Nathan dengan rasa yang sangat panik dan khawatir langsung terburu-buru berangkat ke rumah Keira. Ia tak memedulikan seberapa ngebutnya ia melaju, mengendarai motornya.

Saat ia sudah sampai di rumah Keira, rumah Keira sangat sunyi. Tak ada tanda-tanda bahwa Keira berada di rumah. Lampu rumahnya juga tak menyala jika dilihat dari luar. Nathan bingung. Ia sangat merasa gelisah. Ia berpikir apa lebih baik ia pergi ke tempat kejadian perkara di mana kecelakaan tersebut terjadi, atau ia tetap diam di depan rumah Keira saja. Keira juga tak bisa dihubungi. Saat ia sedang berpikir tentang apa yang harus ia lakukan, ada suara yang ia kenali memanggil namanya.

“Nathan?” Ternyata yang memanggil Nathan adalah Keira.

“Lo ngapain di sin—

Tak sempat Keira menyelesaikan ucapannya, Nathan langsung memeluk tubuh Keira dengan erat. Ia khawatir dengan keadaan Keira. Bahkan dirinya sampai meneteskan air mata.

“Lo tuh kemana aja sih? Kok gue chat gak dibales? Gue kira lo itu korban tabrak lari yang ada di TV tau gak? Gue khawatir banget, Kei.” ucap Nathan dengan nada yang menunjukkan rasa emosi, kesal, dan kekhawatiran yang luar biasa.

“Hp gue ilang. Tadi tuh ketinggalan di restoran, terus pas gue balik mau nyari, udah gak ada. Sorry ya udah bikin lo khawatir.” Keira pun membalas pelukan Nathan sambil menepuk-nepuk pundaknya agar Nathan bisa menjadi lebih tenang.

“Tapi lo beneran baik-baik aja kan?” tanya Nathan untuk memastikan kembali keadaan Keira.

“Iyaa, Nathan. Gue beneran gak kenapa-napa.” jawab Keira.

“Syukurlah. Gue khawatir banget tadi.” ucap Nathan.

“Yuk masuk dulu, minum air putih. Biar lo lebih tenang. Lo pasti ngebut kan ke sini?” Ajak Keira kepada Nathan untuk masuk ke rumahnya.

“Iya tadi nyebut.”

“Lain kali jangan gitu lagi, ya? Pentingin keselamatan lo juga, oke?” nasihat Keira.

“Iyaa, Kei.”

Nathan pun ikut Keira masuk ke dalam rumahnya untuk menenangkan diri sejenak. Sambil menunggu Keira mandi, Nathan mengamati pajangan-pajangan foto yang ada di ruang tamu rumah Keira. Banyak sekali foto Keira bersama Mamanya, Papanya, dan juga foto Keira saat ia masih kecil. Menggemaskan sekali Keira waktu kecil, pikir Nathan.

“Hey, lagi liatin foto gue?” tanya Keira.

“Iyaa, lucu banget lo waktu kecil.” jawab Nathan.

“Makasihh.”

“Lo mau gue bikinin makanan atau apa gitu gak?” Keira menawarkan.

“Engga usah, ini air putih cukup.” ucap Nathan.

“Ini ada camilan. Kalau mau ambil aja, ya.”

“Gue pulang aja, Kei. Gue gak mau ganggu lo istirahat.” ucap Nathan.

“Gak ganggu kok. Tapi kalau mau pulang ya udah, hati-hati yaa. Jangan ngebut di jalan.” ucap Keira.

“Iyaa.” Nathan langsung mengambil jaket dan berjalan ke arah pintu keluar.

“Nathan.” panggil Keira. Nathan yang mendengar namanya dipanggil oleh Keira langsung menoleh ke arah Keira dan tak jadi membuka pintu rumah Keira untuk pulang.

“Ada apa?” tanya Nathan

“Sebenernya ada yang mau gue omongin. Tentang kita.” ucap Keira.

“Tentang kita?”

“Iya.”

“Gue mutusin untuk nerima lo, sekarang juga. Gue gak mau ngebuat lo nunggu terlalu lama dan gue juga gak mau terus terpuruk dalam kegalauan terus menerus. Gue udah siap buat jalanin hubungan yang baru sama lo.” ucap Keira.

“Lo beneran udah yakin?” tanya Nathan.

“Gue yakin, Than.”

“Berarti lo juga udah siap kalau gue mau seriusin lo? Kayak yang gue bilang waktu itu?” tanya Nathan.

“Gue siap. Gue mau nerima lo bukan karena gue gak ada pilihan lain. Gue tulus dan beneran yakin untuk nerima lo. Gue juga yakin kalau diri gue yang nyaman saat gue lagi sama lo itu berarti gue punya perasaan lebih ke lo. Gue sayang sama lo, Nathan. Lo selalu ada buat gue kapan pun. Gue bahkan sampe mikir kalo lo itu terlalu baik buat gue.” Ucapan Keira membuat Nathan tersenyum. Senyum kebahagiaan tergambar di wajah Nathan. Nathan menunda untuk pulang. Ia langsung memeluk Keira dengan erat sambil tersenyum bahagia dan mengelus-elus kepala Keira. Keira pun juga tersenyum bahagia seperti Nathan.

“Makasih ya, lo udah mau nerima gue, Kei.” ucap Nathan.

“Sama sama, Nathan. Makasih juga karena lo udah mau nungguin gue.”

“Gue harus izin ke siapa kalo mau ngelamar lo?” tanya Nathan.

“Eh? Cepet banget udah bahas lamaran?” Keira terkejut.

“Kan tadi gue bilang langsung mau seriusin lo.”

“Kirain tuh ya nunggu beberapa hari gitu, mana tau langsung banget, Nathan.. Hahahah.”

“Hehehe maaf, kaget banget yaaa.” ucap Nathan.

“Gapapaaa.. ngomong ngomong soal yang tadi, sebenernya gue gak punya siapa-siapa lagi sih, lo kan tau. Paling bisa izin ke tante gue aja. Kalo gue gimana? Gue harus ketemu sama orangtua lo dulu kan.” ucap Keira.

“Sama, Kei. Gue juga gak punya siapa-siapa lagi. Ada anjing gue sih, mau izin gak sama anjing gue?” ucap Nathan.

“Hah? Serius? Lo gak pernah cerita apa-apa sama gue.”

“Gue gak terlalu terbuka soalnya orangnya. Maaf baru cerita. Tapi kalo sekarang, gue baka ceritain semuanya ke lo. Kan gue udah punya lo.” ucap Nathan.

“Iya iya gak papaa kok, Than.”

“Kalo izin ke tante lo itu urusan gampang ga sih? Berarti semua keputusannya ada di gue sama lo. Lo mau gimana? Mau tunangan dulu apa langsung nikah? Apa nanti dulu aja? Gue gak mau bikin keputusan sendirian. Kan gue ngejalanin hubungan sama lo. Jadi lo juga harus ikut serta bikin keputusannya.” ucap Nathan.

“Gue sih tadinya mau bilang terserah, karena gue gak masalah mau tunangan dulu atau langsung nikah. Jadi, umm… kalo langsung nikah, mau kapan?” ucap Keira.

“Dua minggu lagi? Siap gak?”

“Ayo.. Dua minggu kurang lebih cukup kok buat prepare semuanya. Tapi kalau gedungnya belum di booking dulu biasanya gak bisa dadakan sih.” jawab Keira.

“Tenang, kalo soal gedungnya gak perlu pusing. Keluarga besar gue punya gedung gitu yang selalu dipake tiap kali ada acara. Mau pake itu aja gak? Gedungnya bagus, tinggal di dekorasi aja. Nanti kita cari wedding organizer yang bagus.” ucap Nathan.

“Yaudahh pake punya keluarga besar lo aja. Cari wedding organizernya sekarang lahh, nanti-nanti gak keburu, Nathan.” ucap Keira.

“Ih jangan sekarang, udah malem. Liat udah jam berapa.” Jam dinding di rumah Keira sudah menunjukkan pukul 12 malam.

“Lah iya hahaha..”

“Ya udah lo istirahat, ya. Gue pulang dulu, Kei.”

“Iyaaa hati-hati di jalan!”