chaewrite

Di Rumah Farrel

“Halo Om Wira, saya Oliv.”

“Halo Oliv, apa kabar kamu?”

“Sehat Om.. Om sendiri gimana kabarnya? Sehat?” jawab Keira

“Sehat nak..”

“Wira! Apa kabar lu, udah lama gak ketemu kita.” ucap Jerry, Papanya Oliv.

“Baik, Jer. Ini pempeknya. 10 bungkus kan?”

“Iyaaa.”

“Nih nak, nanti kita goreng pempeknya di rumah.” ucap Jerry kepada Keira.

“Hah digoreng semua pah? 10 bungkus?” Keira bertanya balik.

“Ya engga dong, nak. 7 bungkus mau Papa kasih ke karyawan Papa.”

“Rel, Oliv, Jer sini duduk.” panggil Wira menyuruh Farrel, Oliv, dan Papanya Oliv untuk duduk di meja makan untuk makan siang.

“Ayo dicicip makanannya.” ucap Wira.

“Enak Om makanannya.” ucap Keira.

“Wah syukurlah.”

“Iya nih Wir, enak. Lu masak?”

“Engga. Itu tadi beli di restoran depan komplek.”

“Hahahaha Ayahhh.” Farrel tertawa terbahak-bahak.

Suasananya tidak canggung sama sekali. Awalnya, Farrel kira suasananya akan menjadi canggung karena itulah pertama kalinya Oliv bertemu dengan Ayahnya, pikirnya. Tetapi, dirinya tak menyangka bahwa Oliv pintar membawa suasana menjadi tidak canggung dengan bersikap ramah menanyakan bagaimana kabar Ayahnya dan sebagainya.

“Oke karena sudah abis semua makanannya, saya.. eh Om.. eh Ayah.. eh apa dong bilangnya…” ucap Wira.

“Udah pake saya aja..” ucap Jerry.

“Oke.. Saya mau bicarain soal perjodohan antara Farrel dan Oliv.”

“Oliv dan Farrel apa kalian siap untuk menikah 2 minggu lagi?”

“Maaf Om sebelumnya, tapi kenapa langsung buru-buru nikah ya? Emangnya ada apa? Bukan berkaitan dengan bisnis gitu kan?” ucap Keira.

“Bukan kok nak Oliv..”

“Saya melihat Farrel dan kamu sudah cukup dekat dan sepertinya kalian nyaman dengan satu sama lain kan? Terus juga saya ingin melihat Farrel cepat menikah agar saya bisa memberi warisan perusahaan saya ke Farrel. Intinya sih, saya mau melihat Farrel bahagia bersama orang yang ia sayangi.” jawab Wira.

“Apa ada penolakan untuk menikah 2 minggu lagi? Jika gak ada, yaudah kalian siap-siap dari sekarang ya pilih gedung, kostum pernikahan, design, dan semuanya ya.” ucap Jerry.

Keira dan Farrel pun terdiam. Keira tak bisa menjawab apa-apa. Dirinya sadar diri bahwa ia tak mempunyai hak untuk memutuskan apa-apa. Dirinya adalah Keira, bukan Oliv. Farrel pun hanya terdiam karena ia sudah pernah berkata kepada Keira bahwa ia tak mempunyai alasan untuk menolak perjodohan ini.

Daren yang melihat Oliv sangat serius dengan hpnya pun penasaran. “Liv chattan sama siapa sih? Katanya kangen sama gua, kok hpnya diliatin mulu?”

“Eh sorry, ini Keira. Katanya Papa ngerencanain gue sama Farrel nikah 2 minggu lagi.”

“Hah? 2 minggu lagi lo nikah? Wah punya adik ipar dong gua.”

“Kak Daren…” ucap Oliv sambil cemberut.

“Gue kan udah punya pacar kak.. gue gak mau nikah sama Farrel pokoknya.”

“Ya terus gimana? Lo bakal bilang ke Papa?”

“Engga. Gue bakal tetep nikah sama Farrel. Tapi Keira yang nikah, bukan gue.”

“Terus sampe kapan lo mau bohongin Papa dan semuanya? Lo sama Keira gila tau gak. Emangnya Keira gak punya kehidupan hah? Sampe-sampe dia mau nurut sama lo buat gantiin lo?” ucap Daren dengan nada bicara yang agak tinggi karena terbawa emosi.

“Keira butuh uang banyak, gue butuh orang buat gantiin gue nikah sama Farrel. Impas kan?”

“Lo ngebayar Keira?”

“Iya. Dia butuh uang banyak untuk biaya pengobatan mamanya yang sakit kanker.. udah stadium 4 kak.”

“Kasian Keira, Papanya udah meninggal kan?” tanya Daren.

“Iya.”

By the way, lo sama pacar lo nginep di hotel apa gimana? Sebulan kan lo di sini?”

“Engga, kita nyewa apartment gitu.. iyaa kita sebulan di sini.”

“Ohh gitu, yaudah yuk gua anterin pulang, kita udah jalan-jalan terus daritadi, lo gak cape apa Liv?”

“Hehehe bentar lagiii kakkk, ayo kita beli buku dulu. Gue mau beliin lo novel buat lo baca pas di pesawat.”

“Ih gua masih banyak buku yang belum gua baca, gausah Liv.”

“Anggep aja oleh-oleh dari gue ya, ayoooo sinii.” Oliv menarik tangan Daren untuk masuk ke toko buku.

“Kaaaakkkkkk.” teriak Oliv sambil menyelonong masuk ke rumah Daren.

Oliv terdiam sejenak. Ia berpikir bisa saja kehadirannya mengganggu waktu tidur Daren. Ia pun memutuskan untuk ke dapur dan memasak sup sayuran untuk Daren karena di meja makan tak ada makanan sedikitpun.

“Siapa itu?” ucap Daren yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan muka yang masih mengantuk.

“Oliv ini.” Oliv menoleh ke arah Daren sejenak dan lanjut memasak.

“Lo ngapain masak Liv?”

“Abisnya di meja makan gak ada makanan sama sekali.. terus lo makan apaan?”

“Gua mah pagi makan roti doang, sisanya jajan. Rotinya gua taro kamar, makannya gak ada di meja makan.”

“Ohhh, tapi udah gue bikinin sup nih. Dimakan ya?” ucap Oliv sambil meletakkan mangkuk sup sayuran yang baru saja selesai ia buat di meja makan.

“Pasti lahh.”

“Eh Liv, kok lo bisa masuk rumah gua?”

“Gue tebak-tebak aja passcode locknya. Lo gak liat hp ya? Gue udah nungguin lama di depan tadi.”

“Yahh sorry gua gak liat hp.. ngantuk banget.”

“Udah siang hihh masa ngantuk? Lo tidur jam berapa emangnya semalem?” tanya Oliv.

“Jam 4 pagi.”

“Ngapain aja? Nonton?”

“Baca buku.”

“Emang ya anak pinter banget sih lo baca buku ampe jam 4 pagi.” ucap Oliv terheran.

“Hari ini mau jalan-jalan kemana?” tanya Daren.

“Kemana ajaaa yang penting seru.”

Oliv tiba-tiba memeluk Daren sambil mengucap, “Kak, gue kangen banget sama lo.”

“Gua juga kangen Liv sama lo.” Daren membalas pelukan Oliv.

Sudah bukan hal yang aneh bagi Oliv dan Daren untuk menunjukkan kasih sayang dengan cara memeluk satu sama lain seperti itu. Orang-orang yang tak mengetahui bahwa keduanya adalah saudara tiri bisa saja mengira bahwa keduanya berpacaran.

“Lu buruan mandi gih kak sana, abis itu kita langsung jalan-jalan.”

“Okeee siap tunggu ya.”

Farrel: “Makasih ya udah mau nemenin video call gini.”

Keira: “Sama samaaa rel.”

Farrel: “By the way, tadi lo ke mall beli minuman doang Liv?”

Keira: “Iyaa, tadi gue abis dari rumah sakit terus gue tiba tiba kepengen minuman seger gitu, sama tad gue beli jepitan.”

Farrel: “Hah lo ngapain ke rumah sakit? Lo sakit?”

Keira: “Eh engga sakit, I-itu maksudnya, gue jenguk umm.. temen gue lagi sakit.”

Farrel: “Syukurlah, kirain lo sakit.”

Keira: “Engga kok.. by the way jepitan yang gue beli lucu gak?”

Farrel: “Cantik.. umm iya maksudnya lucu gitu cocok di lo.”

Keira: “Hehe makasih.”

Suasananya menjadi canggung tiba-tiba, sepertinya Farrel dan Keira sudah kehabisan pembahasan.

Farrel: “Liv, boleh nanya?”

Keira: “Boleh dong, mau tanya apa?”

Farrel: “Kalau misalnya perjodohan gua sama lo beneran jadi sampe kita nikah, gimana?”

Keira: “Umm.. emangnya lo gak mau nolak kalau kita disuruh nikah?”

Farrel: “Gua gak punya alasan buat nolak nikah sama lo sih Liv. Lo sendiri gimana?”

Keira: “Umm.. sorry rel, gue gak bisa jawab apa-apa kalau ditanya kauak gitu. Gue sendiri juga bingung.”

Farrel: “Eh, iya gak papa. Sorry gua nanya kayak tadi.”

Keira: “Gak papaa.”

Farrel: “Kita mau udahan aja apa gimana video callnya? Udah malem, takutnya gua ganggu waktu istirahat lo.”

Keira: “Gak ganggu sih rel, gue juga belum mau tidur hehe. Takutnya malah gue yang ganggu lo.”

Farrel: “Bingung juga ya hahahaha. Yaudah gimana kalau kita suit aja? Kalo lo kalah, kita udahan video callnya, tapi kalo gua kalah, lanjut aja gimana?”

Keira: “Okeeee.. ayo buru suit.”

Farrel: “Rock papers scissors shoot! Gua kertas, lo batu.. yahh gua menang.”

Keira: “Yahhh.. eh kok lo menang malah sedih hahahah.”

Farrel: “Kan jadinya harus udahan video callnya.”

Keira: “Yahh, iya juga ya. Ih tapi kita udah call 2 jam tauuu.”

Farrel: “Demi apa 2 jam? Kok gak kerasa sih?”

Keira: “Ih iyaaa.” ——————- Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar Oliv.

“Nak, lagi ngobrol sama siapa? Seru banget sepertinya? Ada tamu kah nak?” ucap Papanya Oliv dari depan pintu kamar.

“Engga pahh, ini lagi video call sama Farrel, masuk aja pahh.”

Papanya Oliv pun membuka pintu kamar Oliv dan mengintip sedikit ke kamera.

“Halo om.” ucap Farrel.

“Iya, halo nak Farrel. Sepertinya lagi seru banget yaa kalian.”

“Hehehe iya nih om.”

“Yaudah papa lanjut balik ke kamar ya. Lanjut aja kalian.”

“Iya pah, bentar lagi udah mau selesai kok, udah dari tadi soalnya.”

“Okee nak.”

“Selamat istirahat Om Jerry.”

“Iya kamu juga ya nak Farrel, kamu juga Liv.”

“Iyaa pah.”

———————- (lanjut ke video call)

Farrel: “Yaudah gih Liv, lo istirahat. Jangan drakoran ya, istirahat.”

Keira: “Hehehe, iyaaa rel. Lo jugaaa!”

Farrel: “Good night, Liv.”

Keira: “Good night too, Rel.”

(video call ended)

Marathon Drakor

“Hai rel. Sorry agak lama ya? Tadi ditanya-tanya dulu sama Papa.” ucap Keira yang baru saja masuk ke dalam mobil milik Farrel.

“Gak papa kok.. Ini langsung ke rumah gua ya?”

“Okee.”

By the way gue pengen tanya deh, kok lo gak nolak dijodohin sih? Emangnya lo gak punya pacar?” Pertanyaan spontan dari Keira membuat Farrel melotot karena terkejut mendengar perkataan Keira.

“Gua juga tadinya gak mau, tapi yaudah lah gua gak ada pacar ini terus ya gua mikir yaudah deh nurut aja ama Ayah.”

“Ohh gitu..”

“Kalo lo? Kayaknya lo gak mau gak sih dijodohin? Dari pas gua ngechat lo pertama kali aja lo keliatan judes banget, Liv.”

“Eh? Hehehehe iya gak mau. Tapi yaudah lah kan lumayan sekarang gue jadi nambah temen sefrekuensi. Apalagi lo suka nonton drakor. Lagian juga kan dijodohin kan belum tentu jadi kan?” jawab Keira.

“Iya bener, temen gua juga nambah deh jadinya.”

Tak sadar mereka mengobrol dengan sangat asyik, ternyata mereka sudah sampai di rumah Farrel. Mereka pun langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah Farrel.

“Liv sini, masuk ke ruang teater.”

Keira terkejut saat memasuki ruang teater di rumah Farrel. Tidak begitu luas, tetapi sangat dingin dan desain ruangannya sangatlah keren.

“Woahh! Keren banget Rel.”

“Hehe makasih.. Itu ada popcorn sama cemilan lain yaa.. kalo mau tinggal makan aja.”

“Asikk okeee.”

“Ini mau langsung nonton aja kan?” tanya Farrel.

“Iya mulai ajaa.”

Farrel dan Keira sangat antusias saat menonton serial drama Korea “Hometown Cha-Cha-Cha” episode yang ke 13. Keira teriak-teriak menyebut nama Hong Dusik yang sangat tampan katanya. Farrel pun juga sangat gemas dengan chemistry Hong Dusik dan juga Yoon Hyejin.

“Yahhh kok abis sih.. gak sabar next episode dehh.” ucap Keira.

“Malem ini kan ya episode 14?”

“Iyaaa.”

“Sekarang mau nonton apalagi nih?” tanya Farrel.

“Lo udah nonton Taxi Driver belum?” tanya Keira.

“Belum Liv. Itu seru ya?”

“Katanya sih seru, drama action gitu. Gue belum nonton.”

“Mau coba nonton gak?”

“Mauuuu!” jawab Keira dengan sangat antusias.

Mereka pun menonton serial drama Korea “Taxi Driver” dengan sangat serius dan bersemangat. Mereka pun tak menyadari berapa jumlah episode yang sudah mereka tonton. Lalu, Farrel sepertinya menyadari bahwa mereka sudah menonton terlalu lama sampai-sampai tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.

“Gak sadar ya kita udah nonton lama bang—

Farrel menghentikan kalimatnya saat melihat Keira sudah tertidur pulas di sampingnya sambil memegang popcorn.

“Lucu banget Oliv.” ucap Farrel.

Farrel’s pov:

Farrel bingung apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus membiarkan Oliv untuk tidur di sofa seperti itu saja atau memindahkannya ke kamar tamu. Farrel akhirnya memutuskan untuk memindahkan Oliv ke kamar tamu dengan cara menggendongnya. Ia khawatir kepala dan leher Oliv akan terasa pegal jika tidur di sofa yang berada di ruang teater. Sesampainya di kamar tamu, Farrel meletakkan tubuh Oliv di kasur dengan perlahan dan menyelimutinya agar tidak kedinginan. Farrel pun langsung berjalan ke arah pintu untuk pergi ke kamarnya, namun tangannya di tahan oleh Oliv.

“Jangan pergi ninggalin aku ya.. please jangan pergi.” ucap Keira.

“Iya gua di sini, Liv.”

Farrel bingung mengapa Oliv bisa mengigau seperti itu. Ia khawatir apakah Oliv sedang berada dalam masalah atau merasa ketakutan akan ada yang meninggalkan dirinya. Farrel hanya bisa terdiam dan memutuskan untuk tidak meninggalkan kamar tamu dan menarik kursi meja belajar yang ada untuk duduk di samping kasur.

“Jangan khawatir Liv, biarpun nanti kita jadi dijodohin atau engga, gua bakal selalu ada buat lo, biarpun hanya sebatas sahabat.” ucap Farrel sambil mengelus kepala Oliv.

Tak sadar ternyata Farrel ketiduran di samping Keira. Posisinya ketiduran sambil duduk. Matahari sudah terbit dan Keira pun terbangun dengan keadaan Farrel yang masih tertidur sambil duduk di sampingnya.

“Rel..”

“Mmm.. Oliv.. udah bangun?”

“Iyaa.. kok gue bisa di sini?”

“Lo ketiduran semalem di ruang teater. Terus takutnya lo pegel kalo tidur di sofa gitu, yaudah gue pindahin aja lo ke sini.”

“Makasih yaa.. by the way lo gak pegel tidur kayak gitu? Kenapa lo gak ke kamar lo aja semalem?”

Farrel ingin sekali memberitahunya bahwa Oliv yang menahan tangan Farrel untuk tidak pergi. Tetapi, Farrel berpikir lebih baik tidak perlu memberitahukan hal itu kepada Oliv. Ia takut Oliv menjadi malu atau ada sesuatu hal yang terjadi sama Oliv tetapi Oliv tidak ingin menceritakan hal itu kepadanya.

“Hmm.. ya gak papa. Yaudah ayo keluar, kita sarapan dulu.”

“Okeey yuk.”

———————————————————- guys ini maaf banget agak spoiler drakor homcha🙏🙏 tapi cuma bilang main leadnya gemes kokk aku gabakal spoiler hal lain🙏🙏

Marathon Drakor

“Hai rel. Sorry agak lama ya? Tadi ditanya-tanya dulu sama Papa.” ucap Keira yang baru saja masuk ke dalam mobil milik Farrel.

“Gak papa kok.. Ini langsung ke rumah gua ya?”

“Okee.”

By the way gue pengen tanya deh, kok lo gak nolak dijodohin sih? Emangnya lo gak punya pacar?” Pertanyaan spontan dari Keira membuat Farrel melotot karena terkejut mendengar perkataan Keira.

“Gua juga tadinya gak mau, tapi yaudah lah gua gak ada pacar ini terus ya gua mikir yaudah deh nurut aja ama Ayah.”

“Ohh gitu..”

“Kalo lo? Kayaknya lo gak mau gak sih dijodohin? Dari pas gua ngechat lo pertama kali aja lo keliatan judes banget, Liv.”

“Eh? Hehehehe iya gak mau. Tapi yaudah lah kan lumayan sekarang gue jadi nambah temen sefrekuensi. Apalagi lo suka nonton drakor. Lagian juga kan dijodohin kan belum tentu jadi kan?” jawab Keira.

“Iya bener, temen gua juga nambah deh jadinya.”

Tak sadar mereka mengobrol dengan sangat asyik, ternyata mereka sudah sampai di rumah Farrel. Mereka pun langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah Farrel.

“Liv sini, masuk ke ruang teater.”

Keira terkejut saat memasuki ruang teater di rumah Farrel. Tidak begitu luas, tetapi sangat dingin dan desain ruangannya sangatlah keren.

“Woahh! Keren banget Rel.”

“Hehe makasih.. Itu ada popcorn sama cemilan lain yaa.. kalo mau tinggal makan aja.”

“Asikk okeee.”

“Ini mau langsung nonton aja kan?” tanya Farrel.

“Iya mulai ajaa.”

Farrel dan Keira sangat antusias saat menonton serial drama Korea “Hometown Cha-Cha-Cha” episode yang ke 13. Keira teriak-teriak menyebut nama Hong Dusik yang sangat tampan katanya. Farrel pun juga sangat gemas dengan chemistry Hong Dusik dan juga Yoon Hyejin.

“Yahhh kok abis sih.. gak sabar next episode dehh.” ucap Keira.

“Malem ini kan ya episode 14?”

“Iyaaa.”

“Sekarang mau nonton apalagi nih?” tanya Farrel.

“Lo udah nonton Taxi Driver belum?” tanya Keira.

“Belum Liv. Itu seru ya?”

“Katanya sih seru, drama action gitu. Gue belum nonton.”

“Mau coba nonton gak?”

“Mauuuu!” jawab Keira dengan sangat antusias.

Mereka pun menonton serial drama Korea “Taxi Driver” dengan sangat serius dan bersemangat. Mereka pun tak menyadari berapa jumlah episode yang sudah mereka tonton. Lalu, Farrel sepertinya menyadari bahwa mereka sudah menonton terlalu lama sampai-sampai tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.

“Gak sadar ya kita udah nonton lama bang—

Farrel menghentikan kalimatnya saat melihat Keira sudah tertidur pulas di sampingnya sambil memegang popcorn.

“Lucu banget Oliv.” ucap Farrel.

Farrel’s pov:

Farrel bingung apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus membiarkan Oliv untuk tidur di sofa seperti itu saja atau memindahkannya ke kamar tamu. Farrel akhirnya memutuskan untuk memindahkan Oliv ke kamar tamu dengan cara menggendongnya. Ia khawatir kepala dan leher Oliv akan terasa pegal jika tidur di sofa yang berada di ruang teater. Sesampainya di kamar tamu, Farrel meletakkan tubuh Oliv di kasur dengan perlahan dan menyelimutinya agar tidak kedinginan. Farrel pun langsung berjalan ke arah pintu untuk pergi ke kamarnya, namun tangannya di tahan oleh Oliv.

“Jangan pergi ninggalin aku ya.. please jangan pergi.” ucap Keira.

“Iya gua di sini, Liv.”

Farrel bingung mengapa Oliv bisa mengigau seperti itu. Ia khawatir apakah Oliv sedang berada dalam masalah atau merasa ketakutan akan ada yang meninggalkan dirinya. Farrel hanya bisa terdiam dan memutuskan untuk tidak meninggalkan kamar tamu dan menarik kursi meja belajar yang ada untuk duduk di samping kasur.

“Jangan khawatir Liv, biarpun nanti kita jadi dijodohin atau engga, gua bakal selalu ada buat lo, biarpun hanya sebatas sahabat.” ucap Farrel sambil mengelus kepala Oliv.

Tak sadar ternyata Farrel ketiduran di samping Keira. Posisinya ketiduran sambil duduk. Matahari sudah terbit dan Keira pun terbangun dengan keadaan Farrel yang masih tertidur sambil duduk di sampingnya.

“Rel..”

“Mmm.. Oliv.. udah bangun?”

“Iyaa.. kok gue bisa di sini?”

“Lo ketiduran semalem di ruang teater. Terus takutnya lo pegel kalo tidur di sofa gitu, yaudah gue pindahin aja lo ke sini.”

“Makasih yaa.. by the way lo gak pegel tidur kayak gitu? Kenapa lo gak ke kamar lo aja semalem?”

Farrel ingin sekali memberitahunya bahwa Oliv yang menahan tangan Farrel untuk tidak pergi. Tetapi, Farrel berpikir lebih baik tidak perlu memberitahukan hal itu kepada Oliv. Ia takut Oliv menjadi malu atau ada sesuatu hal yang terjadi sama Oliv tetapi Oliv tidak ingin menceritakan hal itu kepadanya.

“Hmm.. ya gak papa. Yaudah ayo keluar, kita sarapan dulu.”

“Okeey yuk.”

Marathon Drakor

“Hai rel. Sorry agak lama ya? Tadi ditanya-tanya dulu sama Papa.” ucap Keira yang baru saja masuk ke dalam mobil milik Farrel.

“Gak papa kok.. Ini langsung ke rumah gua ya?”

“Okee.”

By the way gue pengen tanya deh, kok lo gak nolak dijodohin sih? Emangnya lo gak punya pacar?” Pertanyaan spontan dari Keira membuat Farrel melotot karena terkejut mendengar perkataan Keira.

“Gua juga tadinya gak mau, tapi yaudah lah gua gak ada pacar ini terus ya gua mikir yaudah deh nurut aja ama Ayah.”

“Ohh gitu..”

“Kalo lo? Kayaknya lo gak mau gak sih dijodohin? Dari pas gua ngechat lo pertama kali aja lo keliatan judes banget, Liv.”

“Eh? Hehehehe iya gak mau. Tapi yaudah lah kan lumayan sekarang gue jadi nambah temen sefrekuensi. Apalagi lo suka nonton drakor. Lagian juga kan dijodohin kan belum tentu jadi kan?” jawab Keira.

“Iya bener, temen gua juga nambah deh jadinya.”

Tak sadar mereka mengobrol dengan sangat asyik, ternyata mereka sudah sampai di rumah Farrel. Mereka pun langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah Farrel.

“Liv sini, masuk ke ruang teater.”

Keira terkejut saat memasuki ruang teater di rumah Farrel. Tidak begitu luas, tetapi sangat dingin dan desain ruangannya sangatlah keren.

“Woahh! Keren banget Rel.”

“Hehe makasih.. Itu ada popcorn sama cemilan lain yaa.. kalo mau tinggal makan aja.”

“Asikk okeee.”

“Ini mau langsung nonton aja kan?” tanya Farrel.

“Iya mulai ajaa.”

Farrel dan Keira sangat antusias saat menonton serial drama Korea “Hometown Cha-Cha-Cha episode yang ke 13. Keira teriak-teriak menyebut nama Hong Dusik yang sangat tampan katanya. Farrel pun juga sangat gemas dengan chemistry Hong Dusik dan juga Yoon Hyejin.

“Yahhh kok abis sih.. gak sabar next episode dehh.” ucap Keira.

“Malem ini kan ya episode 12?”

“Iyaaa.”

“Sekarang mau nonton apalagi nih?” tanya Farrel.

“Lo udah nonton Taxi Driver belum?” tanya Keira.

“Belum Liv. Itu seru ya?”

“Katanya sih seru, drama action gitu. Gue belum nonton.”

“Mau coba nonton gak?”

“Mauuuu!” jawab Keira dengan sangat antusias.

Mereka pun menonton serial drama Korea “Taxi Driver” dengan sangat serius dan bersemangat. Mereka pun tak menyadari berapa jumlah episode yang sudah mereka tonton. Lalu, Farrel sepertinya menyadari bahwa mereka sudah menonton terlalu lama sampai-sampai tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.

“Gak sadar ya kita udah nonton lama bang—

Farrel menghentikan kalimatnya saat melihat Keira sudah tertidur pulas di sampingnya sambil memegang popcorn.

“Lucu banget Oliv.” ucap Farrel.

Farrel’s pov:

Farrel bingung apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus membiarkan Oliv untuk tidur di sofa seperti itu saja atau memindahkannya ke kamar tamu. Farrel akhirnya memutuskan untuk memindahkan Oliv ke kamar tamu dengan cara menggendongnya. Ia khawatir kepala dan leher Oliv akan terasa pegal jika tidur di sofa yang berada di ruang teater. Sesampainya di kamar tamu, Farrel meletakkan tubuh Oliv di kasur dengan perlahan dan menyelimutinya agar tidak kedinginan. Farrel pun langsung berjalan ke arah pintu untuk pergi ke kamarnya, namun tangannya di tahan oleh Oliv.

“Jangan pergi ninggalin aku ya.. please jangan pergi.” ucap Keira.

“Iya gua di sini, Liv.”

Farrel bingung mengapa Oliv bisa mengigau seperti itu. Ia khawatir apakah Oliv sedang berada dalam masalah atau merasa ketakutan akan ada yang meninggalkan dirinya. Farrel hanya bisa terdiam dan memutuskan untuk tidak meninggalkan kamar tamu dan menarik kursi meja belajar yang ada untuk duduk di samping kasur.

“Jangan khawatir Liv, biarpun nanti kita jadi dijodohin atau engga, gua bakal selalu ada buat lo, biarpun hanya sebatas sahabat.” ucap Farrel sambil mengelus kepala Oliv.

Tak sadar ternyata Farrel ketiduran di samping Keira. Posisinya ketiduran sambil duduk. Matahari sudah terbit dan Keira pun terbangun dengan keadaan Farrel yang masih tertidur sambil duduk di sampingnya.

“Rel..”

“Mmm.. Oliv.. udah bangun?”

“Iyaa.. kok gue bisa di sini?”

“Lo ketiduran semalem di ruang teater. Terus takutnya lo pegel kalo tidur di sofa gitu, yaudah gue pindahin aja lo ke sini.”

“Makasih yaa.. by the way lo gak pegel tidur kayak gitu? Kenapa lo gak ke kamar lo aja semalem?”

Farrel ingin sekali memberitahunya bahwa Oliv yang menahan tangan Farrel untuk tidak pergi. Tetapi, Farrel berpikir lebih baik tidak perlu memberitahukan hal itu kepada Oliv. Ia takut Oliv menjadi malu atau ada sesuatu hal yang terjadi sama Oliv tetapi Oliv tidak ingin menceritakan hal itu kepadanya.

“Hmm.. ya gak papa. Yaudah ayo keluar, kita sarapan dulu.”

“Okeey yuk.”

“Rendraaaa! Kok kamu belum bangun sih? gak siap siap kerja?” Haikal yang mendengar perkataan Mamanya tersebut terkejut.

“Kerja? Kan Haikal masih kuliah mah.”

“Kamu ini ngawur ya.. kamu kan detektif nak. Udah sana buruan siap-siap, masa pemimpin tim investigasi telat masuk kerja.”

Haikal mulai merasa ada yang tidak beres. Ia langsung mengecek ponselnya dan menelpon Jia, teman dekatnya. Panggilannya pun tak diangkat oleh Jia. Haikal langsung terburu-buru berangkat ke kantor polisi karena Mamanya terus menyuruhnya berangkat dari tadi. Haikal terus bertanya-tanya dalam hati dan pikirannya. Ia benar-benar bingung sekali dengan apa yang sedang terjadi.

“Pak Rendra, buruan ayo. Kita mau berangkat ke TKP (tempat kejadian perkara). Ada kasus pembunuhan lagi yang baru saja terjadi.” ucap salah satu detektif dari arah parkiran.

Dari sinilah Haikal ingat bahwa karakter yang ia buat di cerita thriller miliknya bernama Narendra dan karakter tersebut adalah seorang detektif.

“Pak, saya bukan Narendra. Saya ini Haikal. Saya seorang mahasiswa dan juga penulis cerita.” ucap Haikal.

“Pak Narendra ini aneh aneh saja. Ayo buruan pak, ikut saja.” Haikal terpaksa ikut karena ditarik oleh rekan kerjanya itu.

Haikal bingung mengapa dirinya bisa berada di dunia fiksi yang ia buat. Tidak hanya itu, bahkan dirinya menjadi karakter utama bernama Narendra yang dirinya sendiri buat.

Mereka sudah sampai di TKP. TKP nya adalah rumah korban. Darah bercucuran dari kepala korban dan perut korban terluka parah. Terdapat pisau tajam di sebelah jasad korban.

“Pak Rendra, sini lihat korbannya.”

Haikal tidak merasa takut atau memiliki rasa mual saat melihat keadaan korban. Haikal sudah biasa melihat hal seperti ini di film, walaupun mungkin sebenarnya rasanya akan berbeda. Tetapi, ia tetap tidak takut. Haikal melihat keadaan korban dengan lebih fokus lagi.

“Loh? Jia? Jiaaaaa bangunn Jia! Ini gua Haikal.. Jia please jangan tinggalin gua, Ji. Siapa yang udah tega bunuh Jia! Jiaaaaaaa!”

Haikal tiba-tiba terbangun dari tidurnya. “Jadi itu semua cuma mimpi?” Haikal bertanya-tanya dalam hatinya. Ia langsung keluar kamar dan meminum segelas air putih untuk menenangkan dirinya.

“Rasanya kayak nyata, tapi kenapa gua mimpi masuk ke dunia au gua? Aneh banget.” Haikal berbicara kepada dirinya sendiri.

Haikal langsung mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada Jia untuk memastikan bahwa Jia benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.

A Sudden Pop-up

Bella sangat terkejut saat melihat orang yang berada di dalam photocard tersebut muncul di hadapannya. Eric yang sangat diidolakan oleh Bella berdiri di depan lemari yang berada di kamar Bella.

“Hah! Kok.. Eric….ini beneran Eric?” tanya Bella kebingungan sekaligus kaget dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“Eh ini saya di mana ya? Kamu siapa?” tanya Eric.

“Saya beli photocard kamu.. saya bingung kok kamu bisa keluar dari kertas saya. Saya fans kamu.” jawab Bella.

“Yaudah lah lupain aja. Nama kamu siapa?” tanya Eric.

“Hah lupain gimana? Namaku Bella.”

“Anggep aja gue lagi nyasar. Ini boleh kan ngomong pake informal?” Eric duduk di sofa yang berada di kamar Bella.

“Boleh.. by the way lo gak dicariin? Coba hubungin keluarga lo atau member yang lain mungkin?” ucap Bella.

Eric tak memedulikan omongan Bella. Besok adalah hari libur bagi Eric dan member lainnya, jadi ia bebas untuk pergi kemana saja.

“Lo umur berapa? Eh.. sorry gak sopan ya gue.. eh.. saya nanya umur.” ucap Eric.

“Aku umur 21”

“Wah! Seumur dong kita..yaudah ngomongnya informal aja ya. Mulai sekarang kita berteman yaa! Mau gak?”

“Mauuu!” jawab Bella.

Bella berinisiatif mengambil camilan untuk Eric, siapa tahu Eric sedang lapar pikirnya.

“Nih ada snacks, mau gak?” Bella menyodorkan snacks ke Eric.

“Mau, makasih yaa!”

“Lo kok bisa keluar dari photocard gue sih?” Bella masih terheran.

“Gue juga gak tau. Emangnya tadi kertasnya lo apain?”

“Gue elus-elus. Abisnya kertasnya ganteng banget.” jawab Bella.

“Pas lo liat gue secara langsung sekarang, ganteng gak? Pasti lah ya gak sih?” Eric dengan percaya diri berkata seperti itu.

“Ih kepedean deh lo. Hahahaha bercanda.. Iya ganteng kok.. ganteng banget malah.” jawab Bella.

“Coba lo elus-elus lagi kertasnya.” suruh Eric.

Bella mengikuti perintah Eric untuk mengelus kertas gambar muka Eric tersebut.

“Lah ilang dia.” ucap Bella. Eric benar-benar menghilang saat Bella mengelus kertasnya.

“Aneh banget.” batin Bella.

Bella mencoba mengelus-elus photocard tersebut kembali. Tiba-tiba ia mendengar kembali suara Eric.

“Hey Bella.. berarti gua bisa main kesini setiap hari dong? Kan cara gue pulang tinggal dielus-elus aja kertasnya.” ucap Eric.

“Hahahaha seriusan mau main kesini setiap hari?”

“Iyaa.. kan lumayan gue punya temen baru. Cantik lagi temen baru gue.” ucap Eric.

“Hehe apaan sih lo, biasa aja kali. Lo tuh yang ganteng.” ucap Bella.

“Bel, elus-elus kertasnya jangan setiap saat ya. Nanti kalo gua lagi kumpul bareng member lain terus gua tiba-tiba ilang kan gak lucu.”

“Iyaaa Eric.”

Eric sebenarnya masih terheran mengapa hal ini bisa terjadi, Bella pun juga. Tetapi mereka pikir, hal ini bukan hal yang buruk. Bella terus menerus berbicara dalam hatinya. Ia merasa sangat amat senang karena ia bisa berteman dengan idolanya sendiri. Eric pun juga merasa senang karena ia bisa mendapatkan teman baru yang ramah dan seru seperti Bella.

Hari demi hari berlalu, Eric dan Bella terus berteman dan bermain bersama layaknya sahabat yang selalu ada untuk satu sama lain. Hingga sudah sekian lama mereka berteman, Bella masih belum mempercayai bahwa hal tersebut benar-benar terjadi. Pikir Bella, ia tak akan pernah jatuh hati kepada Eric, namun ternyata dugaan Bella salah. Ia sebenarnya berharap bahwa hubungannya dengan Eric bisa lebih dari hanya sebatas sahabat.

-chae

Bella sangat terkejut saat melihat orang yang berada di dalam 𝘱𝘩𝘰𝘵𝘰𝘤𝘢𝘳𝘥 tersebut muncul di hadapannya. Eric yang sangat diidolakan oleh Bella berdiri di depan lemari yang berada di kamar Bella.

“Hah! Kok.. Eric….ini beneran Eric?” tanya Bella kebingungan sekaligus kaget dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“Eh ini saya di mana ya? Kamu siapa?” tanya Eric.

“Saya beli 𝘱𝘩𝘰𝘵𝘰𝘤𝘢𝘳𝘥 kamu.. saya bingung kok kamu bisa keluar dari kertas saya. Saya 𝘧𝘢𝘯𝘴 kamu.” jawab Bella.

“Yaudah lah lupain aja. Nama kamu siapa?” tanya Eric.

“Hah lupain gimana? Namaku Bella.”

“Anggep aja gue lagi nyasar. Ini boleh kan ngomong pake informal?” Eric duduk di sofa yang berada di kamar Bella.

“Boleh.. tapi lo gak dicariin? Coba hubungin keluarga lo atau member yang lain mungkin?” ucap Bella.

Eric tak mempedulikan omongan Bella. Besok adalah hari libur bagi Eric dan member lainnya, jadi ia bebas untuk pergi kemana saja.

“Lo umur berapa? Eh.. sorry gak sopan ya gue.. eh.. saya nanya umur.” ucap Eric.

“Aku umur 21”

“Wah! Seumur dong kita..yaudah ngomongnya informal aja ya. Mulai sekarang kita berteman yaa! Mau gak?”

“Mauuu!” jawab Bella.

Bella berinisiatif mengambil camilan untuk Eric, siapa tahu Eric sedang lapar pikirnya.

“Nih ada 𝘴𝘯𝘢𝘤𝘬𝘴, mau gak?” Bella menyodorkan 𝘴𝘯𝘢𝘤𝘬𝘴 ke Eric.

“Mau, makasih yaa!”

“Lo kok bisa keluar dari 𝘱𝘩𝘰𝘵𝘰𝘤𝘢𝘳𝘥 gue sih?” Bella masih terheran.

“Gue juga gak tau. Emangnya tadi kertasnya lo apain?”

“Gue elus-elus.. abisnya kertasnya ganteng banget.” jawab Bella.

“Pas lo liat gue secara langsung sekarang, ganteng gak? Pasti lah ya gak sih?” Eric dengan percaya diri berkata seperti itu.

“Ih kepedean deh lo. Hahahaha bercanda.. Iya ganteng kok.. ganteng banget malah.” jawab Bella.

“Coba lo elus-elus lagi kertasnya.” suruh Eric.

Bella mengikuti perintah yang Eric suruh untuk mengelus kertas gambar muka Eric tersebut.

“Lah ilang dia.” ucap Bella. Eric benar-benar menghilang saat Bella mengelus kertasnya.

“Aneh banget.” batin Bella.

Bella mencoba mengelus-elus 𝘱𝘩𝘰𝘵𝘰𝘤𝘢𝘳𝘥 tersebut kembali. Tiba-tiba ia mendengar kembali suara Eric.

“Hey Bella.. berarti gua bisa main kesini setiap hari dong? Kan cara gue pulang tinggal dielus-elus aja kertasnya.” ucap Eric.

“Hahahaha seriusan mau main kesini setiap hari?”

“Iyaa.. kan lumayan gue punya temen baru. Cantik lagi temen baru gue.” ucap Eric.

“Hehe apaan sih lo, biasa aja kali. Lo tuh yang ganteng.” ucap Bella.

“Bel, elus-elus kertasnya jangan setiap saat ya. Nanti kalo lagi kumpul bareng member lain terus gua tiba-tiba ilang kan gak lucu.”

“Iyaaa Eric.”

Eric sebenarnya masih terheran mengapa hal ini bisa terjadi, Bella pun juga. Tetapi mereka pikir, hal ini bukan hal yang buruk. Bella terus menerus berbicara dalam hatinya. Ia merasa sangat amat senang karena ia bisa berteman dengan idolanya sendiri. Eric pun juga merasa senang karena ia bisa mendapatkan teman baru yang ramah dan seru seperti Bella.

Hari demi hari berlalu, Eric dan Bella terus berteman dan bermain bersama layaknya sahabat yang selalu ada untuk satu sama lain. Hingga sudah sekian lama mereka berteman, Bella masih belum mempercayai bahwa hal tersebut benar-benar terjadi. Pikir Bella, ia tak akan pernah jatuh hati kepada Eric, namun ternyata dugaan Bella salah. Ia sebenarnya berharap bahwa hubungannya dengan Eric bisa lebih dari hanya sebatas sahabat.