The Next Morning
“Pagiii istriku.” ucap Farrel sambil membuka gorden yang menutupi cerahnya sinar matahari di pagi itu.
“Eumm.. p-pagii.” ucap Keira.
“Ayo bangun, kita sarapan. Sekalian ada yang mau aku bicarain.”
“Iyaa, tunggu sebentar. Tunggu 5 menit aku masih ngantuk.” ucap Keira.
“Ih kamu mah, 5 menit tau taunya 1 jam.”
“Seriuss 5 menit lagi bangunin aku ya rel.”
“Hahahaa iyaa yaudah. Aku mandi dulu. Nanti abis mandi aku bangunin ya.”
“Iyaa.”
——————————
“Ooooooliiiiiiiivv baaaanguuuun.” Keira yang mendengarnya terkejut dan langsung lompat dari kasur.
“Hah suara apaan tuh gede banget.” Pantas saja Keira terkejut. Farrel memasang speaker di sebelah kasur agar Oliv bisa cepat bangun.
“Hehehe maaf ya.”
“Ih kamuuu.”
“Sana siap-siap.”
Keira langsung turun dari kasur dan berjalan ke arah toilet untuk bersiap-siap turun dari lantai kamar hotel untuk sarapan di restoran hotel.
“Loh Papa sama Ayah kamu gak ikut sarapan, rel?”
“Udah pada sarapan duluan tadi katanya, Ayah ngechat aku.”
Keira dan Farrel mengambil makanan untuk masing-masing dari prasmanan yang disediakan di restoran hotel dan langsung mencari tempat duduk untuk menyantap makanan mereka. Ada banyak sekali jenis makanannya. Dimulai dari nasi goreng, nasi uduk, ayam goreng, ayam bakar, hingga bubur ayam. Farrel mengambil nasi goreng dan ayam bakar, sedangkan Keira hanya mengambil bubur ayam.
“By the way, tadi kamu mau ngomongin apa?”
“Kita belum ngeplan buat honeymoon loh, mau kemana? Terus kapan?” tanya Farrel. Karena pernikahan mereka yang cukup bisa dibilang dadakan, Farrel dan Keira belum sempat membahas tentang honeymoon.
“Ke Bali, yuk?” ajak Keira.
“Kamu gak bosen sama Bali? Gak mau yang lebih jauh lagi? Misalnya, Jepang? Yuk ke Jepang yuk.” ucap Farrel. Keira langsung gelisah saat Farrel membahas untuk pergi honeymoon ke Jepang, mengingat Oliv yang masih berada di sana.
“Eum.. bukannya kamu suka pantai, ya? Kan Bali banyak pantainya. Kok bosen sih? Bukannya enak ya ke pantai gitu?” ucap Keira.
“Yaudah gini aja, gimana kalau kita ke Bali dulu, terus abis dari Bali langsung ke Jepang?” Farrel menawarkan.
“Boleh aja sih, tapi berangkatnya kapan?” tanya Keira masih dengan perasaan gelisah karena takut dirinya dan Farrel akan bertemu dengan Oliv jika mereka berangkat dalam waktu dekat ini.
“Minggu depan? Eh, tapi jangan minggu depan sih.. Kita belum ada rumah tau di sini. Ngurus rumah butuh waktu, Liv.” Farrel dan Keira bahkan belum membeli rumah untuk mereka tempati berdua sebagai pengantin baru.
“Waduh iya juga ya.. ya udah gak papa, nanti aja kita honeymoonnya. Yang penting kita udah punya rumah untuk di sini.” ucap Keira.
“Berarti mungkin kira-kira kita baru bisa honeymoon 2 minggu lagi. Is that okay, sayang?” tanya Farrel sambil mengunyah makanannya.
“Gak papaaa. Yaudah dilanjut makannya, masih banyak tuh.”
“Iyaa.”
Setelah Farrel dan Keira sudah menghabiskan sarapan mereka, mereka langsung balik ke kamar hotel dan packing untuk pulang.
“Livv, kamu belum selesai packingnya?” tanya Farrel sambil menggeret kopernya dan berjalan masuk ke kamar yang ditempati Keira.
“Belum nihh, dikit lagi.”
“Sini aku bantuin.”
Farrel pun membantu Keira untuk packing agar cepat selesai. “Okeh, dah selesai nih.”
Keira dan Farrel langsung naik lift, turun ke lobby untuk pulang.
“By the way, kita untuk sementara ini masih pisah dong tinggalnya?” tanya Keira.
“Iyaa, tapi kalau kangen langsung telepon aku aja, nanti aku langsung ke rumah kamu.” ucap Farrel sambil tersenyum.
“Ih ngapain, ribet. Kan bisa video call.”
“Lebih ribet video call tau, kalau mau peluk sama nyium kamu, gak bisa dong.” ucap Farrel.
“Hahahahaha.. eh itu Papa, aku pulang duluan ya, rel.” ucap Keira.
“Iyaa, hati-hati di jalan. Sini peluk dulu.” Keira melepaskan genggaman tangannya pada koper dan langsung memeluk Farrel dengan erat. Farrel mengelus kepala Keira dan berkata “I love you” tepat di kuping Keira. Keira yang mendengarnya langsung tersenyum dan salah tingkah karena tiga kata yang diucapkan oleh Farrel itu. Jerry yang melihat anak dan menantunya saling memeluk dengan erat pun tersenyum bahagia sampai-sampai tak sadar bahwa dirinya meneteskan air mata. Jerry terharu dan sangat senang karena anak perempuannya sudah menikah dengan seorang lelaki yang baik.
“Yaudah aku pulang ya rel.” Keira melepaskan pelukannya dan melambaikan tangannya ke arah Farrel. Farrel sepertinya sedikit kecewa karena Keira tak membalas ucapannya yang tadi itu.