“Rendraaaa! Kok kamu belum bangun sih? gak siap siap kerja?” Haikal yang mendengar perkataan Mamanya tersebut terkejut.
“Kerja? Kan Haikal masih kuliah mah.”
“Kamu ini ngawur ya.. kamu kan detektif nak. Udah sana buruan siap-siap, masa pemimpin tim investigasi telat masuk kerja.”
Haikal mulai merasa ada yang tidak beres. Ia langsung mengecek ponselnya dan menelpon Jia, teman dekatnya. Panggilannya pun tak diangkat oleh Jia. Haikal langsung terburu-buru berangkat ke kantor polisi karena Mamanya terus menyuruhnya berangkat dari tadi. Haikal terus bertanya-tanya dalam hati dan pikirannya. Ia benar-benar bingung sekali dengan apa yang sedang terjadi.
“Pak Rendra, buruan ayo. Kita mau berangkat ke TKP (tempat kejadian perkara). Ada kasus pembunuhan lagi yang baru saja terjadi.” ucap salah satu detektif dari arah parkiran.
Dari sinilah Haikal ingat bahwa karakter yang ia buat di cerita thriller miliknya bernama Narendra dan karakter tersebut adalah seorang detektif.
“Pak, saya bukan Narendra. Saya ini Haikal. Saya seorang mahasiswa dan juga penulis cerita.” ucap Haikal.
“Pak Narendra ini aneh aneh saja. Ayo buruan pak, ikut saja.” Haikal terpaksa ikut karena ditarik oleh rekan kerjanya itu.
Haikal bingung mengapa dirinya bisa berada di dunia fiksi yang ia buat. Tidak hanya itu, bahkan dirinya menjadi karakter utama bernama Narendra yang dirinya sendiri buat.
Mereka sudah sampai di TKP. TKP nya adalah rumah korban. Darah bercucuran dari kepala korban dan perut korban terluka parah. Terdapat pisau tajam di sebelah jasad korban.
“Pak Rendra, sini lihat korbannya.”
Haikal tidak merasa takut atau memiliki rasa mual saat melihat keadaan korban. Haikal sudah biasa melihat hal seperti ini di film, walaupun mungkin sebenarnya rasanya akan berbeda. Tetapi, ia tetap tidak takut. Haikal melihat keadaan korban dengan lebih fokus lagi.
“Loh? Jia? Jiaaaaa bangunn Jia! Ini gua Haikal.. Jia please jangan tinggalin gua, Ji. Siapa yang udah tega bunuh Jia! Jiaaaaaaa!”
Haikal tiba-tiba terbangun dari tidurnya. “Jadi itu semua cuma mimpi?” Haikal bertanya-tanya dalam hatinya. Ia langsung keluar kamar dan meminum segelas air putih untuk menenangkan dirinya.
“Rasanya kayak nyata, tapi kenapa gua mimpi masuk ke dunia au gua? Aneh banget.” Haikal berbicara kepada dirinya sendiri.
Haikal langsung mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada Jia untuk memastikan bahwa Jia benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.