chaewrite

Beberapa jam sudah berlalu. Ayahnya Farrel yang tadi berkunjung ke rumah baru Farrel dan Keira pun sudah pulang. Kini Farrel dan Keira menghabiskan waktu bersama dengan berbincang-bincang, bercanda, makan, dan juga menunjukkan kasih sayang terhadap satu sama lain.

Jam dinding di kamar mereka pun sudah menunjukkan pukul 10 malam. Farrel dan Keira pun langsung beranjak ke kasur sambil tiduran dan membicarakan tentang banyak hal. Termasuk tentang rencana honeymoon mereka yang belum terlaksanakan.

“Liv, kan kita udah pindah ke sini nih sekarang. Berarti kita udah bisa honeymoon dong.” ucap Farrel.

“Wahh iyaaa.”

“Mau kapan? Minggu depan, mau?”

“Bolehh ayoo minggu depan.” ucap Keira.

“Sesuai rencana waktu itu, ya. Kita ke Bali terus ke Jepang. Sekalian jalan-jalan. Pasti seru banget.” ucap Farrel.

“Iyaaa.. asikk banget pasti terus nanti kita foto foto yang banyak buat kenang-kenangan.”

“Iyaaa. Nyebayanginnya nanti dulu, sekarang sini peluk.” ucap Farrel.

Farrel dan Keira saling memeluk satu sama lain sambil berbaring dan tak sadar mereka tertidur hingga matahari sudah terbit.

Daren dan Keira baru saja sampai di Play4Music Studio, tempat yang biasa digunakan oleh Daren, Nathan, dan Jetro untuk ngeband.

“Eh Ren udah sampe lo… halo, Keira?” ucap Jetro sambil menyapa Daren dan Keira yang baru saja sampai dengan nada bertanya.

“Halo juga Kak Jetro, Hai Nathan.” ucap Keira.

“Halo, Kei.” sapa Nathan.

“Kei, lo duduk di situ aja sambil liat kita ngeband. Lo mau request lagu gak?” ucap Daren.

“Lagu ballad mau?” tanya Jetro.

“Ih jangan ballad, nanti gue makin sedih. Yang ceria gitu kek lagunya.” ucap Keira.

“Oke oke.”

Alunan musik yang ceria yang dibawakan oleh Daren dan juga teman-temannya membuat mood Keira kembali bagus. Keira ikut bernyanyi dan tersenyum ceria seperti sedang menonton konser. Tak sadar, 2 jam sudah terlewati. Suara Daren terdengar sudah serak. Tangan Nathan dan Jetro yang seharusnya sudah pegal karena memainkan piano dan juga gitar pun tak pegal. Mereka sudah sering sekali berlatih bersama. Sedangkan Daren, ia jarang untuk latihan bernyanyi di rumah. Tetapi sungguh heran, suara Daren masih saja merdu.

“Guys, gua cabut duluan ya. Ada urusan.” ucap Jetro.

“Okee byee.”

“Kalian juga pulang?” tanya Nathan kepada Daren dan Keira.

“Engga. Ini mau ajak Keira jalan-jalan dulu.” jawab Daren.

“Ohh..”

“Mau ikut?” Daren menawarkan.

“Emang boleh?” tanya Nathan.

“Tanya Keira aja.”

“Boleh aja kok, kalau mau.”

“Yaudah gue ikut.”

Daren, Keira, dan Nathan pergi ke taman dekat studio untuk mencari udara segar. Keira dan Daren berangkat naik mobil, sedangkan Nathan mengendarai motor sport miliknya. Di taman tersebut juga ada gerai minuman seperti jus, teh, kopi, milkshake, dan lain-lain.

“Mau pesen apa, Kei?” Daren menawarkan.

“Jus mangga aja.”

“Traktir gua juga napa, Ren hehehehe.” ucap Nathan.

“Hahaha dasar.. yaudah mau apa?”

Chocolate milkshake aja.”

“Nih minumannya.”

“Thanks, Ren.”

“Makasihh kak.”

Keira meminum jus mangganya sambil menikmati angin berhembus yang membuat udaranya sejuk.

“Gimana, Kei? Udah mendingan?” tanya Daren.

“Udah banget kak. Makasih ya udah ngajak gue ikut kalian ngeband sama jalan-jalan juga.” ucap Keira.

Tiba-tiba ada suara telepon berdering. Ternyata Papanya Oliv menelpon Daren. “Tunggu guys, ada telpon dari bokap.”

Nathan dan Keira yang ditinggal berdua oleh Daren yang sedang menerima telepon hanya diam saja tanpa saling mengobrol. “Kei.” panggil Nathan. Keira menoleh ke arah Nathan. Sebelum Keira merespon panggilan dari Nathan, Daren sudah keburu datang.

“Eh guys, kayaknya gue harus pergi deh. Papa nyuruh gue bantuin kerjaannya.” ucap Daren.

“Terus gue gimana?” tanya Keira.

“Lo masih mau di sini atau mau ikut pulang aja?” tanya Daren.

“Masih mau di sini sebenernya.” ucap Keira.

“Gue aja yang nungguin Keira.” ucap Nathan.

“Oh ya udah. Kei, lo sama Nathan ya nanti baliknya.” ucap Daren.

“Oke oke. Hati-hati di jalan ya, Kak.”

————————————————————

“Tadi kenapa, Than?” tanya Keira.

“Mau nanya sih sebenernya, tapi gak enak.”

“Kata Kak Daren lo orangnya to the point, jadi tanya aja ke gue.”

“Ya gue to the point juga tetep punya manners kali.” ucap Nathan.

“Iya-iya.. yaudah mau nanya apa?”

“Lo kenapa sedih? Karna Farrel? Lo berantem sama dia?” tanya Nathan.

“Bukan gara gara itu. Gue sedih karena nyokap gue. Dokter bilang hidup nyokap gue gak lama lagi. Nyokap gue sakit kanker, Than.” ucap Keira.

“Sorry ya, gue gak tahu.”

“Gak papa.. gue gak punya siapa-siapa lagi selain nyokap gue. Bokap gue udah gak ada dan gue juga gak punya Kakak atau Adik. Sekarang, emang bener gue seakan-akan punya banyak orang yang selalu ada buat gue kayak Kak Daren, Oliv, Papanya Oliv, dan Farrel. Tapi, semuanya cuma sementara. Apalagi, lo tau sendiri gue udah ngebohongin semua orang. Eh, sorry. Too much information banget gak sih hehe.”

“Gak papa, Kei. Seneng kok dengerin lo cerita. Kalo lo gak punya tempat cerita, bisa cerita ke gue kok. Gue gak masalah.” ucap Nathan.

“Makasih yaa.”

By the way mau tukeran nomor hp gak?” tanya Nathan.

“Boleh aja. Sini mana hp lo.” Keira menambahkan nomor teleponnya di Hp Nathan.

“Udah gue save ya nomor gue di Hp lo. Coba missed call buat ngetes doang. Biar gue bisa save nomor lo juga.” ucap Keira.

“Udah tuh.”

“Sip.”

“Mau pulang sekarang gak?” tanya Nathan.

“Yaudah deh yuk, matahari udah mau terbenam juga.”

Nathan mengantar Keira pulang menggunakan motor sport miliknya. Mereka pun sampai dengan selamat di rumah Oliv pas saat matahari baru saja terbenam.

Tentang Keira dan Mamanya

Keira merasa sangat senang karena akhirnya ia bisa bertemu dengan Mamanya sebagai Keira, bukan Oliv. Hari ini Keira membeli mi ayam di dekat rumahnya untuk Mamanya sebelum pergi ke rumah sakit. Mi ayam adalah makanan kesukaan Mamanya.

“Mamaaa.”

“Keiiii, kamu kemana ajaaaa. Kok gak jenguk jenguk Mama sih. Mama kesepian tauu. Malah Oliv terus yang dateng ke sini.” ucap Mamanya Oliv.

“Maafin Keira ya, Mah. Tapi, ini Kei bawa makanan kesukaan Mama.” ucap Keira.

“Wahhh, mi ayammm.”

“Kei suapin ya, mah.”

“Iyaa, nak.”

Tak perlu waktu yang lama untuk Mamanya Keira menghabisi satu porsi mi ayam. Nampaknya Mamanya Keira seperti orang yang sedang kelaparan, padahal kata Suster ia baru saja makan. Mungkin karena mi ayam adalah makanan kesukaannya.

“Ini kamu beli di tempat yang dulu kita suka beli sama Papamu itu ya, Kei? Kangen banget sama rasanyaaaa.” ucap Mamanya Keira.

“Iyaaaa.”

“Mama kan pernah beli mi ayam yang di deket sini, nitip ke Suster waktu itu. Tapi sumpah Kei gak enak kayak gini.” ucap Mamanya.

“Hahahah Mamaaa.. mungkin Mama emang kangen banget sama mi ayam deket rumah kita kalii.”

“Kei, Mama mau tanya deh.”

“Mau tanya apa, mah?”

“Kamu sekarang gimana? Kerja apa? Kamu gak pernah cerita sama Mama. Padahal kan kita bisa chattan.” Pertanyaan yang dilontarkan oleh Mamanya Keira membuat Keira merasa sedih dan merasa bersalah. Ia merasa sedih karena dia sudah membohongi banyak sekali orang di sekitar dirinya. Ia pun merasa bersalah karena dirinya tak bisa terbuka sepenuhnya dan menceritakan semua hal yang terjadi kepada Mamanya. Rasanya campur aduk sekali. Keira merasa tak mempunyai tempat curhat untuk menceritakan semua keluh kesah yang sedang ia rasakan belakangan ini.

“Aku kerja, mah. Aku baik-baik aja kok.” Hanya itu yang bisa Keira ucapkan.

“Kerja apa, nak? Yang halal kan?”

“A-aku.. ngebohongin semua orang.” Keira memutuskan untuk jujur ke Mamanya. Ini adalah keputusan yang terbaik untuknya, ia pikir.

“Kamu menipu? Kei… itu gak baik. Mama sama Papa gak pernah ngajarin kamu untuk nipu orang. Kamu ini kenapa sih?”—

—“Jawab Mama, Kei. Kok kamu diam aja?”

Keira memang ingin menceritakan semuanya dengan jujur kepada Mamanya. Akan tetapi, rasanya berat sekali. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengeluarkan air mata.

“Kok kamu nangis? Nak.. Keira sayang? Kamu kenapa? Cerita sama Mama.”

“M-mama, maafin Keira.. Keira kerja dan pura-pura jadi Oliv untuk nikah sama Farrel. Oliv minta bantuan dari Keira untuk gantiin dia. Oliv bayar Keira… Oliv ngebiayain biaya kemoterapi Mama sebagai imbalannya… Mama, Keira minta maaf banget. Aku tau, aku salah.” Keira menjelaskan semuanya sambil menangis sesenggukan.

“Jadi selama ini yang jenguk Mama itu kamu?”

“I-iyaa, mah.”

Mamanya mengelus-elus pundak Keira dan memeluknya erat. “Kei, Mama gak bisa nyalahin kamu sepenuhnya. Yang lagi kamu jalanin itu hidup kamu sendiri. Tapi, Mama sebagai orangtua kamu hanya mau memberi saran. Mama saranin kamu cepat jujur kepada semua orang yang kamu dan Oliv bohongi. Bohong itu gak baik, nak.”

“Iya mah, tapi Kei butuh waktu. Masalahnya, Oliv juga nyuruh aku buat gak kasih tau ke siapa-siapa.”

“Iya Mama mengerti. Tapi saat kamu sudah siap untuk jujur, langsung lakuin ya? Untuk kebaikan kamu, Oliv, dan semuanya juga kan?”

“Iya mah, Tapi Kei salah banget, mah. Aku terlanjur suka sama Farrel. Aku sayang banget sama dia. Aku bener-bener salah. Gak seharusnya aku suka sama Farrel. Aku gak tau harus kayak gimana.” Keira semakin menangis sesenggukan.

Mamanya memeluk Keira sambil menepuk-nepuk pundaknya dengan perlahan agar Keira menjadi lebih tenang. “Nangis gak papa, nak. Keluarin aja semuanya. Tapi, abis ini kamu tenangin diri kamu ya. Kamu boleh cerita apapun ke Mama. Kamu boleh chat atau telpon mama.. boleh banget malah, Kei.”

“Huhuhu.. iya, mah.”

Di sela-sela Keira menangis, ia teringat akan Farrel yang menitipkan salam untuk Mamanya. “Mah, tadi Farrel titip salam buat Mama.”

“Sampaikan kembali, ya. Salam balik untuk Farrel.” ucap Mamanya.

15 menit setelah Keira selesai menangis, tiba-tiba ada Dokter dan Suster yang datang.

“Permisi Mba Keira, waktu kunjungannya sudah habis. Ibu kamu harus istirahat dulu, ya.” ucap Suster.

“Wah ada nak Keira di sini. Kebetulan ada yang saya ingin bicarakan.” ucap Dokter.

“Mau ngomongin apa, Dok?” tanya Mamanya Keira.

“Nanti dulu yaa, bu.”

“Mama, aku duluan ya. Nanti aku jenguk ke sini lagi.” Keira memeluk Mamanya sekali lagi sebelum ia pergi dari ruang rawat inap Mamanya.

Keira mengikuti Dokter Rani masuk ke dalam ruangannya. “Dokter mau ngomongin apa ya, Dok? Mama saya baik-baik saja, kan?”

“Begini.. saya ingin memberi tahu bahwa sel kanker di tubuh Ibu kamu menyebar semakin luas dan semakin parah. Kemungkinan Ibu kamu tidak bisa bertahan lebih lama lagi.”

“Maksud Dokter? Ibu saya gak akan bisa sembuh?”

“Kalau untuk sembuh, saya tak bisa menjawab apa-apa. Kita doakan yang terbaik saja ya, untuk Ibu kamu.”

Keira tak kuat menahan isak tangisnya. Ia berjalan pulang ke rumah sambil menangis. Ia gak tahu apa yang harus ia lakukan agar Mamanya bisa tetap hidup. Tetapi, Keira sudah pasrah. Ia hanya bisa berdoa dan berharap kalau Mamanya akan baik-baik saja.

Tentang Keira dan Mamanya

Keira merasa sangat senang karena akhirnya ia bisa bertemu dengan Mamanya sebagai Keira, bukan Oliv. Hari ini Keira membeli mi ayam di dekat rumahnya untuk Mamanya sebelum pergi ke rumah sakit. Mi ayam adalah makanan kesukaan Mamanya.

“Mamaaa.”

“Keiiii, kamu kemana ajaaaa. Kok gak jenguk jenguk Mama sih. Mama kesepian tauu. Malah Oliv terus yang dateng ke sini.” ucap Mamanya Oliv.

“Maafin Keira ya, Mah. Tapi, ini Kei bawa makanan kesukaan Mama.” ucap Keira.

“Wahhh, mi ayammm.”

“Kei suapin ya, mah.”

“Iyaa, nak.”

Tak perlu waktu yang lama untuk Mamanya Keira menghabisi satu porsi mi ayam. Nampaknya Mamanya Keira seperti orang yang sedang kelaparan, padahal kata Suster ia baru saja makan. Mungkin karena mi ayam adalah makanan kesukaannya.

“Ini kamu beli di tempat yang dulu kita suka beli sama Papamu itu ya, Kei? Kangen banget sama rasanyaaaa.” ucap Mamanya Keira.

“Iyaaaa.”

“Mama kan pernah beli mi ayam yang di deket sini, nitip ke Suster waktu itu. Tapi sumpah Kei gak enak kayak gini.” ucap Mamanya.

“Hahahah Mamaaa.. mungkin Mama emang kangen banget sama mi ayam deket rumah kita kalii.”

“Kei, Mama mau tanya deh.”

“Mau tanya apa, mah?”

“Kamu sekarang gimana? Kerja apa? Kamu gak pernah cerita sama Mama. Padahal kan kita bisa chattan.” Pertanyaan yang dilontarkan oleh Mamanya Keira membuat Keira merasa sedih dan merasa bersalah. Ia merasa sedih karena dia sudah membohongi banyak sekali orang di sekitar dirinya. Ia pun merasa bersalah karena dirinya tak bisa terbuka sepenuhnya dan menceritakan semua hal yang terjadi kepada Mamanya. Rasanya campur aduk sekali. Keira merasa tak mempunyai tempat curhat untuk menceritakan semua keluh kesah yang sedang ia rasakan belakangan ini.

“Aku kerja, mah. Aku baik-baik aja kok.” Hanya itu yang bisa Keira ucapkan.

“Kerja apa, nak? Yang halal kan?”

“A-aku.. ngebohongin semua orang.” Keira memutuskan untuk jujur ke Mamanya. Ini adalah keputusan yang terbaik untuknya, ia pikir.

“Kamu menipu? Kei… itu gak baik. Mama sama Papa gak pernah ngajarin kamu untuk nipu orang. Kamu ini kenapa sih?”—

—“Jawab Mama, Kei. Kok kamu diam aja?”

Keira memang ingin menceritakan semuanya dengan jujur kepada Mamanya. Akan tetapi, rasanya berat sekali. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengeluarkan air mata.

“Kok kamu nangis? Nak.. Keira sayang? Kamu kenapa? Cerita sama Mama.”

“M-mama, maafin Keira.. Keira kerja dan pura-pura jadi Oliv untuk nikah sama Farrel. Oliv minta bantuan dari Keira untuk gantiin dia. Oliv bayar Keira… Oliv ngebiayain biaya kemoterapi Mama sebagai imbalannya… Mama, Keira minta maaf banget. Aku tau, aku salah.” Keira menjelaskan semuanya sambil menangis sesenggukan.

“Jadi selama ini yang jenguk Mama itu kamu?”

“I-iyaa, mah.”

Mamanya mengelus-elus pundak Keira dan memeluknya erat. “Kei, Mama gak bisa nyalahin kamu sepenuhnya. Yang lagi kamu jalanin itu hidup kamu sendiri. Tapi, Mama sebagai orangtua kamu hanya mau memberi saran. Mama saranin kamu cepat jujur kepada semua orang yang kamu dan Oliv bohongi. Bohong itu gak baik, nak.”

“Iya mah, tapi Kei butuh waktu. Masalahnya, Oliv juga nyuruh aku buat gak kasih tau ke siapa-siapa.”

“Iya Mama mengerti. Tapi saat kamu sudah siap untuk jujur, langsung lakuin ya? Untuk kebaikan kamu, Oliv, dan semuanya juga kan?”

“Iya mah, Tapi Kei salah banget, mah. Aku terlanjur suka sama Farrel. Aku sayang banget sama dia. Aku bener-bener salah. Gak seharusnya aku suka sama Farrel. Aku gak tau harus kayak gimana.” Keira semakin menangis sesenggukan.

Mamanya memeluk Keira sambil menepuk-nepuk pundaknya dengan perlahan agar Keira menjadi lebih tenang. “Nangis gak papa, nak. Keluarin aja semuanya. Tapi, abis ini kamu tenangin diri kamu ya. Kamu boleh cerita apapun ke Mama. Kamu boleh chat atau telpon mama.. boleh banget malah, Kei.”

“Huhuhu.. iya, mah.”

15 menit setelah Keira selesai menangis, tiba-tiba ada Dokter dan Suster yang datang.

“Permisi Mba Keira, waktu kunjungannya sudah habis. Ibu kamu harus istirahat dulu, ya.” ucap Suster.

“Wah ada nak Keira di sini. Kebetulan ada yang saya ingin bicarakan.” ucap Dokter.

“Mau ngomongin apa, Dok?” tanya Mamanya Keira.

“Nanti dulu yaa, bu.”

“Mama, aku duluan ya. Nanti aku jenguk ke sini lagi.” Keira memeluk Mamanya sekali lagi sebelum ia pergi dari ruang rawat inap Mamanya.

Keira mengikuti Dokter Rani masuk ke dalam ruangannya. “Dokter mau ngomongin apa ya, Dok? Mama saya baik-baik saja, kan?”

“Begini.. saya ingin memberi tahu bahwa sel kanker di tubuh Ibu kamu menyebar semakin luas dan semakin parah. Kemungkinan Ibu kamu tidak bisa bertahan lebih lama lagi.”

“Maksud Dokter? Ibu saya gak akan bisa sembuh?”

“Kalau untuk sembuh, saya tak bisa menjawab apa-apa. Kita doakan yang terbaik saja ya, untuk Ibu kamu.”

Keira tak kuat menahan isak tangisnya. Ia berjalan pulang ke rumah sambil menangis. Ia gak tahu apa yang harus ia lakukan agar Mamanya bisa tetap hidup. Tetapi, Keira sudah pasrah. Ia hanya bisa berdoa dan berharap kalau Mamanya akan baik-baik saja.

Tentang Keira dan Mamanya

Keira merasa sangat senang karena akhirnya ia bisa bertemu dengan Mamanya sebagai Keira, bukan Oliv. Hari ini Keira membeli mi ayam di dekat rumahnya untuk Mamanya sebelum pergi ke rumah sakit. Mi ayam adalah makanan kesukaan Mamanya.

“Mamaaa.”

“Keiiii, kamu kemana ajaaaa. Kok gak jenguk jenguk Mama sih. Mama kesepian tauu. Malah Oliv terus yang dateng ke sini.” ucap Mamanya Oliv.

“Maafin Keira ya, Mah. Tapi, ini Kei bawa makanan kesukaan Mama.” ucap Keira.

“Wahhh, mi ayammm.”

“Kei suapin ya, mah.”

“Iyaa, nak.”

Tak perlu waktu yang lama untuk Mamanya Keira menghabisi satu porsi mi ayam. Nampaknya Mamanya Keira seperti orang yang sedang kelaparan, padahal kata Suster ia baru saja makan. Mungkin karena mi ayam adalah makanan kesukaannya.

“Ini kamu beli di tempat yang dulu kita suka beli sama Papamu itu ya, Kei? Kangen banget sama rasanyaaaa.” ucap Mamanya Keira.

“Iyaaaa.”

“Mama kan pernah beli mi ayam yang di deket sini, nitip ke Suster waktu itu. Tapi sumpah Kei gak enak kayak gini.” ucap Mamanya.

“Hahahah Mamaaa.. mungkin Mama emang kangen banget sama mi ayam deket rumah kita kalii.”

“Kei, Mama mau tanya deh.”

“Mau tanya apa, mah?”

“Kamu sekarang gimana? Kerja apa? Kamu gak pernah cerita sama Mama. Padahal kan kita bisa chattan.” Pertanyaan yang dilontarkan oleh Mamanya Keira membuat Keira merasa sedih dan merasa bersalah. Ia merasa sedih karena dia sudah membohongi banyak sekali orang di sekitar dirinya. Ia pun merasa bersalah karena dirinya tak bisa terbuka sepenuhnya dan menceritakan semua hal yang terjadi kepada Mamanya. Rasanya campur aduk sekali. Keira merasa tak mempunyai tempat curhat untuk menceritakan semua keluh kesah yang sedang ia rasakan belakangan ini.

“Aku kerja, mah. Aku baik-baik aja kok.” Hanya itu yang bisa Keira ucapkan.

“Kerja apa, nak? Yang halal kan?”

“A-aku.. ngebohongin semua orang.” Keira memutuskan untuk jujur ke Mamanya. Ini adalah keputusan yang terbaik untuknya, ia pikir.

“Kamu menipu? Kei… itu gak baik. Mama sama Papa gak pernah ngajarin kamu untuk nipu orang. Kamu ini kenapa sih?”—

—“Jawab Mama, Kei. Kok kamu diam aja?”

Keira memang ingin menceritakan semuanya dengan jujur kepada Mamanya. Akan tetapi, rasanya berat sekali. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengeluarkan air mata.

“Kok kamu nangis? Nak.. Keira sayang? Kamu kenapa? Cerita sama Mama.”

“M-mama, maafin Keira.. Keira kerja dan pura-pura jadi Oliv untuk nikah sama Farrel. Oliv minta bantuan dari Keira untuk gantiin dia. Oliv bayar Keira… Oliv ngebiayain biaya kemoterapi Mama sebagai imbalannya… Mama, Keira minta maaf banget. Aku tau, aku salah.” Keira menjelaskan semuanya sambil menangis sesenggukan.

“Jadi selama ini yang jenguk Mama itu kamu?”

“I-iyaa, mah.”

Mamanya mengelus-elus pundak Keira dan memeluknya erat. “Kei, Mama gak bisa nyalahin kamu sepenuhnya. Yang lagi kamu jalanin itu hidup kamu sendiri. Tapi, Mama sebagai orangtua kamu hanya mau memberi saran. Mama saranin kamu cepat jujur kepada semua orang yang kamu dan Oliv bohongi. Bohong itu gak baik, nak.”

“Iya mah, tapi Kei butuh waktu. Masalahnya, Oliv juga nyuruh aku buat gak kasih tau ke siapa-siapa.”

“Iya Mama mengerti. Tapi saat kamu sudah siap untuk jujur, langsung lakuin ya? Untuk kebaikan kamu, Oliv, dan semuanya juga kan?”

“Iya mah, Tapi Kei salah banget, mah. Aku terlanjur suka sama Farrel. Aku sayang banget sama dia. Aku bener-bener salah. Gak seharusnya aku suka sama Farrel. Aku gak tau harus kayak gimana.” Keira semakin menangis sesenggukan.

Mamanya hanya memeluk Keira dan menepuk-nepuk pundaknya dengan perlahan agar Keira menjadi lebih tenang. “Nangis gak papa, nak. Keluarin aja semuanya. Tapi, abis ini kamu tenangin diri kamu ya. Kamu boleh cerita apapun ke Mama. Kamu boleh chat atau telpon mama.. boleh banget malah, Kei.”

“Huhuhu.. iya, mah.”

15 menit setelah Keira selesai menangis, tiba-tiba ada Dokter dan Suster yang datang.

“Permisi Mba Keira, waktu kunjungannya sudah habis. Ibu kamu harus istirahat dulu, ya.” ucap Suster.

“Wah ada nak Keira di sini. Kebetulan ada yang saya ingin bicarakan.” ucap Dokter.

“Mau ngomongin apa, Dok?” tanya Mamanya Keira.

“Nanti dulu yaa, bu.”

“Mama, aku duluan ya. Nanti aku jenguk ke sini lagi.” Keira memeluk Mamanya sekali lagi sebelum ia pergi dari ruang rawat inap Mamanya.

Keira mengikuti Dokter Rani masuk ke dalam ruangannya. “Dokter mau ngomongin apa ya, Dok? Mama saya baik-baik saja, kan?”

“Begini.. saya ingin memberi tahu bahwa sel kanker di tubuh Ibu kamu menyebar semakin luas dan semakin parah. Kemungkinan Ibu kamu tidak bisa bertahan lebih lama lagi.”

“Maksud Dokter? Ibu saya gak akan bisa sembuh?”

“Kalau untuk sembuh, saya tak bisa menjawab apa-apa. Kita doakan yang terbaik saja ya, untuk Ibu kamu.”

Keira tak kuat menahan isak tangisnya. Ia berjalan pulang ke rumah sambil menangis. Ia gak tahu apa yang harus ia lakukan agar Mamanya bisa tetap hidup. Tetapi, Keira sudah pasrah. Ia hanya bisa berdoa dan berharap kalau Mamanya akan baik-baik saja.

Di Supermarket

Keira dan Farrel sudah sampai di supermarket. Mereka berbelanja banyak sekali bahan makanan dan camilan. Mereka pun juga sebenarnya tidak tahu untuk apa mereka membelanjakan bahan makanan segitu banyaknya. Tetapi, bisa untuk stok nanti saat sudah punya rumah baru, kalau kata Farrel.

“Kenapa belanja banyak banget dari sekarang? Kan kita pindah rumahnya masih minggu depan.” ucap Keira.

“Ya enggak papa. Takutnya, nanti ribet kalau belanja pas lagi proses pindahan.” jawab Farrel.

Keira mengajak Farrel untuk pergi ke lorong bagian sereal. Ada banyak sekali varian rasa dari mulai coklat, vanilla, pisang hingga stroberi.

“Rel sini deh, fotoin aku. Terus kita foto bareng.” ucap Keira.

“Hahahah oke oke tunggu.”

Cekrek cekrek” bunyi jepretan kamera handphone Farrel berbunyi sebanyak lebih dari 10 kali. Sungguh banyak foto yang mereka ambil dari mulai foto Keira dan Farrel sendiri masing-masing bersama background sereal dan juga foto mereka berdua menggunakan kamera depan maupun kamera belakang.

“Nanti kirim ke aku yaa rel”

“Sippp.”

Mereka pun terus berjalan menyusuri setiap lorong yang ada di supermarket untuk mencari camilan yang unik-unik. Farrel berpencar sebentar untuk mencari potato chips. Saat berjalan, Keira tidak sengaja ditabrak oleh seorang lelaki yang sedang berjalan bersama Ibunya.

“Eh sorry sor— Keira? Eh apa Oliv?” ucap lelaki itu.

“Nathan?”

“Oh lo Keira ya?”

Belum sempat menjawab, Farrel datang menghampiri Keira. “Ini Liv ak— Loh, Nathan?”

“Lah rel lo di sini juga?” tanya Nathan.

“Loh lo kenal Oliv?” Farrel bertanya balik.

“Lah ini Oliv? Bukan Keira?”

“Hehehe gue Oliv.” Keira menjawab dengan sedikit panik dan ia berusaha untuk menutupi rasa paniknya.

“Kok kalian bisa kenal?” tanya Farrel kebingungan.

“Oliv kan adiknya Daren. Daren sahabat gua.” ucap Nathan.

“Demi apa? Gua gak nyangka kalo lo ternyara sahabatan sama Daren.” ucap Farrel.

“Gua gak nyangka juga kita kenal dan saling relate gini, dunia sempit banget gak sih?”

“Iyaaa bener haha.” Farrel senyum dan sedikit tertawa.

“Mah, ini adiknya Daren.” ucap Nathan kepada Mamanya.

“Ohh ini adiknya Daren temanmu toh.. Cantik yaa.” ucap Mamanya Nathan.

“Terima kasih tante. Salam kenal aku Oliv.” ucap Keira.

“Nathan, gue sama Farrel pergi duluan yaa.” ucap Oliv.

“Oh iya okee.”

“Duluan yaa tante.” ucap Oliv dan Farrel.

Mendengar bahwa yang baru saja Nathan temui adalah Oliv dan bukan Keira, dirinya merasa bingung sekali. “Oliv kan selalu panggil gua dengan sebutan Kak. Kok tadi panggil gua Nathan? Yang gua suruh panggil nama aja kan Keira, bukan Oliv.” batin Nathan.

Hal tersebut terus terusan menjadi beban pikiran Nathan karena ia merasa ada hal yang aneh. Karena rasa penasarannya, ia berencana untuk menanyakan hal ini kepada Daren.

———————————————————— “Liv kamu kok gak bilang kalo kamu kenal sama Nathan?” tanya Farrel saat mereka sudah di mobil dan sudah membawa banyak belanjaan di mobil.

“Lah kamuu gak pernah bilang kalau Nathan temen ngegym kamu itu Nathan temennya Kak Daren.” ucap Keira.

“Aku juga gak tau kalau Nathan itu temennya Daren hahahah. Sumpah aku beneran gak nyangka banget loh, Liv.” ucap Farrel.

“Iyaaa aku juga hahah.” Keira tertawa kecil.

“Ini langsung aku anter pulang aja ya? Aku mau pergi soalnya, ada urusan sebentar.”

“Ohh iyaa langsung pulang aja gak papa.” ucap Keira. Farrel pun mengantar Keira pulang dan sampai di rumah dengan selamat.

Di Supermarket

Keira dan Farrel sudah sampai di supermarket. Mereka berbelanja banyak sekali bahan makanan dan camilan. Mereka pun juga sebenarnya tidak tahu untuk apa mereka membelanjakan bahan makanan segitu banyaknya. Tetapi, bisa untuk stok nanti saat sudah punya rumah baru, kalau kata Farrel.

“Kenapa belanja banyak banget dari sekarang? Kan kita pindah rumahnya masih minggu depan.” ucap Keira.

“Ya enggak papa. Takutnya, nanti ribet kalau belanja pas lagi proses pindahan.” jawab Farrel.

Keira mengajak Farrel untuk pergi ke lorong bagian sereal. Ada banyak sekali varian rasa dari mulai coklat, vanilla, pisang hingga stroberi.

“Rel sini deh, fotoin aku. Terus kita foto bareng.” ucap Keira.

“Hahahah oke oke tunggu.”

Cekrek cekrek” bunyi jepretan kamera handphone Farrel berbunyi sebanyak lebih dari 10 kali. Sungguh banyak foto yang mereka ambil dari mulai foto Keira dan Farrel sendiri masing-masing bersama background sereal dan juga foto mereka berdua menggunakan kamera depan maupun kamera belakang.

“Nanti kirim ke aku yaa rel”

“Sippp.”

Mereka pun terus berjalan menyusuri setiap lorong yang ada di supermarket untuk mencari camilan yang unik-unik. Farrel berpencar sebentar untuk mencari potato chips. Saat berjalan, Keira tidak sengaja ditabrak oleh seorang lelaki yang sedang berjalan bersama Ibunya.

“Eh sorry sor— Keira? Eh apa Oliv?” ucap lelaki itu.

“Nathan?”

“Oh lo Keira ya?”

Belum sempat menjawab, Farrel datang menghampiri Keira. “Ini Liv ak— Loh, Nathan?”

“Lah rel lo di sini juga?” tanya Nathan.

“Loh lo kenal Oliv?” Farrel bertanya balik.

“Lah ini Oliv? Bukan Keira?”

“Hehehe gue Oliv.” Keira menjawab dengan sedikit panik dan ia berusaha untuk menutupi rasa paniknya.

“Kok kalian bisa kenal?” tanya Farrel kebingungan.

“Oliv kan adiknya Daren. Daren sahabat gua.” ucap Nathan.

“Demi apa? Gua gak nyangka kalo lo ternyara sahabatan sama Daren.” ucap Farrel.

“Gua gak nyangka juga kita kenal dan saling relate gini, dunia sempit banget gak sih?”

“Iyaaa bener haha.” Farrel senyum dan sedikit tertawa.

“Mah, ini adiknya Daren.” ucap Nathan kepada Mamanya.

“Ohh ini adiknya Daren temanmu toh.. Cantik yaa.” ucap Mamanya Nathan.

“Terima kasih tante. Salam kenal aku Oliv.” ucap Keira.

“Nathan, gue sama Farrel pergi duluan yaa.” ucap Oliv.

“Oh iya okee.”

“Duluan yaa tante.” ucap Oliv dan Farrel.

Mendengar bahwa yang baru saja Nathan temui adalah Oliv dan bukan Keira, dirinya merasa bingung sekali. “Oliv kan selalu panggil gua dengan sebutan Kak. Kok tadi panggil gua Nathan? Yang gua suruh panggil nama aja kan Keira, bukan Oliv.” batin Nathan.

Hal tersebut terus terusan menjadi beban pikiran Nathan karena ia merasa ada hal yang aneh. Karena rasa penasarannya, ia menanyakan hal ini kepada Daren.

———————————————————— “Liv kamu kok gak bilang kalo kamu kenal sama Nathan?” tanya Farrel saat mereka sudah di mobil dan sudah membawa banyak belanjaan di mobil.

“Lah kamuu gak pernah bilang kalau Nathan temen ngegym kamu itu Nathan temennya Kak Daren.” ucap Keira.

“Aku juga gak tau kalau Nathan itu temennya Daren hahahah. Sumpah aku beneran gak nyangka banget loh, Liv.” ucap Farrel.

“Iyaaa aku juga hahah.” Keira tertawa kecil.

“Ini langsung aku anter pulang aja ya? Aku mau pergi soalnya, ada urusan sebentar.”

“Ohh iyaa langsung pulang aja gak papa.” ucap Keira. Farrel pun mengantar Keira pulang dan sampai di rumah dengan selamat.

Di Supermarket

Keira dan Farrel sudah sampai di supermarket. Mereka berbelanja banyak sekali bahan makanan dan camilan. Mereka pun juga sebenarnya tidak tahu untuk apa mereka membelanjakan bahan makanan segitu banyaknya. Tetapi, bisa untuk stok nanti saat sudah punya rumah baru, kalau kata Farrel.

“Kenapa belanja banyak banget dari sekarang? Kan kita pindah rumahnya masih minggu depan.” ucap Keira.

“Ya enggak papa. Takutnya, nanti ribet kalau belanja pas lagi proses pindahan.” jawab Farrel.

Keira mengajak Farrel untuk pergi ke lorong bagian sereal. Ada banyak sekali varian rasa dari mulai coklat, vanilla, pisang hingga stroberi.

“Rel sini deh, fotoin aku. Terus kita foto bareng.” ucap Keira.

“Hahahah oke oke tunggu.”

Cekrek cekrek” bunyi jepretan kamera handphone Farrel berbunyi sebanyak lebih dari 10 kali. Sungguh banyak foto yang mereka ambil dari mulai foto Keira dan Farrel sendiri masing-masing bersama background sereal dan juga foto mereka berdua menggunakan kamera depan maupun kamera belakang.

“Nanti kirim ke aku yaa rel”

“Sippp.”

Mereka pun terus berjalan menysuri setiap lorong yang ada di supermarket untuk mencari camilan yang unik-unik. Farrel berpencar sebentar untuk mencari potato chips. Saat berjalan, Keira tidak sengaja ditabrak oleh seorang lelaki yang sedang berjalan bersama Ibunya.

“Eh sorry sor— Keira? Eh apa Oliv?” ucap lelaki itu.

“Nathan?”

“Oh lo Keira ya?”

Belum sempat menjawab, Farrel datang menghampiri Keira. “Ini Liv ak— Loh, Nathan?”

“Lah rel lo di sini juga?” tanya Nathan.

“Loh lo kenal Oliv?” Farrel bertanya balik.

“Lah ini Oliv? Bukan Keira?”

“Hehehe gue Oliv.” Keira menjawab dengan sedikit panik dan ia berusaha untuk menutupi rasa paniknya.

“Kok kalian bisa kenal?” tanya Farrel kebingungan.

“Oliv kan adiknya Daren. Daren sahabat gua.” ucap Nathan.

“Demi apa? Gua gak nyangka kalo lo ternyara sahabatan sama Daren.” ucap Farrel.

“Gua gak nyangka juga kita kenal dan saling relate gini, dunia sempit banget gak sih?”

“Iyaaa bener haha.” Farrel senyum dan sedikit tertawa.

“Mah, ini adiknya Daren.” ucap Nathan kepada Mamanya.

“Ohh ini adiknya Daren temanmu toh.. Cantik yaa.” ucap Mamanya Nathan.

“Terima kasih tante. Salam kenal aku Oliv.” ucap Keira.

“Nathan, gue sama Farrel pergi duluan yaa.” ucap Oliv.

“Oh iya okee.”

“Duluan yaa tante.” ucap Oliv dan Farrel.

Mendengar bahwa yang baru saja Nathan temui adalah Oliv dan bukan Keira, dirinya merasa bingung sekali. “Oliv kan selalu panggil gua dengan sebutan Kak. Kok tadi panggil gua Nathan? Yang gua suruh panggil nama aja kan Keira, bukan Oliv.” batin Nathan.

Hal tersebut terus terusan menjadi beban pikiran Nathan karena ia merasa ada hal yang aneh. Karena rasa penasarannya, ia menanyakan hal ini kepada Daren.

———————————————————— “Liv kamu kok gak bilang kalo kamu kenal sama Nathan?” tanya Farrel saat mereka sudah di mobil dan sudah membawa banyak belanjaan di mobil.

“Lah kamuu gak pernah bilang kalau Nathan temen ngegym kamu itu Nathan temennya Kak Daren.” ucap Keira.

“Aku juga gak tau kalau Nathan itu temennya Daren hahahah. Sumpah aku beneran gak nyangka banget loh, Liv.” ucap Farrel.

“Iyaaa aku juga hahah.” Keira tertawa kecil.

“Ini langsung aku anter pulang aja ya? Aku mau pergi soalnya, ada urusan sebentar.”

“Ohh iyaa langsung pulang aja gak papa.” ucap Keira. Farrel pun mengantar Keira pulang dan sampai di rumah dengan selamat.

Di Supermarket

Keira dan Farrel sudah sampai di supermarket. Mereka berbelanja banyak sekali bahan makanan dan camilan. Mereka pun juga sebenarnya tidak tahu untuk apa mereka membelanjakan bahan makanan segitu banyaknya. Tetapi, bisa untuk stok nanti saat sudah punya rumah baru, kalau kata Farrel.

“Kenapa belanja banyak banget dari sekarang? Kan kita pindah rumahnya masih minggu depan.” ucap Keira.

“Ya enggak papa. Takutnya, nanti ribet kalau belanja pas lagi proses pindahan.” jawab Farrel.

Keira mengajak Farrel untuk pergi ke lorong bagian sereal. Ada banyak sekali varian rasa dari mulai coklat, vanilla, pisang hingga stroberi.

“Rel sini deh, fotoin aku. Terus kita foto bareng.” ucap Keira.

“Hahahah oke oke tunggu.”

Cekrek cekrek” bunyi jepretan kamera handphone Farrel berbunyi sebanyak lebih dari 10 kali. Sungguh banyak foto yang mereka ambil dari mulai foto Keira dan Farrel sendiri masing-masing bersama background sereal dan juga foto mereka berdua menggunakan kamera depan maupun kamera belakang.

“Nanti kirim ke aku yaa rel”

“Sippp.”

Mereka pun terus berjalan menysuri setiap lorong yang ada di supermarket untuk mencari camilan yang unik-unik. Farrel berpencar sebentar untuk mencari potato chips. Saat berjalan, Keira tidak sengaja ditabrak oleh seorang lelaki yang sedang berjalan bersama Ibunya.

“Eh sorry sor— Keira? Eh apa Oliv?” ucap lelaki itu.

“Nathan?”

“Oh lo Keira ya?”

Belum sempat menjawab, Farrel datang menghampiri Keira. “Ini Liv ak— Loh, Nathan?”

“Lah rel lo di sini juga?” tanya Nathan.

“Loh lo kenal Oliv?” Farrel bertanya balik.

“Lah ini Oliv? Bukan Keira?”

“Hehehe gue Oliv.” Keira menjawab dengan sedikit panik dan ia berusaha untuk menutupi rasa paniknya.

“Kok kalian bisa kenal?” tanya Farrel kebingungan.

“Oliv kan adiknya Daren. Daren sahabat gua.” ucap Nathan.

“Demi apa? Gua gak nyangka.” ucap Farrel.

“Mah, ini adiknya Daren.” ucap Nathan kepada Mamanya.

“Ohh ini adiknya Daren temanmu toh.. Cantik yaa.” ucap Mamanya Nathan.

“Terima kasih tante. Salam kenal aku Oliv.” ucap Keira.

“Nathan, gue sama Farrel pergi duluan yaa.” ucap Oliv.

“Oh iya okee.”

“Duluan yaa tante.” ucap Oliv dan Farrel.

Mendengar bahwa yang baru saja Nathan temui adalah Oliv dan bukan Keira, dirinya merasa bingung sekali. “Oliv kan selalu panggil gua dengan sebutan Kak. Kok tadi panggil gua Nathan? Yang gua suruh panggil nama aja kan Keira, bukan Oliv.” batin Nathan.

Hal tersebut terus terusan menjadi beban pikiran Nathan karena ia merasa ada hal yang aneh. Karena rasa penasarannya, ia menanyakan hal ini kepada Daren.

Di supermarket

Keira dan Farrel sudah sampai di supermarket. Mereka berbelanja banyak sekali bahan makanan dan camilan. Mereka pun juga sebenarnya tidak tahu untuk apa mereka membelanjakan bahan makanan segitu banyaknya. Tetapi, bisa untuk stok nanti saat sudah punya rumah baru, kalau kata Farrel.

“Kenapa belanja banyak banget dari sekarang? Kan kita pindah rumahnya masih minggu depan.” ucap Keira.

“Ya enggak papa. Takutnya, nanti ribet kalau belanja pas lagi proses pindahan.” jawab Farrel.

Keira mengajak Farrel untuk pergi ke lorong bagian sereal. Ada banyak sekali varian rasa dari mulai coklat, vanilla, pisang hingga stroberi.

“Rel sini deh, fotoin aku. Terus kita foto bareng.” ucap Keira.

“Hahahah oke oke tunggu.”

Cekrek cekrek” bunyi jepretan kamera handphone Farrel berbunyi sebanyak lebih dari 10 kali. Sungguh banyak foto yang mereka ambil dari mulai foto Keira dan Farrel sendiri masing-masing bersama background sereal dan juga foto mereka berdua menggunakan kamera depan maupun kamera belakang.

“Nanti kirim ke aku yaa rel”

“Sippp.”

Mereka pun terus berjalan menysuri setiap lorong yang ada di supermarket untuk mencari camilan yang unik-unik. Farrel berpencar sebentar untuk mencari potato chips. Saat berjalan, Keira tidak sengaja ditabrak oleh seorang lelaki yang sedang berjalan bersama Ibunya.

“Eh sorry sor— Keira? Eh apa Oliv?” ucap lelaki itu.

“Nathan?”

“Oh lo Keira ya?”

Belum sempat menjawab, Farrel datang menghampiri Keira. “Ini Liv ak— Loh, Nathan?”

“Lah rel lo di sini juga?” tanya Nathan.

“Loh lo kenal Oliv?” Farrel bertanya balik.

“Lah ini Oliv? Bukan Keira?”

“Hehehe gue Oliv.” Keira menjawab dengan sedikit panik dan ia berusaha untuk menutupi rasa paniknya.

“Kok kalian bisa kenal?” tanya Farrel kebingungan.

“Oliv kan adiknya Daren. Daren sahabat gua.” ucap Nathan.

“Demi apa? Gua gak nyangka.” ucap Farrel.

“Mah, ini adiknya Daren.” ucap Nathan kepada Mamanya.

“Ohh ini adiknya Daren temanmu toh.. Cantik yaa.” ucap Mamanya Nathan.

“Terima kasih tante. Salam kenal aku Oliv.” ucap Keira.

“Nathan, gue sama Farrel pergi duluan yaa.” ucap Oliv.

“Oh iya okee.”

“Duluan yaa tante.” ucap Oliv dan Farrel.

Mendengar bahwa yang baru saja Nathan temui adalah Oliv dan bukan Keira, dirinya merasa bingung sekali. “Oliv kan selalu panggil gua dengan sebutan Kak. Kok tadi panggil gua Nathan? Yang gua suruh panggil nama aja kan Keira, bukan Oliv.” batin Nathan.

Hal tersebut terus terusan menjadi beban pikiran Nathan karena ia merasa ada hal yang aneh. Karena rasa penasarannya, ia menanyakan hal ini kepada Daren.