“Eh lo gak cape, Kei? Dari tadi kita udah main banyak wahana. Ke sana yuk duduk, istirahat dulu.” ucap Nathan.
“Iya deh, yuk duduk.”
Nathan yang melihat Keira sangat asik dengan handphonenya pun penasaran mengapa Keira seperti sedang sangat bahagia.
“Ada apa, Kei? Lo keliatan seneng banget.” tanya Nathan.
“Oliv cerita sama gue katanya Kak Daren confess ke dia. Belum jadian sih kata Oliv, soalnya dia masih belum siap gitu. Apalagi abis kejadian pacarnya selingkuh dari dia.” jawab Keira.
“Seriusan? Wah parah Daren gak cerita sama gue.” ucap Nathan.
“Hahahaha coba aja tanya ke dia.”
“Si Oliv kok langsung mau nerima Daren gitu ya? Kan dia baru aja diselingkuhin sama pacarnya. Pasti dia masih suka sama mantannya itu.” ucap Nathan.
“Gak tau juga deh. Tapi kan tiap orang beda beda kan? Mungkin aja Oliv tipe orang yang bisa langsung nerima orang baru, lagian demi move on dari Karel juga kan.” ucap Keira.
“Karel itu mantannya?” tanya Nathan.
“Iya.”
“Kalo lo? Kalau lagi putus cinta kayak Oliv, langsung bisa nerima orang yang confess ke lo atau engga?” tanya Nathan.
“Kalau ada yang nembak, gue gak bakal terima sih, tapi kalau confess dan mau nunggu gue, mungkin aja? Ya kayak Oliv gitu minta Kak Daren untuk nunggu dia. Tapi, tergantung yang confess itu siapa. Mana mungkin ada orang sembarangan confess terus gue terima. Gak bakal lahh.” jawab Keira.
“Kalau gue yang confess, lo bakal suruh gue tunggu lo gak?” Pertanyaan Nathan membuat Keira terkejut. Namun ia menganggapnya sebagai bercandaan.
“Hahahahah bercanda lo.”
“Gue nanya, serius.” ucap Nathan.
“Eh?”
“Gue tau sih lo pasti masih mikirin Farrel kan? Gak papa, gue tunggu lo aja. Kalo lo udah siap untuk nerima gue, bilang ke gue, ya?” ucap Nathan dengan sangat serius yang membuat Keira menjadi berkeringat dingin.
“Lo suka sama gue?” tanya Keira.
“Might be more than just liking you.” Ucapan Nathan membuat Keira terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Nathan benar, Farrel masih terus berada di dalam pikirannya. Tetapi, Keira tak mau terus-menerus larut dalam kegalauan.
“Kei? Kalo gak mau gue tungguin, gak pap—
—Eh tapi lo beneran mau nunggu? Kalau lama gimana? Kasian lo nya, Than.”
“Gue bakal tunggu lo sampai kapan pun.” ucap Nathan. Keira tersenyum.
“Ya udah.”
“Boleh? Mau ditungguin? Beneran?” tanya Nathan dengan ekspresi yang gembira.
“Iyaaa, Nathan.”
“Kalau suatu saat lo udah siap untuk nerima gue, boleh gak kalau gue langsung seriusin lo aja?” tanya Nathan.
“Seriusin gimana maksudnya? Keira bertanya balik.
“Gue mau kita ke jenjang yang lebih serius. Bahkan kalau lo mau, gak usah pacaran. Kita tunangan atau langsung nikah juga boleh kalo lo mau.” ucap Nathan.
“Lo sayang banget ya sama gue?” tanya Keira.
“Iya. Maaf ya kalau lo kaget. Gue terlalu terburu-buru, ya?” tanya Nathan.
“Agak kaget sih, tapi gak papa kok. Gue gak bisa jawab apa-apa sekarang, Than. Maafin gue ya?” ucap Keira.
“Tadi kan gue bilang, gue bakal nunggu lo. Jadi kapan pun lo siap, gue pasti bakal selalu ada buat lo.” ucap Nathan.
Keira mengangguk sebagai tanda bahwa ia mengerti. Pembicaraan yang serius tersebut sampai membuat mereka lupa bahwa mereka sedang berada di tempat rekreasi yang ramai pengunjung. Setelah sudah puas bermain banyak wahana yang ada di tempat rekreasi tersebut, Nathan dan Keira langsung berkunjung ke rumah makan yang lokasinya tak jauh dari tempat rekreasi yang baru saja mereka kunjungi. Sesuai dengan perjanjian, Keira yang mentraktir makan. Setelah selesai makan, Nathan langsung mengantar Keira pulang ke rumahnya.