Keira terbangun karna ada pantulan sinar matahari yang menembus gorden kamar Oliv. Rasanya ia masih mengantuk dan langsung tertidur kembali. Farrel pun masuk ke kamar Oliv membawa keranjang makanan yang terdapat mangkuk dan gelas di atasnya.

“Liv jangan tidur lagi dong. Ini aku udah bikinin sarapan.” ucap Farrel.

“Eum? Iyaa.. ini gak tidur lagi.” Keira langsung duduk bersandar pada headboard kasur.

“Kamu masak apa, rel? Kamu udah makan?”

“Aku udahh tadi. Nih giliran kamu yang makan. Bubur ayam nih, makanan kesukaan kamu kan? Yang gak pake bawang dan seledri?” ucap Farrel.

“Kok kamu tau sih aku lagi pengen bubur ayam. Masih pagi enak banget makan bubur ayam.” Keira langsung mengambil sendok dan menyantap bubur ayamnya.

“Mana pagiii? Liat jam coba. Udah jam 11 siang ini.”

“Hah.. demi apa?” Keira terkejut.

“Seriusss.”

“Hahaha aku bangun siang banget. By the way bubur ayamnya ada yang kurang.” ucap Keira.

“Apa? Sambel? Gak boleh, kamu kan baru bangun tidur. Jangan langsung makan yang pedes-pedes.” ucap Farrel.

“Hehehe bener.” Keira lanjut menyendok bubur ayam yang masih hangat itu.

“Kamu mau kemana hari ini? Ada janji?” tanya Farrel.

“Engga ada sih.. kamu ada?” Keira bertanya balik.

“Sama kok, aku juga gak ada. Mau jalan-jalan?” ajak Farrel.

“Ih engga, pegel. Gara-gara kamu.”

“Hehehehe.. yaudah kita hari ini di rumah aja ya. Papa kamu kan masih nginep di rumahku. Marathon drakor, mau? Jirisan kan baru keluar minggu lalu.” ucap Farrel.

“Mauuu.”