“Kaaaakkkkkk.” teriak Oliv sambil menyelonong masuk ke rumah Daren.
Oliv terdiam sejenak. Ia berpikir bisa saja kehadirannya mengganggu waktu tidur Daren. Ia pun memutuskan untuk ke dapur dan memasak sup sayuran untuk Daren karena di meja makan tak ada makanan sedikitpun.
“Siapa itu?” ucap Daren yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan muka yang masih mengantuk.
“Oliv ini.” Oliv menoleh ke arah Daren sejenak dan lanjut memasak.
“Lo ngapain masak Liv?”
“Abisnya di meja makan gak ada makanan sama sekali.. terus lo makan apaan?”
“Gua mah pagi makan roti doang, sisanya jajan. Rotinya gua taro kamar, makannya gak ada di meja makan.”
“Ohhh, tapi udah gue bikinin sup nih. Dimakan ya?” ucap Oliv sambil meletakkan mangkuk sup sayuran yang baru saja selesai ia buat di meja makan.
“Pasti lahh.”
“Eh Liv, kok lo bisa masuk rumah gua?”
“Gue tebak-tebak aja passcode locknya. Lo gak liat hp ya? Gue udah nungguin lama di depan tadi.”
“Yahh sorry gua gak liat hp.. ngantuk banget.”
“Udah siang hihh masa ngantuk? Lo tidur jam berapa emangnya semalem?” tanya Oliv.
“Jam 4 pagi.”
“Ngapain aja? Nonton?”
“Baca buku.”
“Emang ya anak pinter banget sih lo baca buku ampe jam 4 pagi.” ucap Oliv terheran.
“Hari ini mau jalan-jalan kemana?” tanya Daren.
“Kemana ajaaa yang penting seru.”
Oliv tiba-tiba memeluk Daren sambil mengucap, “Kak, gue kangen banget sama lo.”
“Gua juga kangen Liv sama lo.” Daren membalas pelukan Oliv.
Sudah bukan hal yang aneh bagi Oliv dan Daren untuk menunjukkan kasih sayang dengan cara memeluk satu sama lain seperti itu. Orang-orang yang tak mengetahui bahwa keduanya adalah saudara tiri bisa saja mengira bahwa keduanya berpacaran.
“Lu buruan mandi gih kak sana, abis itu kita langsung jalan-jalan.”
“Okeee siap tunggu ya.”