“Eh, Farrel?” panggil Daren yang baru saja keluar dari lift.

“Eh Daren. Belum pulang?” Farrel memanggil Daren tanpa sebutan kak karena mereka seumur, beda bulan saja. Sama seperti perbedaan umur Daren dan Oliv.

“Ini baru mau pulang. Tadi Papa sama K— Oliv pulang duluan.” Hampir saja Daren keceplosan mengucap nama Keira.

“Lo sendiri belum pulang?” tanya Daren.

“Belum, bokap gue masih di kamarnya. Sebentar lagi turun katanya.” jawab Farrel.

“Oh gitu. Eh rel, gue mau nanya sesuatu, boleh?” ucap Daren.

“Boleh banget, kenapa?”

“Lo beneran sayang ya sama Oliv? Sorry baru nanya nanya sekarang. Kita selama ketemu belum pernah ngobrol banyak kan soalnya.”

“Iya, ren. Kalau engga mah gue udah nolak perjodohan ini. Lagian, gak ada alasan buat gue gak suka sama Oliv. Dia orangnya baik, cantik, seru, dan pokoknya apapun yang ada di Oliv itu gue suka. Especially, her personalities. Tenang aja, gue bakal jagain ade lo dengan baik kok.” penjelasan Farrel begitu jelas sehingga membuat Daren kehabisan pertanyaan. Dari jawaban Farrel, Daren mengetahui bahwa Farrel menyayangi Keira. Bukan Oliv, adiknya.

“Rel, gue cabut duluan ya.” ucap Daren.

“Iyaaa, hati-hati ren.”