oliv, dan Papanya Oliv untuk duduk di meja makan untuk makan siang.
“Ayo dicicip makanannya.” ucap Wira.
“Enak Om makanannya.” ucap Keira.
“Wah syukurlah.”
“Iya nih Wir, enak. Lu masak?”
“Engga. Itu tadi beli di restoran depan komplek.”
“Hahahaha Ayahhh.” Farrel tertawa terbahak-bahak.
Suasananya tidak canggung sama sekali. Awalnya, Farrel kira suasananya akan menjadi canggung karena itulah pertama kalinya Oliv bertemu dengan Ayahnya, pikirnya. Tetapi, dirinya tak menyangka bahwa Oliv pintar membawa suasana menjadi tidak canggung dengan bersikap ramah menanyakan bagaimana kabar Ayahnya dan sebagainya.
“Oke karena sudah abis semua makanannya, saya.. eh Om.. eh Ayah.. eh apa dong bilangnya…” ucap Wira.
“Udah pake saya aja..” ucap Jerry.
“Oke.. Saya mau bicarain soal perjodohan antara Farrel dan Oliv.”
“Oliv dan Farrel apa kalian siap untuk menikah 2 minggu lagi?”
“Maaf Om sebelumnya, tapi kenapa langsung buru-buru nikah ya? Emangnya ada apa? Bukan berkaitan dengan bisnis gitu kan?” ucap Keira.
“Bukan kok nak Oliv..”
“Saya melihat Farrel dan kamu sudah cukup dekat dan sepertinya kalian nyaman dengan satu sama lain kan? Terus juga saya ingin melihat Farrel cepat menikah agar saya bisa memberi warisan perusahaan saya ke Farrel. Intinya sih, saya mau melihat Farrel bahagia bersama orang yang ia sayangi.” jawab Wira.
“Apa ada penolakan untuk menikah 2 minggu lagi? Jika gak ada, yaudah kalian siap-siap dari sekarang ya pilih gedung, kostum pernikahan, design, dan semuanya ya.” ucap Jerry.
Keira dan Farrel pun terdiam. Keira tak bisa menjawab apa-apa. Dirinya sadar diri bahwa ia tak mempunyai hak untuk memutuskan apa-apa. Dirinya adalah Keira, bukan Oliv. Farrel pun hanya terdiam karena ia sudah pernah berkata kepada Keira bahwa ia tak mempunyai alasan untuk menolak perjodohan ini.