The Truth

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Oliv memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia tak mempedulikan dirinya akan bertemu siapa saja di rumahnya nanti. Baru saja Oliv sampai di rumahnya, ia melihat ada Papanya, Farrel, Keira, dan Daren sedang berada di ruang tamu. Tak ada yang sadar akan kehadirannya. Oleh karena itu, ia melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu. Daren yang melihat Oliv pun langsung terkejut dan langsung memanggil nama Keira dengan gugup dan nada bertanya.

“K-Keira?” ucap Daren.

Ekspresi wajah Farrel dan Keira terlihat sangat bingung. Tetapi tidak untuk Papa Jerry. Ia sudah terbiasa dengan Keira yang suka mampir ke rumah Oliv untuk bermain bersama, walaupun wajahnya sangat mirip dengan wajah anaknya.

“Wah ada nak Keira, sini nak duduk.” ucap Jerry.

“Aku Oliv. Dia bukan Oliv.” ucap Oliv sambil menunjuk Keira.

“Maksud lo?” tanya Keira.

“Gue cape, Kei. Gue mau jujur aja.” ucap Oliv.

“Ada apa ini?” tanya Jerry.

“Pah, maafin aku. Selama ini, aku nyuruh Keira buat pura-pura jadi aku dan menikah sama Farrel. Aku terpaksa ngelakuin itu karena aku gak mau nikah sama Farrel. Dan posisinya aku juga punya pacar.” Oliv menjelaskan semuanya sambil meneteskan air mata.

“Apa benar, Keira?” tanya Jerry.

“I-iya, Om.” Wajah Keira terlihat gelisah dan seperti ketakutan. Ia rasanya ingin meneteskan air matanya pada saat itu juga. Matanya memerah. Rasa bersalah yang ia miliki sudah memuncak pada titik tertinggi.

“Jadi maksudnya lo bohongin gue?” tanya Farrel kepada Keira, yang selama ini dirinya kira adalah Oliv.

“Maafin aku, Rel. Aku gak bermaksud untuk—

—Lo diem.” Farrel sangat kecewa dengan Keira. Ia pikir dirinya sudah menaruh perasaan kepada orang yang salah. Farrel dengan rasa penuh kekecewaan langsung pamit untuk pergi kepada Papanya Oliv.

Papanya Oliv tak bisa marah. Rasanya ia ingin sekali marah tetapi ia berpikir bahwa semuanya adalah salahnya. “Ini salah Papa.” ucapnya.

“Engga, pah. Ini murni Oliv yang salah.” ucap Oliv.

“Papa ini minum dulu air putihnya, ya.” Daren memberikan segelas air putih kepada Papanya.

“Liv, gue mau ngomong sama lo. Ikut gue.” ucap Daren.

Keira yang ditinggal oleh Daren dan Oliv untuk mengobrol belutut di hadapan Jerry dan meminta maaf kepadanya.

“Om, maafin Keira. Keira salah udah mau nerima permintaan Oliv. Keira tau ini salah tapi Keira malah gak berusaha buat jujur.” ucap Keira.

“Bangun, nak. Udah, tidak apa-apa.”

Keira pun akhirnya berpamitan kepada Jerry. Daren dan Oliv pun belum juga selesai mengobrol.

———————————————————— (yang Daren dan Oliv bicarakan)

“Mau ngomong apa, Kak?” tanya Oliv.

“Lo balik ke sini kok gak bilang-bilang? Lo gak bilang dulu ke gue atau Keira? Lo gak mikirin gimana Keira kagetnya tadi? Dia pasti sedih banget, Liv.” ucap Daren.

“Maafin gue, Kak. Pikiran gue lagi kacau banget sekarang. Karel selingkuh.”

“Anjir! Berarti Papa selama ini gak salah dong ngelarang lo untuk sama dia?”

“Iya, gue yang salah.”

“Lo minta maaf gih ke Keira.” ucap Daren.

“Iya oke.”

Saat Daren dan Oliv sudah balik ke ruang tamu, sudah tak ada orang di sana. Mereka pikir, pasti Papanya masih kecewa dengan perbuatan Oliv. Keira juga pasti sedang merasa sedih karena ia dan Farrel tak mungkin untuk bisa bersama lagi.