chaewrite

Keira dan Farrel sudah sampai di supermarket. Mereka berbelanja banyak sekali bahan makanan dan camilan. Mereka pun juga sebenarnya tidak tahu untuk apa mereka membelanjakan bahan makanan segitu banyaknya. Tetapi, bisa untuk stok nanti saat sudah punya rumah baru, kalau kata Farrel.

“Kenapa belanja banyak banget dari sekarang? Kan kita pindah rumahnya masih minggu depan.” ucap Keira.

“Ya enggak papa. Takutnya, nanti ribet kalau belanja pas lagi proses pindahan.” jawab Farrel.

Keira mengajak Farrel untuk pergi ke lorong bagian sereal. Ada banyak sekali varian rasa dari mulai coklat, vanilla, pisang hingga stroberi.

“Rel sini deh, fotoin aku. Terus kita foto bareng.” ucap Keira.

“Hahahah oke oke tunggu.”

Cekrek cekrek” bunyi jepretan kamera handphone Farrel berbunyi sebanyak lebih dari 10 kali. Sungguh banyak foto yang mereka ambil dari mulai foto Keira dan Farrel sendiri masing-masing bersama background sereal dan juga foto mereka berdua menggunakan kamera depan maupun kamera belakang.

“Nanti kirim ke aku yaa rel”

“Sippp.”

Mereka pun terus berjalan menysuri setiap lorong yang ada di supermarket untuk mencari camilan yang unik-unik. Farrel berpencar sebentar untuk mencari potato chips. Saat berjalan, Keira tidak sengaja ditabrak oleh seorang lelaki yang sedang berjalan bersama Ibunya.

“Eh sorry sor— Keira? Eh apa Oliv?” ucap lelaki itu.

“Nathan?”

“Oh lo Keira ya?”

Belum sempat menjawab, Farrel datang menghampiri Keira. “Ini Liv ak— Loh, Nathan?”

“Lah rel lo di sini juga?” tanya Nathan.

“Loh lo kenal Oliv?” Farrel bertanya balik.

“Lah ini Oliv? Bukan Keira?”

“Hehehe gue Oliv.” Keira menjawab dengan sedikit panik dan ia berusaha untuk menutupi rasa paniknya.

“Kok kalian bisa kenal?” tanya Farrel kebingungan.

“Oliv kan adiknya Daren. Daren sahabat gua.” ucap Nathan.

“Demi apa? Gua gak nyangka.” ucap Farrel.

“Mah, ini adiknya Daren.” ucap Nathan kepada Mamanya.

“Ohh ini adiknya Daren temanmu toh.. Cantik yaa.” ucap Mamanya Nathan.

“Terima kasih tante. Salam kenal aku Oliv.” ucap Keira.

“Nathan, gue sama Farrel pergi duluan yaa.” ucap Oliv.

“Oh iya okee.”

“Duluan yaa tante.” ucap Oliv dan Farrel.

Mendengar bahwa yang baru saja Nathan temui adalah Oliv dan bukan Keira, dirinya merasa bingung sekali. “Oliv kan selalu panggil gua dengan sebutan Kak. Kok tadi panggil gua Nathan? Yang gua suruh panggil nama aja kan Keira, bukan Oliv.” batin Nathan.

Hal tersebut terus terusan menjadi beban pikiran Nathan karena ia merasa ada hal yang aneh. Karena rasa penasarannya, ia menanyakan hal ini kepada Daren.

Keira terbangun karna ada pantulan sinar matahari yang menembus gorden kamar Oliv. Rasanya ia masih mengantuk dan langsung tertidur kembali. Farrel pun masuk ke kamar Oliv membawa keranjang makanan yang terdapat mangkuk dan gelas di atasnya.

“Liv jangan tidur lagi dong. Ini aku udah bikinin sarapan.” ucap Farrel.

“Eum? Iyaa.. ini gak tidur lagi.” Keira langsung duduk bersandar pada headboard kasur.

“Kamu masak apa, rel? Kamu udah makan?”

“Aku udahh tadi. Nih giliran kamu yang makan. Bubur ayam nih, makanan kesukaan kamu kan? Yang gak pake bawang dan seledri?” ucap Farrel.

“Kok kamu tau sih aku lagi pengen bubur ayam. Masih pagi enak banget makan bubur ayam.” Keira langsung mengambil sendok dan menyantap bubur ayamnya.

“Mana pagiii? Liat jam coba. Udah jam 11 siang ini.”

“Hah.. demi apa?” Keira terkejut.

“Seriusss.”

“Hahaha aku bangun siang banget. By the way bubur ayamnya ada yang kurang.” ucap Keira.

“Apa? Sambel? Gak boleh, kamu kan baru bangun tidur. Jangan langsung makan yang pedes-pedes.” ucap Farrel.

“Hehehe bener.” Keira lanjut menyendok bubur ayam yang masih hangat itu.

“Kamu mau kemana hari ini? Ada janji?” tanya Farrel.

“Engga ada sih.. kamu ada?” Keira bertanya balik.

“Sama kok, aku juga gak ada. Mau jalan-jalan?” ajak Farrel.

“Ih engga, pegel. Gara-gara kamu.”

“Hehehehe.. yaudah kita hari ini di rumah aja ya. Papa kamu kan masih nginep di rumahku. Marathon drakor, mau? Jirisan kan baru keluar minggu lalu.” ucap Farrel.

“Mauuu.”

Oliv yang baru saja selesai membeli komik untuk Daren langsung berjalan keluar toko buku untuk pergi ke toilet. Lalu, ia tak sengaja melihat sosok lelaki yang mirip sekali dengan Karel, pacarnya, yang sedang mengobrol dengan seorang perempuan yang Oliv pikir adalah Mila. Oliv langsung berjalan menghampiri Karel dan menyapanya.

“Karel, Mila kok—

“Lah Liv, kok kamu di sini?”

“Hehe sorry kirain tadi Mila.” ucap Oliv dalam bahasa Jepang.

“Iyaa tak apa-apa.” ucap perempuan itu dan langsung berjalan pergi.

“Aku tadi bosen, jadi aku jalan-jalan aja. Sekalian nih aku beli komik buat Kak Daren. By the way itu tadi siapa?” tanya Oliv.

“Itu tadi orang, aku gak sengaja nabrak. Aku di sini beliin ice cream kamu.” jawab Karel.

“Ohhh.. kenapa gak beli yang di jalanan aja. Tadi aku beli hehehe.” ucap Oliv.

“Lahh gimana sih Liv, aku udah beli loh ini.”

“Ya gak papa dong, Kar. Yang kamu beli kita makannya bareng-bareng di apartment.”

“Yaudah ayo pulang. Sekalian aku mau ceritain soal tadi survey gedungnya.” ucap Karel. Karel dan Oliv pergi keluar mall dan langsung pulang.

“Eh, Farrel?” panggil Daren yang baru saja keluar dari lift.

“Eh Daren. Belum pulang?” Farrel memanggil Daren tanpa sebutan kak karena mereka seumur, beda bulan saja. Sama seperti perbedaan umur Daren dan Oliv.

“Ini baru mau pulang. Tadi Papa sama K— Oliv pulang duluan.” Hampir saja Daren keceplosan mengucap nama Keira.

“Lo sendiri belum pulang?” tanya Daren.

“Belum, bokap gue masih di kamarnya. Sebentar lagi turun katanya.” jawab Farrel.

“Oh gitu. Eh rel, gue mau nanya sesuatu, boleh?” ucap Daren.

“Boleh banget, kenapa?”

“Lo beneran sayang ya sama Oliv? Sorry baru nanya nanya sekarang. Kita selama ketemu belum pernah ngobrol banyak kan soalnya.”

“Iya, ren. Kalau engga mah gue udah nolak perjodohan ini. Lagian, gak ada alasan buat gue gak suka sama Oliv. Dia orangnya baik, cantik, seru, dan pokoknya apapun yang ada di Oliv itu gue suka. Especially, her personalities. Tenang aja, gue bakal jagain ade lo dengan baik kok.” penjelasan Farrel begitu jelas sehingga membuat Daren kehabisan pertanyaan. Dari jawaban Farrel, Daren mengetahui bahwa Farrel menyayangi Keira. Bukan Oliv, adiknya.

“Rel, gue cabut duluan ya.” ucap Daren.

“Iyaaa, hati-hati ren.”

The Next Morning

“Pagiii istriku.” ucap Farrel sambil membuka gorden yang menutupi cerahnya sinar matahari di pagi itu.

“Eumm.. p-pagii.” ucap Keira.

“Ayo bangun, kita sarapan. Sekalian ada yang mau aku bicarain.”

“Iyaa, tunggu sebentar. Tunggu 5 menit aku masih ngantuk.” ucap Keira.

“Ih kamu mah, 5 menit tau taunya 1 jam.”

“Seriuss 5 menit lagi bangunin aku ya rel.”

“Hahahaa iyaa yaudah. Aku mandi dulu. Nanti abis mandi aku bangunin ya.”

“Iyaa.”

——————————

“Ooooooliiiiiiiivv baaaanguuuun.” Keira yang mendengarnya terkejut dan langsung lompat dari kasur.

“Hah suara apaan tuh gede banget.” Pantas saja Keira terkejut. Farrel memasang speaker di sebelah kasur agar Oliv bisa cepat bangun.

“Hehehe maaf ya.”

“Ih kamuuu.”

“Sana siap-siap.”

Keira langsung turun dari kasur dan berjalan ke arah toilet untuk bersiap-siap turun dari lantai kamar hotel untuk sarapan di restoran hotel.

“Loh Papa sama Ayah kamu gak ikut sarapan, rel?”

“Udah pada sarapan duluan tadi katanya, Ayah ngechat aku.”

Keira dan Farrel mengambil makanan untuk masing-masing dari prasmanan yang disediakan di restoran hotel dan langsung mencari tempat duduk untuk menyantap makanan mereka. Ada banyak sekali jenis makanannya. Dimulai dari nasi goreng, nasi uduk, ayam goreng, ayam bakar, hingga bubur ayam. Farrel mengambil nasi goreng dan ayam bakar, sedangkan Keira hanya mengambil bubur ayam.

By the way, tadi kamu mau ngomongin apa?”

“Kita belum ngeplan buat honeymoon loh, mau kemana? Terus kapan?” tanya Farrel. Karena pernikahan mereka yang cukup bisa dibilang dadakan, Farrel dan Keira belum sempat membahas tentang honeymoon.

“Ke Bali, yuk?” ajak Keira.

“Kamu gak bosen sama Bali? Gak mau yang lebih jauh lagi? Misalnya, Jepang? Yuk ke Jepang yuk.” ucap Farrel. Keira langsung gelisah saat Farrel membahas untuk pergi honeymoon ke Jepang, mengingat Oliv yang masih berada di sana.

“Eum.. bukannya kamu suka pantai, ya? Kan Bali banyak pantainya. Kok bosen sih? Bukannya enak ya ke pantai gitu?” ucap Keira.

“Yaudah gini aja, gimana kalau kita ke Bali dulu, terus abis dari Bali langsung ke Jepang?” Farrel menawarkan.

“Boleh aja sih, tapi berangkatnya kapan?” tanya Keira masih dengan perasaan gelisah karena takut dirinya dan Farrel akan bertemu dengan Oliv jika mereka berangkat dalam waktu dekat ini.

“Minggu depan? Eh, tapi jangan minggu depan sih.. Kita belum ada rumah tau di sini. Ngurus rumah butuh waktu, Liv.” Farrel dan Keira bahkan belum membeli rumah untuk mereka tempati berdua sebagai pengantin baru.

“Waduh iya juga ya.. ya udah gak papa, nanti aja kita honeymoonnya. Yang penting kita udah punya rumah untuk di sini.” ucap Keira.

“Berarti mungkin kira-kira kita baru bisa honeymoon 2 minggu lagi. Is that okay, sayang?” tanya Farrel sambil mengunyah makanannya.

“Gak papaaa. Yaudah dilanjut makannya, masih banyak tuh.”

“Iyaa.”

Setelah Farrel dan Keira sudah menghabiskan sarapan mereka, mereka langsung balik ke kamar hotel dan packing untuk pulang.

“Livv, kamu belum selesai packingnya?” tanya Farrel sambil menggeret kopernya dan berjalan masuk ke kamar yang ditempati Keira.

“Belum nihh, dikit lagi.”

“Sini aku bantuin.”

Farrel pun membantu Keira untuk packing agar cepat selesai. “Okeh, dah selesai nih.”

Keira dan Farrel langsung naik lift, turun ke lobby untuk pulang.

By the way, kita untuk sementara ini masih pisah dong tinggalnya?” tanya Keira.

“Iyaa, tapi kalau kangen langsung telepon aku aja, nanti aku langsung ke rumah kamu.” ucap Farrel sambil tersenyum.

“Ih ngapain, ribet. Kan bisa video call.”

“Lebih ribet video call tau, kalau mau peluk sama nyium kamu, gak bisa dong.” ucap Farrel.

“Hahahahaha.. eh itu Papa, aku pulang duluan ya, rel.” ucap Keira.

“Iyaa, hati-hati di jalan. Sini peluk dulu.” Keira melepaskan genggaman tangannya pada koper dan langsung memeluk Farrel dengan erat. Farrel mengelus kepala Keira dan berkata “I love you” tepat di telinga Keira. Keira yang mendengarnya langsung tersenyum dan salah tingkah karena tiga kata yang diucapkan oleh Farrel itu. Jerry yang melihat anak dan menantunya saling memeluk dengan erat pun tersenyum bahagia sampai-sampai tak sadar bahwa dirinya meneteskan air mata. Jerry terharu dan sangat senang karena anak perempuannya sudah menikah dengan seorang lelaki yang baik.

“Yaudah aku pulang ya rel.” Keira melepaskan pelukannya dan melambaikan tangannya ke arah Farrel. Farrel sepertinya sedikit kecewa karena Keira tak membalas ucapannya yang tadi itu.

The Next Morning

“Pagiii istriku.” ucap Farrel sambil membuka gorden yang menutupi cerahnya sinar matahari di pagi itu.

“Eumm.. p-pagii.” ucap Keira.

“Ayo bangun, kita sarapan. Sekalian ada yang mau aku bicarain.”

“Iyaa, tunggu sebentar. Tunggu 5 menit aku masih ngantuk.” ucap Keira.

“Ih kamu mah, 5 menit tau taunya 1 jam.”

“Seriuss 5 menit lagi bangunin aku ya rel.”

“Hahahaa iyaa yaudah. Aku mandi dulu. Nanti abis mandi aku bangunin ya.”

“Iyaa.”

——————————

“Ooooooliiiiiiiivv baaaanguuuun.” Keira yang mendengarnya terkejut dan langsung lompat dari kasur.

“Hah suara apaan tuh gede banget.” Pantas saja Keira terkejut. Farrel memasang speaker di sebelah kasur agar Oliv bisa cepat bangun.

“Hehehe maaf ya.”

“Ih kamuuu.”

“Sana siap-siap.”

Keira langsung turun dari kasur dan berjalan ke arah toilet untuk bersiap-siap turun dari lantai kamar hotel untuk sarapan di restoran hotel.

“Loh Papa sama Ayah kamu gak ikut sarapan, rel?”

“Udah pada sarapan duluan tadi katanya, Ayah ngechat aku.”

Keira dan Farrel mengambil makanan untuk masing-masing dari prasmanan yang disediakan di restoran hotel dan langsung mencari tempat duduk untuk menyantap makanan mereka. Ada banyak sekali jenis makanannya. Dimulai dari nasi goreng, nasi uduk, ayam goreng, ayam bakar, hingga bubur ayam. Farrel mengambil nasi goreng dan ayam bakar, sedangkan Keira hanya mengambil bubur ayam.

By the way, tadi kamu mau ngomongin apa?”

“Kita belum ngeplan buat honeymoon loh, mau kemana? Terus kapan?” tanya Farrel. Karena pernikahan mereka yang cukup bisa dibilang dadakan, Farrel dan Keira belum sempat membahas tentang honeymoon.

“Ke Bali, yuk?” ajak Keira.

“Kamu gak bosen sama Bali? Gak mau yang lebih jauh lagi? Misalnya, Jepang? Yuk ke Jepang yuk.” ucap Farrel. Keira langsung gelisah saat Farrel membahas untuk pergi honeymoon ke Jepang, mengingat Oliv yang masih berada di sana.

“Eum.. bukannya kamu suka pantai, ya? Kan Bali banyak pantainya. Kok bosen sih? Bukannya enak ya ke pantai gitu?” ucap Keira.

“Yaudah gini aja, gimana kalau kita ke Bali dulu, terus abis dari Bali langsung ke Jepang?” Farrel menawarkan.

“Boleh aja sih, tapi berangkatnya kapan?” tanya Keira masih dengan perasaan gelisah karena takut dirinya dan Farrel akan bertemu dengan Oliv jika mereka berangkat dalam waktu dekat ini.

“Minggu depan? Eh, tapi jangan minggu depan sih.. Kita belum ada rumah tau di sini. Ngurus rumah butuh waktu, Liv.” Farrel dan Keira bahkan belum membeli rumah untuk mereka tempati berdua sebagai pengantin baru.

“Waduh iya juga ya.. ya udah gak papa, nanti aja kita honeymoonnya. Yang penting kita udah punya rumah untuk di sini.” ucap Keira.

“Berarti mungkin kira-kira kita baru bisa honeymoon 2 minggu lagi. Is that okay, sayang?” tanya Farrel sambil mengunyah makanannya.

“Gak papaaa. Yaudah dilanjut makannya, masih banyak tuh.”

“Iyaa.”

Setelah Farrel dan Keira sudah menghabiskan sarapan mereka, mereka langsung balik ke kamar hotel dan packing untuk pulang.

“Livv, kamu belum selesai packingnya?” tanya Farrel sambil menggeret kopernya dan berjalan masuk ke kamar yang ditempati Keira.

“Belum nihh, dikit lagi.”

“Sini aku bantuin.”

Farrel pun membantu Keira untuk packing agar cepat selesai. “Okeh, dah selesai nih.”

Keira dan Farrel langsung naik lift, turun ke lobby untuk pulang.

By the way, kita untuk sementara ini masih pisah dong tinggalnya?” tanya Keira.

“Iyaa, tapi kalau kangen langsung telepon aku aja, nanti aku langsung ke rumah kamu.” ucap Farrel sambil tersenyum.

“Ih ngapain, ribet. Kan bisa video call.”

“Lebih ribet video call tau, kalau mau peluk sama nyium kamu, gak bisa dong.” ucap Farrel.

“Hahahahaha.. eh itu Papa, aku pulang duluan ya, rel.” ucap Keira.

“Iyaa, hati-hati di jalan. Sini peluk dulu.” Keira melepaskan genggaman tangannya pada koper dan langsung memeluk Farrel dengan erat. Farrel mengelus kepala Keira dan berkata “I love you” tepat di kuping Keira. Keira yang mendengarnya langsung tersenyum dan salah tingkah karena tiga kata yang diucapkan oleh Farrel itu. Jerry yang melihat anak dan menantunya saling memeluk dengan erat pun tersenyum bahagia sampai-sampai tak sadar bahwa dirinya meneteskan air mata. Jerry terharu dan sangat senang karena anak perempuannya sudah menikah dengan seorang lelaki yang baik.

“Yaudah aku pulang ya rel.” Keira melepaskan pelukannya dan melambaikan tangannya ke arah Farrel. Farrel sepertinya sedikit kecewa karena Keira tak membalas ucapannya yang tadi itu.

Acara resepsi pernikahan Farrel dan Oliv dilaksanakan dengan begitu mewah. Ramai sekali tamu yang datang, dimulai dari rekan bisnis Jerry dan Wira, temannya Oliv, teman dekat Jerry dan Wira, hingga keluarga jauh Farrel.

Seperti yang sudah diduga, Mila pun benar-benar hadir dalam acara pernikahan Oliv.

“Haiii Liv, selamat yaa.” ucap Mila.

“Makasihh.. eum Milaa. Semoga lo cepet nyusul yaa.” ucap Keira.

“Hahaha Iyaaa.”

Mila benar-benar menepati janjinya kepada Oliv untuk tidak membahas apapun soal pertemuan mereka di Jepang.

Tak sadar, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, yaitu akhir dari acara resepsi. Para tamu sudah pada pulang. Wajah Keira, Farrel, Jerry, dan Wira terlihat sungguh lelah.

“Nak.. kamu kecapean ya?” tanya Jerry kepada Keira.

“A-aku belum makan pah.”

“Hah? Dari siang belum makan?” tanya Jerry.

“Iya.”

“Aku juga belum Om.” ucap Farrel.

“Yaampun kalian ini, kalian ganti baju dulu ya terus kita makan malam bersama.” ucap Wira.

“Iya, cepetan sana. Papa sama Wira tunggu di restorannya ya. Nanti langsung ke sana saja.”

————————————————————

“Toktoktok.” suara ketukan pintu kamar Keira.

“Udah selesai Liv ganti bajunya?” tanya Farrel sesudah mengetok pintu.

“Udaah rel. Ayo, kita samperin Papa sama Ayah kamu.” ucap Keira yang baru saja keluar kamar.

“Tunggu.” ucap Farrel

“Kenapa?”

“Aku.. boleh cium kamu?” tanya Farrel. Keira hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Karena sudah diberi izin oleh Keira, Farrel pun langsung menempelkan dan menautkan bibirnya dengan bibir Keira dengan perlahan dan penuh kasih sayang. Keira melingkarkan kedua tangannya di leher Farrel dan mereka pun memperdalam ciuman mereka. Farrel mencium Keira dengan sangat hati-hati seakan-akan bibir Keira akan mudah rapuh jika ia berbuat sedikit kasar. Itu adalah ciuman pertama mereka.

Keira melepaskan tautan bibir mereka. “Kok udahan?” tanya Farrel.

“Aku laperrr, mau makan. Papa sama Ayah kamu juga udah nungguin loh itu di restoran hotel.” jawab Keira.

“Yaudah nanti lanjutin ya tapinya.” ucap Farrel.

“Hahahaha iyaaa.”

Acara resepsi pernikahan Farrel dan Oliv dilaksanakan dengan begitu mewah. Ramai sekali tamu yang datang, dimulai dari rekan bisnis Jerry dan Wira, temannya Oliv, teman dekat Jerry dan Wira, hingga keluarga jauh Farrel.

Seperti yang sudah diduga, Mila pun benar-benar hadir dalam acara pernikahan Oliv.

“Haiii Liv, selamat yaa.” ucap Mila.

“Makasihh.. eum Milaa. Semoga lo cepet nyusul yaa.” ucap Keira.

“Hahaha Iyaaa.”

Mila benar-benar menepati janjinya kepada Oliv untuk tidak membahas apapun soal pertemuan mereka di Jepang.

Tak sadar, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, yaitu akhir dari acara resepsi. Para tamu sudah pada pulang. Wajah Keira, Farrel, Jerry, dan Wira terlihat sungguh lelah.

“Nak.. kamu kecapean ya?” tanya Jerry kepada Keira.

“A-aku belum makan pah.”

“Hah? Dari siang belum makan?” tanya Jerry.

“Iya.”

“Aku juga belum Om.” ucap Farrel.

“Yaampun kalian ini, kalian ganti baju dulu ya terus kita makan malam bersama.” ucap Wira.

“Iya, cepetan sana. Papa sama Wira tunggu di restorannya ya. Nanti langsung ke sana saja.”

Night Drive

Keira dan Farrel sama sama menikmati alunan musik dan juga cahaya lampu mobil di sekitar mereka. Night drive tanpa musik akan sangat membosankan. Musik yang mereka putar juga sangat menenangkan dan asik. Mereka juga sesekali membuka jendela mobil agar bisa merasakan angin yang berhembus. Walaupun bisa saja anginnya kotor, tetapi mereka tak peduli. Yang penting mereka bisa menikmati suasana night drive ini dengan indah.

“Seneng deh diajak night drive gini.. belum pernah soalnya.” ucap Keira.

“Serius belom pernah?” tanya Farrel.

“Seriuss..”

“Asik dong berarti pengalaman pertama night drive langsung sama calon suami.” ucap Farrel.

“Kamu mah gak berhenti gombal.. cape tau digombalin terus rel.”

“Hehehe.. yaudah iya maaf.”

“Tutup dulu jendelanya, nanti buka lagi gak papa. Takut kamu masuk angin.” ucap Farrel sambil menunjuk ke arah jendela dan kembali fokus menyetir.

“Pokoknya hari ini aku seneng banget rel. Makasih ya.” ucap Keira.

“Sama sama sayang, aku juga seneng. Seneng banget malah.”

“Kok kamu panggil aku sayang sih? Kan kita gak pacaran.” tanya Keira.

“Kan bentar lagi kita mau nikah. Kamu mau nya kita pacaran dulu gak sebelum nikah?” Farrel bertanya balik.

“Kayak gini udah kayak pacaran bukannya? Status doesn’t matter for me kok rel.”

“Okeey kalau kamu udah nyaman kayak gini tanpa ada status pacaran, aku setuju juga.” ucap Farrel.

“Liv, nanti kalau kita udah nikah, kita harus tetep akur ya.. harus lucu dan gemes.”

“Hahahahah kenapa ada lucu dan gemesnya. Tapi tapi, aku ngerti kok maksudnya… Iyaa, kita harus tetep kayak gini, saling ngertiin, seru-seruan bareng.” ucap Keira.

“Nanti honeymoon mau kemana?” tanya Farrel.

“Eh? Umm.. harus dipikirin dari sekarang kah? Hehehe..”

“Ya iseng-iseng bahas dulu ajaa..”

“Kemana aja boleh, asal sama kamu.” ucap Keira.

“Kamu yang gombal sekarang… dasar Oliv.” Farrel mencubit pipi chubby Oliv karena gemas.

Perbincangan mereka terus berjalan hingga akhirnya mereka sampai di rumah Oliv.

“Yahh udah sampe.” ucap Keira.

“Emang masih mau muter-muter lagi?” tanya Farrel.

“Jangann.. udah malem. Nanti Papa khawatir.” jawab Keira.

“Kan perginya sama aku, ngapain khawatir.”

“Ya tetep aja.. kan udah malem. Kamu juga harus istirahat. And by the way ada Kak Daren loh.”

“Kakak kamu?”

“Iyaa.”

“Mau ketemu, rel?”

“Jangan deh nanti aja pas aku ke sini lagi. Gak enak, udah malem.”

“Iya juga sih, oke deh.”

“Aku pulang ya. Sana masuk.” ucap Farrel.

“Iyaaa, Hati-hati yaaa.”

Keira dan Farrel sama sama menikmati alunan musik dan juga cahaya lampu mobil di sekitar mereka. Night drive tanpa musik akan sangat membosankan. Musik yang mereka putar juga sangat menenangkan dan asik. Mereka juga sesekali membuka jendela mobil agar bisa merasakan angin yang berhembus. Walaupun bisa saja anginnya kotor, tetapi mereka tak peduli. Yang penting mereka bisa menikmati suasana night drive ini dengan indah.

“Seneng deh diajak night drive gini.. belum pernah soalnya.” ucap Keira.

“Serius belom pernah?” tanya Farrel.

“Seriuss..”

“Asik dong berarti pengalaman pertama night drive langsung sama calon suami.” ucap Farrel.

“Kamu mah gak berhenti gombal.. cape tau digombalin terus rel.”

“Hehehe.. yaudah iya maaf.”

“Tutup dulu jendelanya, nanti buka lagi gak papa. Takut kamu masuk angin.” ucap Farrel sambil menunjuk ke arah jendela dan kembali fokus menyetir.

“Pokoknya hari ini aku seneng banget rel. Makasih ya.” ucap Keira.

“Sama sama sayang, aku juga seneng. Seneng banget malah.”

“Kok kamu panggil aku sayang sih? Kan kita gak pacaran.” tanya Keira.

“Kan bentar lagi kita mau nikah. Kamu mau nya kita pacaran dulu gak sebelum nikah?” Farrel bertanya balik.

“Kayak gini udah kayak pacaran bukannya? Status doesn’t matter for me kok rel.”

“Okeey kalau kamu udah nyaman kayak gini tanpa ada status pacaran, aku setuju juga.” ucap Farrel.

“Liv, nanti kalau kita udah nikah, kita harus tetep akur ya.. harus lucu dan gemes.”

“Hahahahah kenapa ada lucu dan gemesnya. Tapi tapi, aku ngerti kok maksudnya… Iyaa, kita harus tetep kayak gini, saling ngertiin, seru-seruan bareng.” ucap Keira.

“Nanti honeymoon mau kemana?” tanya Farrel.

“Eh? Umm.. harus dipikirin dari sekarang kah? Hehehe..”

“Ya iseng-iseng bahas dulu ajaa..”

“Kemana aja boleh, asal sama kamu.” ucap Keira.

“Kamu yang gombal sekarang… dasar Oliv.” Farrel mencubit pipi chubby Oliv karena gemas.

Perbincangan mereka terus berjalan hingga akhirnya mereka sampai di rumah Oliv.

“Yahh udah sampe.” ucap Keira.

“Emang masih mau muter-muter lagi?” tanya Farrel.

“Jangann.. udah malem. Nanti Papa khawatir.” jawab Keira.

“Kan perginya sama aku, ngapain khawatir.”

“Ya tetep aja.. kan udah malem. Kamu juga harus istirahat. And by the way ada Kak Daren loh.”

“Kakak kamu?”

“Iyaa.”

“Mau ketemu, rel?”

“Jangan deh nanti aja pas aku ke sini lagi. Gak enak, udah malem.”

“Iya juga sih, oke deh.”

“Aku pulang ya. Sana masuk.” ucap Farrel.

“Iyaaa, Hati-hati yaaa.”