Tentang Keira dan Mamanya
Keira merasa sangat senang karena akhirnya ia bisa bertemu dengan Mamanya sebagai Keira, bukan Oliv. Hari ini Keira membeli mi ayam di dekat rumahnya untuk Mamanya sebelum pergi ke rumah sakit. Mi ayam adalah makanan kesukaan Mamanya.
“Mamaaa.”
“Keiiii, kamu kemana ajaaaa. Kok gak jenguk jenguk Mama sih. Mama kesepian tauu. Malah Oliv terus yang dateng ke sini.” ucap Mamanya Oliv.
“Maafin Keira ya, Mah. Tapi, ini Kei bawa makanan kesukaan Mama.” ucap Keira.
“Wahhh, mi ayammm.”
“Kei suapin ya, mah.”
“Iyaa, nak.”
Tak perlu waktu yang lama untuk Mamanya Keira menghabisi satu porsi mi ayam. Nampaknya Mamanya Keira seperti orang yang sedang kelaparan, padahal kata Suster ia baru saja makan. Mungkin karena mi ayam adalah makanan kesukaannya.
“Ini kamu beli di tempat yang dulu kita suka beli sama Papamu itu ya, Kei? Kangen banget sama rasanyaaaa.” ucap Mamanya Keira.
“Iyaaaa.”
“Mama kan pernah beli mi ayam yang di deket sini, nitip ke Suster waktu itu. Tapi sumpah Kei gak enak kayak gini.” ucap Mamanya.
“Hahahah Mamaaa.. mungkin Mama emang kangen banget sama mi ayam deket rumah kita kalii.”
“Kei, Mama mau tanya deh.”
“Mau tanya apa, mah?”
“Kamu sekarang gimana? Kerja apa? Kamu gak pernah cerita sama Mama. Padahal kan kita bisa chattan.” Pertanyaan yang dilontarkan oleh Mamanya Keira membuat Keira merasa sedih dan merasa bersalah. Ia merasa sedih karena dia sudah membohongi banyak sekali orang di sekitar dirinya. Ia pun merasa bersalah karena dirinya tak bisa terbuka sepenuhnya dan menceritakan semua hal yang terjadi kepada Mamanya. Rasanya campur aduk sekali. Keira merasa tak mempunyai tempat curhat untuk menceritakan semua keluh kesah yang sedang ia rasakan belakangan ini.
“Aku kerja, mah. Aku baik-baik aja kok.” Hanya itu yang bisa Keira ucapkan.
“Kerja apa, nak? Yang halal kan?”
“A-aku.. ngebohongin semua orang.” Keira memutuskan untuk jujur ke Mamanya. Ini adalah keputusan yang terbaik untuknya, ia pikir.
“Kamu menipu? Kei… itu gak baik. Mama sama Papa gak pernah ngajarin kamu untuk nipu orang. Kamu ini kenapa sih?”—
—“Jawab Mama, Kei. Kok kamu diam aja?”
Keira memang ingin menceritakan semuanya dengan jujur kepada Mamanya. Akan tetapi, rasanya berat sekali. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengeluarkan air mata.
“Kok kamu nangis? Nak.. Keira sayang? Kamu kenapa? Cerita sama Mama.”
“M-mama, maafin Keira.. Keira kerja dan pura-pura jadi Oliv untuk nikah sama Farrel. Oliv minta bantuan dari Keira untuk gantiin dia. Oliv bayar Keira… Oliv ngebiayain biaya kemoterapi Mama sebagai imbalannya… Mama, Keira minta maaf banget. Aku tau, aku salah.” Keira menjelaskan semuanya sambil menangis sesenggukan.
“Jadi selama ini yang jenguk Mama itu kamu?”
“I-iyaa, mah.”
Mamanya mengelus-elus pundak Keira dan memeluknya erat. “Kei, Mama gak bisa nyalahin kamu sepenuhnya. Yang lagi kamu jalanin itu hidup kamu sendiri. Tapi, Mama sebagai orangtua kamu hanya mau memberi saran. Mama saranin kamu cepat jujur kepada semua orang yang kamu dan Oliv bohongi. Bohong itu gak baik, nak.”
“Iya mah, tapi Kei butuh waktu. Masalahnya, Oliv juga nyuruh aku buat gak kasih tau ke siapa-siapa.”
“Iya Mama mengerti. Tapi saat kamu sudah siap untuk jujur, langsung lakuin ya? Untuk kebaikan kamu, Oliv, dan semuanya juga kan?”
“Iya mah, Tapi Kei salah banget, mah. Aku terlanjur suka sama Farrel. Aku sayang banget sama dia. Aku bener-bener salah. Gak seharusnya aku suka sama Farrel. Aku gak tau harus kayak gimana.” Keira semakin menangis sesenggukan.
Mamanya hanya memeluk Keira dan menepuk-nepuk pundaknya dengan perlahan agar Keira menjadi lebih tenang. “Nangis gak papa, nak. Keluarin aja semuanya. Tapi, abis ini kamu tenangin diri kamu ya. Kamu boleh cerita apapun ke Mama. Kamu boleh chat atau telpon mama.. boleh banget malah, Kei.”
“Huhuhu.. iya, mah.”
15 menit setelah Keira selesai menangis, tiba-tiba ada Dokter dan Suster yang datang.
“Permisi Mba Keira, waktu kunjungannya sudah habis. Ibu kamu harus istirahat dulu, ya.” ucap Suster.
“Wah ada nak Keira di sini. Kebetulan ada yang saya ingin bicarakan.” ucap Dokter.
“Mau ngomongin apa, Dok?” tanya Mamanya Keira.
“Nanti dulu yaa, bu.”
“Mama, aku duluan ya. Nanti aku jenguk ke sini lagi.” Keira memeluk Mamanya sekali lagi sebelum ia pergi dari ruang rawat inap Mamanya.
Keira mengikuti Dokter Rani masuk ke dalam ruangannya. “Dokter mau ngomongin apa ya, Dok? Mama saya baik-baik saja, kan?”
“Begini.. saya ingin memberi tahu bahwa sel kanker di tubuh Ibu kamu menyebar semakin luas dan semakin parah. Kemungkinan Ibu kamu tidak bisa bertahan lebih lama lagi.”
“Maksud Dokter? Ibu saya gak akan bisa sembuh?”
“Kalau untuk sembuh, saya tak bisa menjawab apa-apa. Kita doakan yang terbaik saja ya, untuk Ibu kamu.”
Keira tak kuat menahan isak tangisnya. Ia berjalan pulang ke rumah sambil menangis. Ia gak tahu apa yang harus ia lakukan agar Mamanya bisa tetap hidup. Tetapi, Keira sudah pasrah. Ia hanya bisa berdoa dan berharap kalau Mamanya akan baik-baik saja.