chaewrite

“Eh lo gak cape, Kei? Dari tadi kita udah main banyak wahana. Ke sana yuk duduk, istirahat dulu.” ucap Nathan.

“Iya deh, yuk duduk.”

Nathan yang melihat Keira sangat asik dengan handphonenya pun penasaran mengapa Keira seperti sedang sangat bahagia.

“Ada apa, Kei? Lo keliatan seneng banget.” tanya Nathan.

“Oliv cerita sama gue katanya Kak Daren confess ke dia. Belum jadian sih kata Oliv, soalnya dia masih belum siap gitu. Apalagi abis kejadian pacarnya selingkuh dari dia.” jawab Keira.

“Seriusan? Wah parah Daren gak cerita sama gue.” ucap Nathan.

“Hahahaha coba aja tanya ke dia.”

“Si Oliv kok langsung mau nerima Daren gitu ya? Kan dia baru aja diselingkuhin sama pacarnya. Pasti dia masih suka sama mantannya itu.” ucap Nathan.

“Gak tau juga deh. Tapi kan tiap orang beda beda kan? Mungkin aja Oliv tipe orang yang bisa langsung nerima orang baru, lagian demi move on dari Karel juga kan.” ucap Keira.

“Karel itu mantannya?” tanya Nathan.

“Iya.”

“Kalo lo? Kalau lagi putus cinta kayak Oliv, langsung bisa nerima orang yang confess ke lo atau engga?” tanya Nathan.

“Kalau ada yang nembak, gue gak bakal terima sih, tapi kalau confess dan mau nunggu gue, mungkin aja? Ya kayak Oliv gitu minta Kak Daren untuk nunggu dia. Tapi, tergantung yang confess itu siapa. Mana mungkin ada orang sembarangan confess terus gue terima. Gak bakal lahh.” jawab Keira.

“Kalau gue yang confess, lo bakal suruh gue tunggu lo gak?” Pertanyaan Nathan membuat Keira terkejut. Namun ia menganggapnya sebagai bercandaan.

“Hahahahah bercanda lo.”

“Gue nanya, serius.” ucap Nathan.

“Eh?”

“Gue tau sih lo pasti masih mikirin Farrel kan? Gak papa, gue tunggu lo aja. Kalo lo udah siap untuk nerima gue, bilang ke gue, ya?” ucap Nathan dengan sangat serius yang membuat Keira menjadi berkeringat dingin.

“Lo suka sama gue?” tanya Keira.

Might be more than just liking you.” Ucapan Nathan membuat Keira terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Nathan benar, Farrel masih terus berada di dalam pikirannya. Tetapi, Keira tak mau terus-menerus larut dalam kegalauan.

“Kei? Kalo gak mau gue tungguin, gak pap—

—Eh tapi lo beneran mau nunggu? Kalau lama gimana? Kasian lo nya, Than.”

“Gue bakal tunggu lo sampai kapan pun.” ucap Nathan. Keira tersenyum.

“Ya udah.”

“Boleh? Mau ditungguin? Beneran?” tanya Nathan dengan ekspresi yang gembira.

“Iyaaa, Nathan.”

“Kalau suatu saat lo udah siap untuk nerima gue, boleh gak kalau gue langsung seriusin lo aja?” tanya Nathan.

“Seriusin gimana maksudnya? Keira bertanya balik.

“Gue mau kita ke jenjang yang lebih serius. Bahkan kalau lo mau, gak usah pacaran. Kita tunangan atau langsung nikah juga boleh kalo lo mau.” ucap Nathan.

“Lo sayang banget ya sama gue?” tanya Keira.

“Iya. Maaf ya kalau lo kaget. Gue terlalu terburu-buru, ya?” tanya Nathan.

“Agak kaget sih, tapi gak papa kok. Gue gak bisa jawab apa-apa sekarang, Than. Maafin gue ya?” ucap Keira.

“Tadi kan gue bilang, gue bakal nunggu lo. Jadi kapan pun lo siap, gue pasti bakal selalu ada buat lo.” ucap Nathan.

Keira mengangguk sebagai tanda bahwa ia mengerti. Pembicaraan yang serius tersebut sampai membuat mereka lupa bahwa mereka sedang berada di tempat rekreasi yang ramai pengunjung. Setelah sudah puas bermain banyak wahana yang ada di tempat rekreasi tersebut, Nathan dan Keira langsung berkunjung ke rumah makan yang lokasinya tak jauh dari tempat rekreasi yang baru saja mereka kunjungi. Sesuai dengan perjanjian, Keira yang mentraktir makan. Setelah selesai makan, Nathan langsung mengantar Keira pulang ke rumahnya.

Seokmin dan Jisoo baru saja selesai menonton film Eternals. Mereka keliling mall untuk mencari makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB.

“Soo, mau makan makanan berat atau mau makanan ringan aja?” tanya Seokmin.

“Makanan ringan aja, gue masih kenyang tadi makan popcorn. By the way gue yang traktir aja, ya? Kan lo udah beliin tiket nonton.” ucap Jisoo.

“Okay, beli crepes mau gak?” tanya Seokmin.

“Yaudah yuk.”

Sambil menunggu crepes yang mereka pesan, mereka duduk di dekat kasir dan susasana nya menjadi sedikit canggung. Mungkin karena mereka tak memiliki topik untuk dibahas.

“Seok, lo punya pacar ya?” tanya Jisoo tiba-tiba.

Seokmin terkejut mendengar pertanyaan Jisoo. Seokmin yang sedang meminum air putih pun tersedak.

“Ehhh sorry, Seok.” ucap Jisoo saat melihat Seokmin tersedak.

“Engga punya, kok nanya gitu? Tiba-giba banget.” Seokmin bertanya balik.

“Beneran gak punya?” Jisoo malah bertanya balik lagi.

“Seriusss.” jawab Seokmin.

“Terus yang di story ig lo itu siapa kemarin?” tanya Jisoo.

“Ohh itu mah sodara gue yang lagi ulang tahun. Makannya gue ngepost foto dia.” jawab Seokmin.

“Gue kira pacar lo.”

“Bukann, Soo. Lo sendiri? Pasti punya pacar ya? Lo kan ganteng.”

Jisoo tersenyum saat dipuji oleh Seokmin. “Engga punya. Ada sih orang yang gue suka. Tapi gak tau cara confessnya gimana.”

“Oh? Ada yang lo suka? Bilang aja ke dia. Mungkin kalo lo jujur, dia seneng.”

Seokmin rasanya ingin menangis di dalam hatinya. Ternyata Jisoo sudah menyukai seseorang dan berencana untuk menyatakan perasaannya kepada orang tersebut. Seokmin cemburu, sangat cemburu.

“Harus beliin apa ya pas confess?” tanya Jisoo.

“Dia orangnya kayak gimana? Kalau suka makan, ya beliin dia makanan yang banyak. Kalau suka koleksi gelang, beliin dia gelang. Kalau suka K-pop ya beliin album atau photocard.” jawab Seokmin.

“Lo tunggu sebentar di sini ya.” ucap Jisoo lalu lari, pergi entah kemana.

“Eh lo mau kemana?” teriak Seokmin.

Seokmin ingin mengejar Jisoo yang lari dari tempat beli crepes. Namun, crepes yang mereka pesan ternyata baru saja jadi dan pelayan crepes memanggil nama Seokmin untuk mengambil pesanannya. Seokmin membeli crepes rasa Smoked beef and cheese. Ia langsung meraciknya dengan saos sambal yang disediakan di sana. Tak lama kemudian, Jisoo kembali.

“Seok, udah. Yuk pulang.” ucap Jisoo.

“Lo tadi kemana?”

“Ke toilet, kebelet banget.”

“Nih crepes lo.” ucap Seokmin.

“Gue makan nanti aja, di rumah.” ucap Jisoo.

Seokmin mengangguk. “Itu beli apa?” tanya Seokmin.

“Ini titipan Mama.”

“Yaudah nanti kita pisah di parkiran basement aja ya.” ucap Seokmin. Seokmin dan Jisoo berjalan ke arah parkiran. Lalu, Jisoo mencegah Seokmin. “Tunggu.” ucapnya.

“Kenapa, Soo.”

“Ikut gue bentar ke taman di situ.” Jisoo menunjuk ke arah luar mall. Di mall tersebut ada taman yang sangat indah. Cocok sekali untuk mengambil foto.

“Mau ngapain? Foto foto kah?” tanya Seokmin.

“Iyaa udah ikut aja sini.”

Mereka sudah berada di taman. Tamannya tak ramai. Hanya ada beberapa orang saja di sana.

“Seok, ini album sebong.” ucap Jisoo sambil mengeluarkan album dari plastik.

“Iya ini album sebong, titipan nyokap lo kan? Eh nyokap lo Carat?”

“Ini buat lo.” ucap Jisoo.

“Hah? Tiga? Banyak amat.” Seokmin kaget.

“Iya, kata lo kalau mau confess mending kasih sesuatu yang crush gue suka kan?” ucap Jisoo.

“Hah maksudnya gimana? Lo suka sama gue, Soo?”

“Iya, gue suka sama lo. Lo mau gak jadi pacar gue?” Jisoo mengucap satu kalimat itu dengan susah payah. Ia takut kalau Seokmin tak menyukai dirinya.

“Gue juga suka sama lo. Dari dulu. Gue sering liat Carat Selca Day lo lewat tl twitter gue. You’re my crush, I got a crush on you.” ucap Seokmin.

You’re not my crush. Starting from this time and this moment, you’re my boyfriend.” ucap Jisoo.

Seokmin memeluk Jisoo di taman itu. Raut wajah Seokmin dan Jisoo menunjukkan kebahagiaan yang tiada tara. Mereka jalan bergandengan ke parkiran basement dan mereka pulang ke rumahnya masing-masing.

Tak sia-sia Seokmin tidak sengaja membeli 2 tiket untuk menonton film Eternals. Karena kecerobohannya, ia justru mendapatkan keberuntungan. Orang yang ia sukai sejak 4 bulan yang lalu bisa menjadi kekasihnya.

——— guys itu di lotte shopping avenue aku ngarang ya. Gak ada taman kayaknya di sana😭😭.

Seokmin dan Jisoo baru saja selesai menonton film Eternals. Mereka keliling mall untuk mencari makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB.

“Soo, mau makan makanan berat atau mau makanan ringan aja?” tanya Seokmin.

“Makanan ringan aja, gue masih kenyang tadi makan popcorn. By the way gue yang traktir aja, ya? Kan lo udah beliin tiket nonton.” ucap Jisoo.

“Okay, beli crepes mau gak?” tanya Seokmin.

“Yaudah yuk.”

Sambil menunggu crepes yang mereka pesan, mereka duduk di dekat kasir dan susasana nya menjadi sedikit canggung. Mungkin karena mereka tak memiliki topik untuk dibahas.

“Seok, lo punya pacar ya?” tanya Jisoo tiba-tiba.

Seokmin terkejut mendengar pertanyaan Jisoo. Seokmin yang sedang meminum air putih pun tersedak.

“Ehhh sorry, Seok.” ucap Jisoo saat melihat Seokmin tersedak.

“Engga punya, kok nanya gitu? Tiba-giba banget.” Seokmin bertanya balik.

“Beneran gak punya?” Jisoo malah bertanya balik lagi.

“Seriusss.” jawab Seokmin.

“Terus yang di story ig lo itu siapa kemarin?” tanya Jisoo.

“Ohh itu mah sodara gue yang lagi ulang tahun. Makannya gue ngepost foto dia.” jawab Seokmin.

“Gue kira pacar lo.”

“Bukann, Soo. Lo sendiri? Pasti punya pacar ya? Lo kan ganteng.”

Jisoo tersenyum saat dipuji oleh Seokmin. “Engga punya. Ada sih orang yang gue suka. Tapi gak tau cara confessnya gimana.”

“Oh? Ada yang lo suka? Bilang aja ke dia. Mungkin kalo lo jujur, dia seneng.”

Seokmin rasanya ingin menangis di dalam hatinya. Ternyata Jisoo sudah menyukai seseorang dan berencana untuk menyatakan perasaannya kepada orang tersebut. Seokmin cemburu, sangat cemburu.

“Harus beliin apa ya pas confess?” tanya Jisoo.

“Dia orangnya kayak gimana? Kalau suka makan, ya beliin dia makanan yang banyak. Kalau suka koleksi gelang, beliin dia gelang. Kalau suka K-pop ya beliin album atau photocard.” jawab Seokmin.

“Lo tunggu sebentar di sini ya.” ucap Jisoo lalu lari, pergi entah kemana.

“Eh lo mau kemana?” teriak Seokmin.

Seokmin ingin mengejar Jisoo yang lari dari tempat beli crepes. Namun, crepes yang mereka pesan ternyata baru saja jadi dan pelayan crepes memanggil nama Seokmin untuk mengambil pesanannya. Seokmin membeli crepes rasa Smoked beef and cheese. Ia langsung meraciknya dengan saos sambal yang disediakan di sana. Tak lama kemudian, Jisoo kembali.

“Seok, udah. Yuk pulang.” ucap Jisoo.

“Lo tadi kemana?”

“Ke toilet, kebelet banget.”

“Nih crepes lo.” ucap Seokmin.

“Gue makan nanti aja, di rumah.” ucap Jisoo.

Seokmin mengangguk. “Itu beli apa?” tanya Seokmin.

“Ini titipan Mama.”

“Yaudah nanti kita pisah di parkiran basement aja ya.” ucap Seokmin. Seokmin dan Jisoo berjalan ke arah parkiran. Lalu, Jisoo mencegah Seokmin. “Tunggu.” ucapnya.

“Kenapa, Soo.”

“Ikut gue bentar ke taman di situ.” Jisoo menunjuk ke arah luar mall. Di mall tersebut ada taman yang sangat indah. Cocok sekali untuk mengambil foto.

“Mau ngapain? Foto foto kah?” tanya Seokmin.

“Iyaa udah ikut aja sini.”

Mereka sudah berada di taman. Tamannya tak ramai. Hanya ada beberapa orang saja di sana.

“Seok, ini album sebong.” ucap Jisoo sambil mengeluarkan album dari plastik.

“Iya ini album sebong, titipan nyokap lo kan? Eh nyokap lo Carat?”

“Ini buat lo.” ucap Jisoo.

“Hah? Tiga? Banyak amat.” Seokmin kaget.

“Iya, kata lo kalau mau confess mending kasih sesuatu yang crush gue suka kan?” ucap Jisoo.

“Hah maksudnya gimana? Lo suka sama gue, Soo?”

“Iya, gue suka sama lo. Lo mau gak jadi pacar gue?” Jisoo mengucap satu kalimat itu dengan susah payah. Ia takut kalau Seokmin tak menyukai dirinya.

“Gue juga suka sama lo. Dari dulu. Gue sering liat Carat Selca Day lo lewat. You’re my crush, I got a crush on you.” ucap Seokmin.

You’re not my crush. Starting from this time and this moment, you’re my boyfriend.” ucap Jisoo.

Seokmin memeluk Jisoo di taman itu. Raut wajah Seokmin dan Jisoo menunjukkan kebahagiaan yang tiada tara. Mereka jalan bergandengan ke parkiran basement dan mereka pulang ke rumahnya masing-masing.

Tak sia-sia Seokmin tidak sengaja membeli 2 tiket untuk menonton film Eternals. Karena kecerobohannya, ia justru mendapatkan keberuntungan. Orang yang ia sukai sejak 4 bulan yang lalu bisa menjadi kekasihnya.

——— guys itu di lotte shopping avenue aku ngarang ya. Gak ada taman kayaknya di sana😭😭.

Seokmin dan Jisoo baru saja selesai menonton film Eternals. Mereka keliling mall untuk mencari makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB.

“Soo, mau makan makanan berat atau mau makanan ringan aja?” tanya Seokmin.

“Makanan ringan aja, gue masih kenyang tadi makan popcorn. By the way gue yang traktir aja, ya? Kan lo udah beliin tiket nonton.” ucap Jisoo.

“Okay, beli crepes mau gak?” tanya Seokmin.

“Yaudah yuk.”

Sambil menunggu crepes yang mereka pesan, mereka duduk di dekat kasir dan susasana nya menjadi sedikit canggung. Mungkin karena mereka tak memiliki topik untuk dibahas.

“Seok, lo punya pacar ya?” tanya Jisoo tiba-tiba.

Seokmin terkejut mendengar pertanyaan Jisoo. Seokmin yang sedang meminum air putih pun tersedak.

“Ehhh sorry, Seok.” ucap Jisoo saat melihat Seokmin tersedak.

“Engga punya, kok nanya gitu? Tiba-giba banget.” Seokmin bertanya balik.

“Beneran gak punya?” Jisoo malah bertanya balik lagi.

“Seriusss.” jawab Seokmin.

“Terus yang di story ig lo itu siapa kemarin?” tanya Jisoo.

“Ohh itu mah sodara gue yang lagi ulang tahun. Makannya gue ngepost foto dia.” jawab Seokmin.

“Gue kira pacar lo.”

“Bukann, Soo. Lo sendiri? Pasti punya pacar ya? Lo kan ganteng.”

Jisoo tersenyum saat dipuji oleh Seokmin. “Engga punya. Ada sih orang yang gue suka. Tapi gak tau cara confessnya gimana.”

“Oh? Ada yang lo suka? Bilang aja ke dia. Mungkin kalo lo jujur, dia seneng.”

Seokmin rasanya ingin menangis di dalam hatinya. Ternyata Jisoo sudah menyukai seseorang dan berencana untuk menyatakan perasaannya kepada orang tersebut. Seokmin cemburu, sangat cemburu.

“Harus beliin apa ya pas confess?” tanya Jisoo.

“Dia orangnya kayak gimana? Kalau suka makan, ya beliin dia makanan yang banyak. Kalau suka koleksi gelang, beliin dia gelang. Kalau suka K-pop ya beliin album atau photocard.” jawab Seokmin.

“Lo tunggu sebentar di sini ya.” ucap Jisoo lalu lari, pergi entah kemana.

“Eh lo mau kemana?” teriak Seokmin.

Seokmin ingin mengejar Jisoo yang lari dari tempat beli crepes. Namun, crepes yang mereka pesan ternyata baru saja jadi dan pelayan crepes memanggil nama Seokmin untuk mengambil pesanannya. Seokmin membeli crepes rasa Smoked beef and cheese. Ia langsung meraciknya dengan saos sambal yang disediakan di sana. Tak lama kemudian, Jisoo kembali.

“Seok, udah. Yuk pulang.” ucap Jisoo.

“Lo tadi kemana?”

“Ke toilet, kebelet banget.”

“Nih crepes lo.” ucap Seokmin.

“Gue makan nanti aja, di rumah.” ucap Jisoo.

Jisoo mengangguk. “Itu beli apa?” tanya Seokmin.

“Ini titipan Mama.”

“Yaudah nanti kita pisah di parkiran basement aja ya.” ucap Seokmin. Seokmin dan Jisoo berjalan ke arah parkiran. Lalu, Jisoo mencegah Seokmin. “Tunggu.” ucapnya.

“Kenapa, Soo.”

“Ikut gue bentar ke taman di situ.” Jisoo menunjuk ke arah luar mall. Di mall tersebut ada taman yang sangat indah. Cocok sekali untuk mengambil foto.

“Mau ngapain? Foto foto kah?” tanya Seokmin.

“Iyaa udah ikut aja sini.”

Mereka sudah berada di taman. Tamannya tak ramai. Hanya ada beberapa orang saja di sana.

“Seok, ini album sebong.” ucap Jisoo sambil mengeluarkan album dari plastik.

“Iya ini album sebong, titipan nyokap lo kan? Eh nyokap lo Carat?”

“Ini buat lo.” ucap Jisoo.

“Hah? Tiga? Banyak amat.” Seokmin kaget.

“Iya, kata lo kalau mau confess mending kasih sesuatu yang crush gue suka kan?” ucap Jisoo.

“Hah maksudnya gimana? Lo suka sama gue, Soo?”

“Iya, gue suka sama lo. Lo mau gak jadi pacar gue?” Jisoo mengucap satu kalimat itu dengan susah payah. Ia takut kalau Seokmin tak menyukai dirinya.

“Gue juga suka sama lo. Dari dulu. Gue sering liat Carat Selca Day lo lewat. You’re my crush, I got a crush on you.” ucap Seokmin.

You’re not my crush. Starting from this time and this moment, you’re my boyfriend.” ucap Jisoo.

Seokmin memeluk Jisoo di taman itu. Raut wajah Seokmin dan Jisoo menunjukkan kebahagiaan yang tiada tara. Mereka jalan bergandengan ke parkiran basement dan mereka pulang ke rumahnya masing-masing.

Tak sia-sia Seokmin tidak sengaja membeli 2 tiket untuk menonton film Eternals. Karena kecerobohannya, ia justru mendapatkan keberuntungan. Orang yang ia sukai sejak 4 bulan yang lalu bisa menjadi kekasihnya.

——— guys itu di lotte shopping avenue aku ngarang ya. Gak ada taman kayaknya di sana😭😭.

Seokmin dan Jisoo baru saja selesai menonton film Eternals. Mereka keliling mall untuk mencari makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB.

“Soo, mau makan makanan berat atau mau makanan ringan aja?” tanya Seokmin.

“Makanan ringan aja, gue masih kenyang tadi makan popcorn. By the way gue yang traktir aja, ya? Kan lo udah beliin tiket nonton.” ucap Jisoo.

“Okay, beli crepes mau gak?” tanya Seokmin.

“Yaudah yuk.”

Sambil menunggu crepes yang mereka pesan, mereka duduk di dekat kasir dan susasana nya menjadi sedikit canggung. Mungkin karena mereka tak memiliki topik untuk dibahas.

“Seok, lo punya pacar ya?” tanya Jisoo tiba-tiba.

Seokmin terkejut mendengar pertanyaan Jisoo. Seokmin yang sedang meminum air putih pun tersedak.

“Ehhh sorry, Seok.” ucap Jisoo saat melihat Seokmin tersedak.

“Engga punya, kok nanya gitu? Tiba-giba banget.” Seokmin bertanya balik.

“Beneran gak punya?” Jisoo malah bertanya balik lagi.

“Seriusss.” jawab Seokmin.

“Terus yang di story ig lo itu siapa kemarin?” tanya Jisoo.

“Ohh itu mah sodara gue yang lagi ulang tahun. Makannya gue ngepost foto dia.” jawab Seokmin.

“Gue kira pacar lo.”

“Bukann, Soo. Lo sendiri? Pasti punya pacar ya? Lo kan ganteng.”

Jisoo tersenyum saat dipuji oleh Seokmin. “Engga punya. Ada sih orang yang gue suka. Tapi gak tau cara confessnya gimana.”

“Oh? Ada yang lo suka? Bilang aja ke dia. Mungkin kalo lo jujur, dia seneng.”

Seokmin rasanya ingin menangis di dalam hatinya. Ternyata Jisoo sudah menyukai seseorang dan berencana untuk menyatakan perasaannya kepada orang tersebut. Seokmin cemburu, sangat cemburu.

“Harus beliin apa ya pas confess?” tanya Jisoo.

“Dia orangnya kayak gimana? Kalau suka makan, ya beliin dia makanan yang banyak. Kalau suka koleksi gelang, beliin dia gelang. Kalau suka K-pop ya beliin album atau photocard.” jawab Seokmin.

“Lo tunggu sebentar di sini ya.” ucap Jisoo lalu lari, pergi entah kemana.

“Eh lo mau kemana?” teriak Seokmin.

Seokmin ingin mengejar Jisoo yang lari dari tempat beli crepes. Namun, crepes yang mereka pesan ternyata baru saja jadi dan pelayan crepes memanggil nama Seokmin untuk mengambil pesanannya. Seokmin membeli crepes rasa Smoked beef and cheese. Ia langsung meraciknya dengan saos sambal yang disediakan di sana. Tak lama kemudian, Jisoo kembali.

“Seok, udah. Yuk pulang.” ucap Jisoo.

“Lo tadi kemana?”

“Ke toilet, kebelet banget.”

“Itu beli apa?” tanya Seokmin.

“Ini titipan Mama.”

“Yaudah nanti kita pisah di parkiran basement aja ya.” ucap Seokmin. Seokmin dan Jisoo berjalan ke arah parkiran. Lalu, Jisoo mencegah Seokmin. “Tunggu.” ucapnya.

“Kenapa, Soo.”

“Ikut gue bentar ke taman di situ.” Jisoo menunjuk ke arah luar mall. Di mall tersebut ada taman yang sangat indah. Cocok sekali untuk mengambil foto.

“Mau ngapain? Foto foto kah?” tanya Seokmin.

“Iyaa udah ikut aja sini.”

Mereka sudah berada di taman. Tamannya tak ramai. Hanya ada beberapa orang saja di sana.

“Seok, ini album sebong.” ucap Jisoo sambil mengeluarkan album dari plastik.

“Iya ini album sebong, titipan nyokap lo kan? Eh nyokap lo Carat?”

“Ini buat lo.” ucap Jisoo.

“Hah? Tiga? Banyak amat.” Seokmin kaget.

“Iya, kata lo kalau mau confess mending kasih sesuatu yang crush gue suka kan?” ucap Jisoo.

“Hah maksudnya gimana? Lo suka sama gue, Soo?”

“Iya, gue suka sama lo. Lo mau gak jadi pacar gue?” Jisoo mengucap satu kalimat itu dengan susah payah. Ia takut kalau Seokmin tak menyukai dirinya.

“Gue juga suka sama lo. Dari dulu. Gue sering liat Carat Selca Day lo lewat. You’re my crush, I got a crush on you.” ucap Seokmin.

You’re not my crush. Starting from this time and this moment, you’re my boyfriend.” ucap Jisoo.

Seokmin memeluk Jisoo di taman itu. Raut wajah Seokmin dan Jisoo menunjukkan kebahagiaan yang tiada tara. Mereka jalan bergandengan ke parkiran basement dan mereka pulang ke rumahnya masing-masing.

Tak sia-sia Seokmin tidak sengaja membeli 2 tiket untuk menonton film Eternals. Karena kecerobohannya, ia justru mendapatkan keberuntungan. Orang yang ia sukai sejak 4 bulan yang lalu bisa menjadi kekasihnya.

——— guys itu di lotte shopping avenue aku ngarang ya. Gak ada taman kayaknya di sana😭😭.

Keira dengan perasaan gelisah langsung buru-buru pergi ke rumah sakit dan sudah membawa bubur ayam kesukaan Mamanya. Ia takut sekali akan hal buruk yang terjadi kepada Mamanya. Tetapi, dirinya tetap berusaha untuk berpikir positif, namun pikiran negatif terus menghantuinya.

Sesampainya di Rumah Sakit, ia langsung berlari menuju ruangan rawat inap Mamanya dan perasaan negatif yang menghantui dirinya menjadi kenyataan. Telah berpulanglah orangtua Keira. Ia tak mampu menahan isak tangis dan ia berteriak sekencang mungkin memanggil Mamanya. Ia memeluk Mamanya yang sudah berbaring ditutupi dengan kain.

Hari itu adalah hari yang sangat kacau untuk Keira. Ia masih kaget dengan kenyataan bahwa dirinya dan Farrel tak bisa bersama lagi dan tak menyangka juga bahwa Mamanya secepat ini meninggalkan dirinya pergi untuk selama-lamanya.

Tak kuat dengan semua yang telah terjadi padanya pada hari itu, Keira pun pingsan. Suster dan Dokter langsung membawa Keira ke ruang rawat.

“Kei..” Keira mendengar suara seseorang memanggil namanya. Itulah kata pertama yang ia dengar setelah ia pingsan sejak tadi. Ternyata yang memanggilnya adalah Nathan.

“Keira lo gak papa?” Keira yang baru saja bangun dari pingsan meneteskan air mata kembali pada saat Nathan menanyakan apakah dirinya baik-baik saja.

“Nyokap gue.. udah gak ada.” ucap Keira sambil menangis. Keira bukan hanya menangis dengan tenang, ia menangis kejer. Nathan yang tak tega melihat keadaan Keira langsung memeluknya untuk membantu memberi ketenangan kepada Keira. Nathan mengetahui semua yang terjadi pada Keira hari ini. Daren yang menceritakan semua padanya.

“Lo udah makan?” tanya Nathan.

“Gak laper.” jawab Keira.

“Harus makan dulu, ya. Itu bubur siapa? Punya lo?” tanya Nathan.

“Punya nyokap gue.” Keira mengambil bubur ayam yang ada di meja di samping Nathan. Ia lanjut menangis. Bubur ayam tersebut mengingatkannya kepada Mamanya. Raut wajah Mamanya yang tersenyum bahagia menatap Keira sambil memakan bubur ayam kesukaannya. Itulah yang Keira ingat.

“Lo makan aja ya buburnya.” ucap Nathan.

“Ini punya Mama.” ucap Keira.

“Gue suapin ya?”

“Jangan, nanti gue mau suapin Mama. Nanti ribet kalo gue harus beli lagi deket rumah. Lumayan jauh rumah gue dari sini.” ucap Keira.

“Kei..” Nathan yang melihat keadaan Keira seperti ini tanpa sadar ikut meneteskan air mata.

“Yaudah lo mau gue beliin makanan apa? Lo suka makanan apa?” tanya Nathan.

“Gue sih mau bubur ayam, tapi nanti aja makannya bareng Mama.” ucap Keira yang terus menyangkutkan segala hal dengan Mamanya.

“Keira, please. Nyokap lo udah gak ada, Kei.”

“Engga mungkin. Mama masih ada. Mama kan ada di kamar sebelah.” jawab Keira sambil menangis.

“Keira, gue mohon. Lo jangan kayak gini terus. Nyokap lo di sana pasti sedih kalo dia ngeliat lo kayak gini. Nangis boleh, tapi lo juga harus makan. Pasti lo belum makan kan dari tadi pas di rumah Oliv?”

“Gue gak kuat, Than. Gue gak kuat.”

“Lo kuat. Gue yakin. Sekarang di makan aja ya buburnya?” Bubur yang di bawa oleh Keira untuk Mamanya tadi sudah tak hangat lagi. Tanpa jawaban apapun dari Keira, Nathan berinisiatif untuk menyuapi bubur untuk Keira. Keira tak menolak. Tetapi, ia terus saja menangis. Matanya sudah bengkak.

Biarpun Keira masih terus menangis, tetapi mungkin sebenarnya Keira lapar. Bubur yang disuapi oleh Nathan habis dimakan oleh Keira. Nathan benar. Keira memang belum makan.

Pemakaman jasad Mamanya Keira akan dilaksanakan pada keesokan harinya. Om dan Tantenya Keira datang ke proses pemakaman. Banyak sekali orang yang hadir. Oliv, Daren, dan Papanya Oliv pun ikut hadir di tempat pemakaman Mamanya Keira. Nathan masih menemani Keira hingga proses pemakaman selesai.

“Lo masih mau gue temenin gak, Kei?” tanya Nathan.

“Gak usah, Than. Lo pulang aja. Lo udah nemenin gue dari kemarin. Makasih banyak, ya.” jawab Keira.

“Nanti kalau butuh apa apa, chat atau telpon gue aja ya.” ucap Nathan.

“Iyaa, Nathan. Makasih ya sekali lagi.” ucap Keira.

“Kei, gue turut berduka cita ya. Semoga nyokap lo tenang di sana.” ucap Oliv sambil memeluk Keira.

“Gue turut berduka cita ya, Kei. Kalau butuh apa-apa bisa bilang gue atau Oliv.” ucap Daren

“Iya makasih Liv, Kak Daren.” ucap Keira.

Mata Keira masih bengkak karena ia terus menangis sepanjang hari. Akhirnya, Keira memutuskan untuk berhenti menangis dan berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Mamanya.

Keira tak memiliki siapa-siapa lagi di hidupnya. Ia benar-benar sendiri. Keira masih memiliki Om dan Tante, namun mereka tak tinggal di Jakarta. Mereka tinggal di Bali.

“Keira, apa kau gak mau ikut Tante dan Om tinggal di Bali saja? Tante gak tega ninggalin kamu sendirian di sini.” tanya Tante Gita.

“Engga usah tante, Keira di sini aja gak papa. Terima kasih, Tante, udah nawarin.” ucap Keira.

“Ya sudah, tapi kalau butuh apa apa jangan sungkan untuk bilang ke Tante ya, nak.”

“Iya tante..”

Keira merasa hampa saat ia pulang ke rumah. Ia berusaha untuk tidak menangis lagi. Ia mengingat kata-kata Nathan bahwa Mamanya akan sedih melihat keadaannya yang seperti ini.

“Aku pasti bisa. Aku gak boleh kayak gini. Mama pasti mau liat aku senyum dan tertawa lagi.” Keira berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Hari itu adalah hari yang cukup melelahkan untuk Keira. Tenaganya ia kuras dengan menangis terus menerus. Di saat dirinya mencoba untuk menghilangkan kesedihan yang ia rasakan karena kepergian Mamanya, dirinya malah teringat dengan Farrel. Saat Keira teringat dengan Farrel, ia mencoba untuk mengingat hal-hal lain dan menonton serial drama korea terbaru yang sudah ia tunggu-tunggu sejak satu bulan yang lalu. Tak sepenuhnya pulih rasa sedih di hatinya, namun Keira merasa sudah sedikit lebih baik.

The Truth

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Oliv memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia tak mempedulikan dirinya akan bertemu siapa saja di rumahnya nanti. Baru saja Oliv sampai di rumahnya, ia melihat ada Papanya, Farrel, Keira, dan Daren sedang berada di ruang tamu. Tak ada yang sadar akan kehadirannya. Oleh karena itu, ia melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu. Daren yang melihat Oliv pun langsung terkejut dan langsung memanggil nama Keira dengan gugup dan nada bertanya.

“K-Keira?” ucap Daren.

Ekspresi wajah Farrel dan Keira terlihat sangat bingung. Tetapi tidak untuk Papa Jerry. Ia sudah terbiasa dengan Keira yang suka mampir ke rumah Oliv untuk bermain bersama, walaupun wajahnya sangat mirip dengan wajah anaknya.

“Wah ada nak Keira, sini nak duduk.” ucap Jerry.

“Aku Oliv. Dia bukan Oliv.” ucap Oliv sambil menunjuk Keira.

“Maksud lo?” tanya Keira.

“Gue cape, Kei. Gue mau jujur aja.” ucap Oliv.

“Ada apa ini?” tanya Jerry.

“Pah, maafin aku. Selama ini, aku nyuruh Keira buat pura-pura jadi aku dan menikah sama Farrel. Aku terpaksa ngelakuin itu karena aku gak mau nikah sama Farrel. Dan posisinya aku juga punya pacar.” Oliv menjelaskan semuanya sambil meneteskan air mata.

“Apa benar, Keira?” tanya Jerry.

“I-iya, Om.” Wajah Keira terlihat gelisah dan seperti ketakutan. Ia rasanya ingin meneteskan air matanya pada saat itu juga. Matanya memerah. Rasa bersalah yang ia miliki sudah memuncak pada titik tertinggi.

“Jadi maksudnya lo bohongin gue?” tanya Farrel kepada Keira, yang selama ini dirinya kira adalah Oliv.

“Maafin aku, Rel. Aku gak bermaksud untuk—

—Lo diem.” Farrel sangat kecewa dengan Keira. Ia pikir dirinya sudah menaruh perasaan kepada orang yang salah. Farrel dengan rasa penuh kekecewaan langsung pamit untuk pergi kepada Papanya Oliv.

Papanya Oliv tak bisa marah. Rasanya ia ingin sekali marah tetapi ia berpikir bahwa semuanya adalah salahnya. “Ini salah Papa.” ucapnya.

“Engga, pah. Ini murni Oliv yang salah.” ucap Oliv.

“Papa ini minum dulu air putihnya, ya.” Daren memberikan segelas air putih kepada Papanya.

“Liv, gue mau ngomong sama lo. Ikut gue.” ucap Daren.

Keira yang ditinggal oleh Daren dan Oliv untuk mengobrol belutut di hadapan Jerry dan meminta maaf kepadanya.

“Om, maafin Keira. Keira salah udah mau nerima permintaan Oliv. Keira tau ini salah tapi Keira malah gak berusaha buat jujur.” ucap Keira.

“Bangun, nak. Udah, tidak apa-apa.”

Keira pun akhirnya berpamitan kepada Jerry. Daren dan Oliv pun belum juga selesai mengobrol.

———————————————————— (yang Daren dan Oliv bicarakan)

“Mau ngomong apa, Kak?” tanya Oliv.

“Lo balik ke sini kok gak bilang-bilang? Lo gak bilang dulu ke gue atau Keira? Lo gak mikirin gimana Keira kagetnya tadi? Dia pasti sedih banget, Liv.” ucap Daren.

“Maafin gue, Kak. Pikiran gue lagi kacau banget sekarang. Karel selingkuh.”

“Anjir! Berarti Papa selama ini gak salah dong ngelarang lo untuk sama dia?”

“Iya, gue yang salah.”

“Lo minta maaf gih ke Keira.” ucap Daren.

“Iya oke.”

Saat Daren dan Oliv sudah balik ke ruang tamu, sudah tak ada orang di sana. Mereka pikir, pasti Papanya masih kecewa dengan perbuatan Oliv. Keira juga pasti sedang merasa sedih karena ia dan Farrel tak mungkin untuk bisa bersama lagi.

The Truth

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Oliv memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia tak mempedulikan dirinya akan bertemu siapa saja di rumahnya nanti. Baru saja Oliv sampai di rumahnya, ia melihat ada Papanya, Farrel, Keira, dan Daren sedang berada di ruang tamu. Tak ada yang sadar akan kehadirannya. Oleh karena itu, ia melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu. Daren yang melihat Oliv pun langsung terkejut dan langsung memanggil nama Keira dengan gugup dan nada bertanya.

“K-Keira?” ucap Daren.

Ekspresi wajah Farrel dan Keira terlihat sangat bingung. Tetapi tidak untuk Papa Jerry. Ia sudah terbiasa dengan Keira yang suka mampir ke rumah Oliv untuk bermain bersama, walaupun wajahnya sangat mirip dengan wajah anaknya.

“Wah ada nak Keira, sini nak duduk.” ucap Jerry.

“Aku Oliv. Dia bukan Oliv.” ucap Oliv sambil menunjuk Keira.

“Maksud lo?” tanya Keira.

“Gue cape, Kei. Gue mau jujur aja.” ucap Oliv.

“Ada apa ini?” tanya Jerry.

“Pah, maafin aku. Selama ini, aku nyuruh Keira buat pura-pura jadi aku dan menikah sama Farrel. Aku terpaksa ngelakuin itu karena aku gak mau nikah sama Farrel. Dan posisinya aku juga punya pacar.” Oliv menjelaskan semuanya sambil meneteskan air mata.

“Apa benar, Keira?” tanya Jerry.

“I-iya, Om.” Wajah Keira terlihat gelisah dan seperti ketakutan. Ia rasanya ingin meneteskan air matanya pada saat itu juga. Matanya memerah. Rasa bersalah yang ia miliki sudah memuncak pada titik tertinggi.

“Jadi maksudnya lo bohongin gue?” tanya Farrel kepada Keira, yang selama ini dirinya kira adalah Oliv.

“Maafin aku, Rel. Aku gak bermaksud untuk—

—Lo diem.” Farrel sangat kecewa dengan Keira. Ia pikir dirinya sudah menaruh perasaan kepada orang yang salah. Farrel dengan rasa penuh kekecewaan langsung pamit untuk pergi kepada Papanya Oliv.

Papanya Oliv tak bisa marah. Rasanya ia ingin sekali marah tetapi ia berpikir bahwa semuanya adalah salahnya. “Ini salah Papa.” ucapnya.

“Engga, pah. Ini murni Oliv yang salah.” ucap Oliv.

“Papa ini minum dulu air putihnya, ya.” Daren memberikan segelas air putih kepada Papanya.

“Liv, gue mau ngomong sama lo. Ikut gue.” ucap Daren.

Keira yang ditinggal oleh Daren dan Oliv untuk mengobrol belutut di hadapan Jerry dan meminta maaf kepadanya.

“Om, maafin Keira. Keira salah udah mau nerima permintaan Oliv. Keira tau ini salah tapi Keira malah gak berusaha buat jujur.” ucap Keira.

“Bangun, nak. Udah tidak apa-apa.”

Keira pun akhirnya berpamitan kepada Jerry. Daren dan Oliv pun belum juga selesai mengobrol.

———————————————————— (yang Daren dan Oliv bicarakan)

“Mau ngomong apa, Kak?” tanya Oliv.

“Lo balik ke sini kok gak bilang-bilang? Lo gak bilang dulu ke gue atau Keira? Lo gak mikirin gimana Keira kagetnya tadi? Dia pasti sedih banget, Liv.” ucap Daren.

“Maafin gue, Kak. Pikiran gue lagi kacau banget sekarang. Karel selingkuh.”

“Anjir! Berarti Papa selama ini gak salah dong ngelarang lo untuk sama dia?”

“Iya, gue yang salah.”

“Lo minta maaf gih ke Keira.” ucap Daren.

“Iya oke.”

Saat Daren dan Oliv sudah balik ke ruang tamu, sudah tak ada orang di sana. Mereka pikir, pasti Papanya masih kecewa dengan perbuatan Oliv. Keira juga pasti sedang merasa sedih karena ia dan Farrel tak mungkin untuk bisa bersama lagi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Oliv memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia tak mempedulikan dirinya akan bertemu siapa saja di rumahnya nanti. Baru saja Oliv sampai di rumahnya, ia melihat ada Papanya, Farrel, Keira, dan Daren sedang berada di ruang tamu. Tak ada yang sadar akan kehadirannya. Oleh karena itu, ia melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu. Daren yang melihat Oliv pun langsung terkejut dan langsung memanggil nama Keira dengan gugup dan nada bertanya.

“K-Keira?” ucap Daren.

Ekspresi wajah Farrel dan Keira terlihat sangat bingung. Tetapi tidak untuk Papa Jerry. Ia sudah terbiasa dengan Keira yang suka mampir ke rumah Oliv untuk bermain bersama, walaupun wajahnya sangat mirip dengan wajah anaknya.

“Wah ada nak Keira, sini nak duduk.” ucap Jerry.

“Aku Oliv. Dia bukan Oliv.” ucap Oliv sambil menunjuk Keira.

“Maksud lo?” tanya Keira.

“Gue cape, Kei. Gue mau jujur aja.” ucap Oliv.

“Ada apa ini?” tanya Jerry.

“Pah, maafin aku. Selama ini, aku nyuruh Keira buat pura-pura jadi aku dan menikah sama Farrel. Aku terpaksa ngelakuin itu karena aku gak mau nikah sama Farrel. Dan posisinya aku juga punya pacar.” Oliv menjelaskan semuanya sambil meneteskan air mata.

“Apa benar, Keira?” tanya Jerry.

“I-iya, Om.” Wajah Keira terlihat gelisah dan seperti ketakutan. Ia rasanya ingin meneteskan air matanya pada saat itu juga. Matanya memerah. Rasa bersalah yang ia miliki sudah memuncak pada titik tertinggi.

“Jadi maksudnya lo bohongin gue?” tanya Farrel kepada Keira, yang selama ini dirinya kira adalah Oliv.

“Maafin aku, Rel. Aku gak bermaksud untuk—

—Lo diem.” Farrel sangat kecewa dengan Keira. Ia pikir dirinya sudah menaruh perasaan kepada orang yang salah. Farrel dengan rasa penuh kekecewaan langsung pamit untuk pergi kepada Papanya Oliv.

Papanya Oliv tak bisa marah. Rasanya ia ingin sekali marah tetapi ia berpikir bahwa semuanya adalah salahnya. “Ini salah Papa.” ucapnya.

“Engga, pah. Ini murni Oliv yang salah.” ucap Oliv.

“Papa ini minum dulu air putihnya, ya.” Daren memberikan segelas air putih kepada Papanya.

“Liv, gue mau ngomong sama lo. Ikut gue.” ucap Daren.

Keira yang ditinggal oleh Daren dan Oliv untuk mengobrol belutut di hadapan Jerry dan meminta maaf kepadanya.

“Om, maafin Keira. Keira salah udah mau nerima permintaan Oliv. Keira tau ini salah tapi Keira malah gak berusaha buat jujur.” ucap Keira.

“Bangun, nak. Udah tidak apa-apa.”

Keira pun akhirnya berpamitan kepada Jerry. Daren dan Oliv pun belum juga selesai mengobrol.

———————————————————— (yang Daren dan Oliv bicarakan)

“Mau ngomong apa, Kak?” tanya Oliv.

“Lo balik ke sini kok gak bilang-bilang? Lo gak bilang dulu ke gue atau Keira? Lo gak mikirin gimana Keira kagetnya tadi? Dia pasti sedih banget, Liv.” ucap Daren.

“Maafin gue, Kak. Pikiran gue lagi kacau banget sekarang. Karel selingkuh.”

“Anjir! Berarti Papa selama ini gak salah dong ngelarang lo untuk sama dia?”

“Iya, gue yang salah.”

“Lo minta maaf gih ke Keira.” ucap Daren.

“Iya oke.”

Saat Daren dan Oliv sudah balik ke ruang tamu, sudah tak ada orang di sana. Mereka pikir, pasti Papanya masih kecewa dengan perbuatan Oliv. Keira juga pasti sedang merasa sedih karena ia dan Farrel tak mungkin untuk bisa bersama lagi.

An Unexpected Accident

Oliv yang sudah sampai di rumah Mila pun mengetuk pintu rumahnya.

“Tok tok tok.” Sudah sekitar 7 menit Oliv menunggu, tetapi tak ada yang membukakan pintu untuknya. Oliv mencoba untuk membuka pintunya dengan menarik gagang pintu dan ternyata rumahnya Mila tak terkunci.

“Yah tau gitu mah gue buka daritadi.” ucapnya.

Oliv berjalan masuk ke dalam ruang tamu rumah Mila dan ternyata tak ada orang. Oliv mendengar ada suara televisi yang sangat kencang dari sebuah ruangan dan ia pun langsung berjalan ke arah sana dan membuka pintunya.

Makanan yang Oliv bawa untuk Mila jatuh berserakan ke lantai dan ekspresi wajah Oliv pun juga sangat berubah seketika. Ia melihat pacarnya, Karel, bersama Mila di ruangan tersebut, yang nampaknya seperti kamarnya Mila, sedang menonton film sambil berpelukan.

“Karel kamu ngapain di sini? K-kamu ngapain sama Mila?” Tanpa mendengar jawaban dari Karel, ia langsung berlari keluar rumah Mila sambil menangis. Wajah Karel dan Mila terlihat sangat panik.

“Oliiiiv..” teriak Karel. Karel mengejarnya. Tetapi, Oliv sudah keburu naik taksi dan balik ke apartemen. Pikiran Oliv sudah sangat kacau. Ia pikir dirinya dan Karel tak akan menghadapi masalah yang besar terkait hubungan mereka, namun Oliv salah. Oliv langsung merapikan koper dan seluruh pakaiannya untuk pergi ke bandara. Ia langsung ingin pulang. Ia tak kuat untuk bertahan sampai lusa di Jepang.